723 penjaga perbatasan Bangladesh dijebloskan ke penjara
Minggu, 21 Oktober 2012 - 17:32 WIB
723 penjaga perbatasan Bangladesh dijebloskan ke penjara
A
A
A
Sindonews.com - Pengadilan Bangladesh menjatuhkan hukuman penjara bagi 723 orang penjaga perbatasan. Pengadilan memutuskan para terdakwa bersalah karena bergabung dan memimpin pemberontakan.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Sabtu (20/10/2012), hukuman ini dijatuhkan atas peranan para penjaga perbatasan itu dalam pemberontakan berdarah pada 2009 silam yang mengakibatkan 74 orang tewas. Di antara korban yang tewas adalah 57 perwira militer senior.
"Secara keseluruhan, 735 penjaga perbatasan didakwa. Dua meninggal selama persidangan dan 10 dibebaskan," kata jaksa Gazi Zillur Rahman kepada kantor berita AFP. "Dari 723 tentara yang terbukti bersalah, 64 tentara dihukum tujuh tahun penjara," tambah Rahman.
Pengadilan mengatakan, putusan ini adalah bagian akhir dari persidangan yang digelar untuk mengadili keterlibatan militer dalam pemberontakan berdarah di tahun 2009. Secara total, ada 6000 orang yang terkait aksi ini yang telah dijebloskan ke penjara.
Human Rights Watch (HRW) telah mengecam persidangan ini. Mereka mengatakan, sejumlah tersangka meninggal dalam tahanan dan lainnya dipukuli serta disiksa. Namun, pihak militer menyebut tuduhan HRW itu tak berdasar. Militer Bangladesh menyatakan, sejumlah tersangka meninggal karena serangan jantung atau sebab alami lainnya.
Para pejabat Bangladesh mengatakan, penjaga perbatasan yang dituduh melakukan pelanggaran yang lebih serius, seperti pembunuhan, sedang diadili secara terpisah dan bisa menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah.
Pemberontakan yang yang terjadi pada 2009 di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, ini berlangsung selama 33 jam. Anggota Penjaga Perbatasan dari seluruh Bangaldesh ikut serta dalam aksi pemberontakan ini. Insiden ini jadi aksi pemberontakan terbesar yang dilakukan oleh angkatan bersenjata dalam sejarah negara itu.
Seperti dikutip dari BBC.co.uk, Sabtu (20/10/2012), hukuman ini dijatuhkan atas peranan para penjaga perbatasan itu dalam pemberontakan berdarah pada 2009 silam yang mengakibatkan 74 orang tewas. Di antara korban yang tewas adalah 57 perwira militer senior.
"Secara keseluruhan, 735 penjaga perbatasan didakwa. Dua meninggal selama persidangan dan 10 dibebaskan," kata jaksa Gazi Zillur Rahman kepada kantor berita AFP. "Dari 723 tentara yang terbukti bersalah, 64 tentara dihukum tujuh tahun penjara," tambah Rahman.
Pengadilan mengatakan, putusan ini adalah bagian akhir dari persidangan yang digelar untuk mengadili keterlibatan militer dalam pemberontakan berdarah di tahun 2009. Secara total, ada 6000 orang yang terkait aksi ini yang telah dijebloskan ke penjara.
Human Rights Watch (HRW) telah mengecam persidangan ini. Mereka mengatakan, sejumlah tersangka meninggal dalam tahanan dan lainnya dipukuli serta disiksa. Namun, pihak militer menyebut tuduhan HRW itu tak berdasar. Militer Bangladesh menyatakan, sejumlah tersangka meninggal karena serangan jantung atau sebab alami lainnya.
Para pejabat Bangladesh mengatakan, penjaga perbatasan yang dituduh melakukan pelanggaran yang lebih serius, seperti pembunuhan, sedang diadili secara terpisah dan bisa menghadapi hukuman mati jika terbukti bersalah.
Pemberontakan yang yang terjadi pada 2009 di Ibu Kota Bangladesh, Dhaka, ini berlangsung selama 33 jam. Anggota Penjaga Perbatasan dari seluruh Bangaldesh ikut serta dalam aksi pemberontakan ini. Insiden ini jadi aksi pemberontakan terbesar yang dilakukan oleh angkatan bersenjata dalam sejarah negara itu.
(esn)