Myanmar Tolak Tawaran ASEAN
Rabu, 31 Oktober 2012 - 09:53 WIB
Myanmar Tolak Tawaran ASEAN
A
A
A
Sindonews.com - Myanmar menolak tawaran Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk membuka perundingan yang ditujukan untuk meredam kekerasan komunal yang melanda negara bagian Rakhine.
Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan kemarin memaparkan, ASEAN telah mengusulkan membuka perundingan tripartit antara blok regional itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan pemerintahan reformis Myanmar untuk mencegah dampak regional kekerasan. Tapi,Myanmar menolak tawaran untuk membahas pertumpahan darah di Rakhine yang telah menyebabkan sekitar 180 orang tewas sejak Juni lalu.
“Myanmar yakin itu adalah masalah dalam negeri mereka. Tapi, masalah internal mereka ini bisa menjadi masalah kami jika mereka tidak hati-hati,” ujar Surin kepada wartawan dalam sebuah forum di Kuala Lumpur,seperti dikutip AFP. Sebelumnya di Jakarta Surin memaparkan, Myanmar menghadapi tekanan,sakit dan penderitaan tak terkira atas konflik antara etnis Rakhine dan etnis Rohingya di Rakhine.
“Kalau komunitas internasional, termasuk ASEAN, tidak mampu memulihkan tekanan dan rasa sakit itu,(Rohingya) bisa teradikalisasi dan seluruh kawasan bisa tidak stabil, termasuk Selat Malaka,”papar Surin. ASEAN berada dalam posisi yang menawarkan bantuan kemanusiaan kepada Myanmar seperti yang dilakukan blok itu setelah Siklon Nargis menghantam Myanmar dan menewaskan 138.000 orang pada 2008.“Kita lihat apa yang bisa kami lakukan untuk memulihkan mereka dari kemiskinan, kekurangan pangan, penampungan dan sanitasi,” imbuh Surin.
Permusuhan lama antara Rakhine dan Rohingya meledak pada Juni lalu setelah seorang wanita etnis Rakhine yang diperkosa dan dibunuh memicu serangkaian serangan balas dendam dahsyat. Kekerasan itu pun telah memicu seruan internasional, misalnya PBB yang memperingatkan bahwa kekerasan bisa membahayakan reformasi di Myanmar.
Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan kemarin memaparkan, ASEAN telah mengusulkan membuka perundingan tripartit antara blok regional itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan pemerintahan reformis Myanmar untuk mencegah dampak regional kekerasan. Tapi,Myanmar menolak tawaran untuk membahas pertumpahan darah di Rakhine yang telah menyebabkan sekitar 180 orang tewas sejak Juni lalu.
“Myanmar yakin itu adalah masalah dalam negeri mereka. Tapi, masalah internal mereka ini bisa menjadi masalah kami jika mereka tidak hati-hati,” ujar Surin kepada wartawan dalam sebuah forum di Kuala Lumpur,seperti dikutip AFP. Sebelumnya di Jakarta Surin memaparkan, Myanmar menghadapi tekanan,sakit dan penderitaan tak terkira atas konflik antara etnis Rakhine dan etnis Rohingya di Rakhine.
“Kalau komunitas internasional, termasuk ASEAN, tidak mampu memulihkan tekanan dan rasa sakit itu,(Rohingya) bisa teradikalisasi dan seluruh kawasan bisa tidak stabil, termasuk Selat Malaka,”papar Surin. ASEAN berada dalam posisi yang menawarkan bantuan kemanusiaan kepada Myanmar seperti yang dilakukan blok itu setelah Siklon Nargis menghantam Myanmar dan menewaskan 138.000 orang pada 2008.“Kita lihat apa yang bisa kami lakukan untuk memulihkan mereka dari kemiskinan, kekurangan pangan, penampungan dan sanitasi,” imbuh Surin.
Permusuhan lama antara Rakhine dan Rohingya meledak pada Juni lalu setelah seorang wanita etnis Rakhine yang diperkosa dan dibunuh memicu serangkaian serangan balas dendam dahsyat. Kekerasan itu pun telah memicu seruan internasional, misalnya PBB yang memperingatkan bahwa kekerasan bisa membahayakan reformasi di Myanmar.
(esn)