Jam malam diberlakukan bagi tentara AS di Okinawa
Minggu, 21 Oktober 2012 - 17:08 WIB
Jam malam diberlakukan bagi tentara AS di Okinawa
A
A
A
Sindonews.com – Militer Amerika Serikat (AS) memberlakukan jam malam bagi para anggota mereka yang ditugaskan di Okinawa, Jepang. Seperti dikutip dari CNN.com, Sabtu (20/10/2012), jam malam ini berlaku sejak pukul 11 malam hingga 5 pagi.
Para anggota militer AS dilarang mengunjungi pusat keramaian, rumah, atau hotel selama jam malam. Mereka harus tetap ada di pangkalan atau pos-pos militer selama jam malam diberlakukan.
Keputusan pemberlakuan jam malam ini menyusul peristiwa pemerkosaan yang dilakukan dua personel Angkatan Laut (AL) AS di Okinawa, Christopher Browning dan Skyler Dozierwalker pada seorang wanita di Okinawa. Aksi pemerkosaan itu terjadi pada Selasa (16/10/2012) pukul 4 dini hari waktu setempat.
Komandan pasukan AS di Jepang, Letnan Jenderal Salvatore Angelella, telah menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya insiden ini. "Saya secara pribadi ingin meminta maaf atas kesedihan dan trauma korban," kata Angelella.
Kasus perkosaan yang dilakukan anggota militer AS terhadap warga Okinawa bukan kali pertama terjadi. Pada 1995, aksi protes besar-besaran terjadi di Okinawa, setelah tiga prajurit AS melakukan perkosaan pada seorang siswi sekolah berusia 12 tahun.
Pada 2008, seorang Marinir AS ditangkap atas tuduhan menyerang dan menganiaya seorang wanita di Naha, Ibu Kota Okinawa. Okinawa menjadi tuan rumah dari sekitar 250 ribu pasukan AS. Banyak warga Jepang yang ingin militer AS segera angkat kaki dari pulau itu.
Para anggota militer AS dilarang mengunjungi pusat keramaian, rumah, atau hotel selama jam malam. Mereka harus tetap ada di pangkalan atau pos-pos militer selama jam malam diberlakukan.
Keputusan pemberlakuan jam malam ini menyusul peristiwa pemerkosaan yang dilakukan dua personel Angkatan Laut (AL) AS di Okinawa, Christopher Browning dan Skyler Dozierwalker pada seorang wanita di Okinawa. Aksi pemerkosaan itu terjadi pada Selasa (16/10/2012) pukul 4 dini hari waktu setempat.
Komandan pasukan AS di Jepang, Letnan Jenderal Salvatore Angelella, telah menyampaikan permohonan maaf atas terjadinya insiden ini. "Saya secara pribadi ingin meminta maaf atas kesedihan dan trauma korban," kata Angelella.
Kasus perkosaan yang dilakukan anggota militer AS terhadap warga Okinawa bukan kali pertama terjadi. Pada 1995, aksi protes besar-besaran terjadi di Okinawa, setelah tiga prajurit AS melakukan perkosaan pada seorang siswi sekolah berusia 12 tahun.
Pada 2008, seorang Marinir AS ditangkap atas tuduhan menyerang dan menganiaya seorang wanita di Naha, Ibu Kota Okinawa. Okinawa menjadi tuan rumah dari sekitar 250 ribu pasukan AS. Banyak warga Jepang yang ingin militer AS segera angkat kaki dari pulau itu.
(esn)