Korban konflik di Rakhine terus meningkat
Selasa, 30 Oktober 2012 - 08:32 WIB
Korban konflik di Rakhine terus meningkat
A
A
A
Sindonews.com - Hingga kemarin tercatat telah ada 88 orang yang tewas dalam bentrokan berdarah sektarian di Myanmar yang terjadi selama bulan ini dengan lebih dari 26.000 lainnya terpaksa meninggalkan kawasan yang dilanda gelombang penjarahan dan pembakaran itu.
Ratusan lebih rumah dibakar selama akhir pekan di saat pasukan keamana berusaha menghentikan bentrokan antara etnik Rakhine dan Rohingya di negara bagian Rakhine di timur negara itu. “Total ada 49 pria dan 39 wanita tewas,” papar seorang pejabat pemerintah kepada AFP.“Sekitar 300 rumah dibakar di Kota Pauktaw pada Minggu (28/10) tapi tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Angka korban jiwa terakhir itu membuat jumlah total korban tewas akibat kekerasan yang pecah pada Juni lalu itu mencapai 180 jiwa.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) mengkhawatirkan peningkatan jumlah korban tewas. Permusuhan antara kedua etnis meledak pada Juni lalu setelah dugaan pembunuhan dan perkosaan terhadap seorang wanita Rakhine memicu serangan balas dendam yang kejam. Bentrokan terbaru itu telah menyebabkan peningkatan jumlah kapal yang mengangkut ribuan orang ke ibu kota Rakhine, Sittwe.
“Ini tidak bagus bagi keamanan kota karena ribuan orang datang,”ujar pejabat lain pemerintah.“Kami tidak ingin melihat ada bentrokan di sini, jadi para pengungsi baru seharusnya dikirim ke tempat lain.Pemerintah pusat dan lokal akan mengaturnya.” Bentrokan ini telah memicu meningkatnya seruan internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memperingatkan kondisi itu bisa mengancam reformasi yang sedang dilakukan negara.
PBB sudah membantu sekitar 75.000 orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka selama kekerasan pada awal Juni. Sebagian besar dari mereka tinggal di kamp-kamp darurat.
Ratusan lebih rumah dibakar selama akhir pekan di saat pasukan keamana berusaha menghentikan bentrokan antara etnik Rakhine dan Rohingya di negara bagian Rakhine di timur negara itu. “Total ada 49 pria dan 39 wanita tewas,” papar seorang pejabat pemerintah kepada AFP.“Sekitar 300 rumah dibakar di Kota Pauktaw pada Minggu (28/10) tapi tidak ada korban jiwa dalam insiden itu. Angka korban jiwa terakhir itu membuat jumlah total korban tewas akibat kekerasan yang pecah pada Juni lalu itu mencapai 180 jiwa.
Kelompok hak asasi manusia (HAM) mengkhawatirkan peningkatan jumlah korban tewas. Permusuhan antara kedua etnis meledak pada Juni lalu setelah dugaan pembunuhan dan perkosaan terhadap seorang wanita Rakhine memicu serangan balas dendam yang kejam. Bentrokan terbaru itu telah menyebabkan peningkatan jumlah kapal yang mengangkut ribuan orang ke ibu kota Rakhine, Sittwe.
“Ini tidak bagus bagi keamanan kota karena ribuan orang datang,”ujar pejabat lain pemerintah.“Kami tidak ingin melihat ada bentrokan di sini, jadi para pengungsi baru seharusnya dikirim ke tempat lain.Pemerintah pusat dan lokal akan mengaturnya.” Bentrokan ini telah memicu meningkatnya seruan internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memperingatkan kondisi itu bisa mengancam reformasi yang sedang dilakukan negara.
PBB sudah membantu sekitar 75.000 orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka selama kekerasan pada awal Juni. Sebagian besar dari mereka tinggal di kamp-kamp darurat.
(esn)