Israel bom pabrik amunisi, Sudan tetap dukung Palestina
Selasa, 30 Oktober 2012 - 16:55 WIB
Israel bom pabrik amunisi, Sudan tetap dukung Palestina
A
A
A
Sindonews.com - Pembantu Presiden Sudan, Nafia Ali Nafia, mengatakan, Sudan akan terus membantu perjuangan saudara-saudara muslim di Palestina, meski pabrik amunisi milik Sudan, Yarmouk, telah menjadi sasaran roket jet Israel.
"Serangan udara Israel tidak akan memaksa Sudan mencabut dukungan atas perjuangan saudara-saudara di Palestina," ungkap Nafia seperti diberitakan dalam RIA Novosti, Selasa (30/10/2012).
Pasca serang itu, Pemerintah Sudan langsung mencurigai Israel sebagai pelaku dibalik serangan ini. Namun, oposisi Sudan mengatakan, serangan Israel ke Sudan mewakili sebuah proaganda, yakni adanya musuh eksternal yang berfungsi membakar perasaan nasionalis penduduk Sudan.
Sebuah kabar berhembus, bahwa pabrik amunisi tersebut digunakan oleh Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk memproduksi senjata bagi kelompok Hamas yang berkuasa di Gaza.
Menteri Kebudayaan dan Informasi Sudan, Ahmed Bilal Osman dalam jumpa persnya di Khartoum, Rabu (24/10) menuturkan, kebakaran dan ledakan di pabrik amunisi Yarmouk terjadi setelah empat pesawat menyerang dari arah Timur pabrik.
"Serangan tersebut menghancurkan bagian infrastruktur yang terdapat dalam pabrik. Dua orang karyawan pabrik ditemukan tewas dan beberapa korban luka kini berada dalam kondisi kritis,” jelas Osman.
Tercatat, sudah tiga kali Israel melancarkan serangan ke Sudan. Pada April 2011, Sudan meminta Israel bertanggung jawab atas serangan udara yang menewaskan dua orang yang berada dalam sebua mobilh dekat kota pelabuhan di Sudan. Sebelumnya, pada 2009, Israel juga disalahkan atas serangan terhadap konvoi pasukan di Utara Sudan.
Dalam ketiga serangan tersebut, Pemerintah Israel memilih bungkam. Israel meyakini, bahwa Sudan adalah basis kelompok Hamas dan membantu menyuplai senjata ke Jalur Gaza.
"Serangan udara Israel tidak akan memaksa Sudan mencabut dukungan atas perjuangan saudara-saudara di Palestina," ungkap Nafia seperti diberitakan dalam RIA Novosti, Selasa (30/10/2012).
Pasca serang itu, Pemerintah Sudan langsung mencurigai Israel sebagai pelaku dibalik serangan ini. Namun, oposisi Sudan mengatakan, serangan Israel ke Sudan mewakili sebuah proaganda, yakni adanya musuh eksternal yang berfungsi membakar perasaan nasionalis penduduk Sudan.
Sebuah kabar berhembus, bahwa pabrik amunisi tersebut digunakan oleh Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) untuk memproduksi senjata bagi kelompok Hamas yang berkuasa di Gaza.
Menteri Kebudayaan dan Informasi Sudan, Ahmed Bilal Osman dalam jumpa persnya di Khartoum, Rabu (24/10) menuturkan, kebakaran dan ledakan di pabrik amunisi Yarmouk terjadi setelah empat pesawat menyerang dari arah Timur pabrik.
"Serangan tersebut menghancurkan bagian infrastruktur yang terdapat dalam pabrik. Dua orang karyawan pabrik ditemukan tewas dan beberapa korban luka kini berada dalam kondisi kritis,” jelas Osman.
Tercatat, sudah tiga kali Israel melancarkan serangan ke Sudan. Pada April 2011, Sudan meminta Israel bertanggung jawab atas serangan udara yang menewaskan dua orang yang berada dalam sebua mobilh dekat kota pelabuhan di Sudan. Sebelumnya, pada 2009, Israel juga disalahkan atas serangan terhadap konvoi pasukan di Utara Sudan.
Dalam ketiga serangan tersebut, Pemerintah Israel memilih bungkam. Israel meyakini, bahwa Sudan adalah basis kelompok Hamas dan membantu menyuplai senjata ke Jalur Gaza.
(esn)