Oposisi Kuwait akan boikot Pemilu
Minggu, 21 Oktober 2012 - 15:41 WIB
Oposisi Kuwait akan boikot Pemilu
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Kuwait telah menetapkan jadwal pemilu di negara itu pada 1 Desember mendatang. Namun, pihak oposisi menegaskan akan memboikot pemilu. Seperti dilaporkan The Star, Minggu (21/10/2012), ancaman boikot ini dikeluarkan setelah setelah kabinet mengumumkan tanggal pemilu dan perubahan sistem pemungutan suara pada Sabtu (20/10/2012).
“Perubahan undang-undang pemilu adalah kudeta terhadap konstitusi dan kami menyerukan aksi protes,” kata seorang politisi dari pihak oposisi, Ahmed al-Dayen. Kubu oposisi di Kuwait memang cukup kuat. Sebab, mereka menguasai mayoritas parlemen.
Kabinet memerintahkan perubahan prosedur pemilihan yang memungkinkan pemilih hanya memilih satu calon di suatu daerah pemilihan. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat. Kali terakhir diadakan pemilihan anggota Parlemen adalah pada Februari silam.
Sistem politik di Kuwait telah dilanda gejolak sejak awal bulan ini. Gejolak terjadi setelah Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah, membubarkan parlemen pada 7 Oktober. Pembubaran ini menandakan, bahwa pemilu harus berlangsung pada pertengahan Desember.
Ini adalah pembubaran Parlemen ke enam kalinya sejak awal 2006 di negara penghasil minyak yang juga sekutu Amerika Serikat itu. Friksi terjadi antara pihak pemerintah, yang dikendalikan oleh keluarga yang berkuasa dengan parlemen yang didominasi oleh tokoh-tokoh Islam dan perwakilan suku-suku.
“Perubahan undang-undang pemilu adalah kudeta terhadap konstitusi dan kami menyerukan aksi protes,” kata seorang politisi dari pihak oposisi, Ahmed al-Dayen. Kubu oposisi di Kuwait memang cukup kuat. Sebab, mereka menguasai mayoritas parlemen.
Kabinet memerintahkan perubahan prosedur pemilihan yang memungkinkan pemilih hanya memilih satu calon di suatu daerah pemilihan. Sebelumnya, seorang pemilih berhak memilih empat kandidat. Kali terakhir diadakan pemilihan anggota Parlemen adalah pada Februari silam.
Sistem politik di Kuwait telah dilanda gejolak sejak awal bulan ini. Gejolak terjadi setelah Emir Kuwait, Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah, membubarkan parlemen pada 7 Oktober. Pembubaran ini menandakan, bahwa pemilu harus berlangsung pada pertengahan Desember.
Ini adalah pembubaran Parlemen ke enam kalinya sejak awal 2006 di negara penghasil minyak yang juga sekutu Amerika Serikat itu. Friksi terjadi antara pihak pemerintah, yang dikendalikan oleh keluarga yang berkuasa dengan parlemen yang didominasi oleh tokoh-tokoh Islam dan perwakilan suku-suku.
(esn)