Skandal korupsi terbesar di Brasil
Sabtu, 06 Oktober 2012 - 13:23 WIB
Skandal korupsi terbesar di Brasil
A
A
A
Sindonews.com - Dua hakim Mahkamah Agung (MA) terpecah dalam menangani kasus skandal korupsi yang melibatkan tangan kanan mantan Presiden Brasil Lula da Silva, Jose Dirceu.
Dirceu dinyatakan tidak bersalah oleh Hakim Ricardo Lewandowski, yang mengatakan tidak ada cukup bukti yang mengarah padanya. Sementara Hakim Joaquim Barbosa pada Rabu (3/10), memutuskan Dirceu memainkan peran sentral dalam skandal yang disebut Mensalao atau pembayaran bulanan yang besar.
Sebanyak 10 hakim MA kembali membahas putusan kasus tersebut. Jika dia dinyatakan bersalah oleh mayoritas hakim,Dirceu akan menghadapi hukuman penjara.
Dirceu yang tetap menyangkal melakukan kesalahan itu merupakan kepala staf Lula pada 2003 dan 2005, saat dia mengundurkan diri. Ini merupakan skandal korupsi terbesar di Brasil dan mengguncang pemerintahan. Dakwaan utama terhadap Dirceu adalah pembayaran ilegal kepada anggota kongres agar mendukung pemerintah.
“Saya tidak mengesampingkan kemungkinan. Pada prinsipnya, dia mengambil bagian dalam operasi skandal itu.Akan tetapi, itu semua didasarkan pada desas-desus dan asumsi. Tuduhan terhadap mantan kepala staf itu bermotif politik,” kata Hakim Ricardo Lewandowski, dikutip BBC.
Sementara itu dua hakim lainnya, Rosa Weber dan Luis Fux, mendapat temuan-temuan baru dan memutuskan Dirceu bersalah dalam skandal korupsi tersebut. Dalam kasus Mensalao ini, terdapat 37 terdakwa yang diadili.
Kasus ini menjadi ujian bagi kemampuan Brasil menahan para politisi yang terlibat skandal korupsi. Beberapa terdakwa merupakan politikus dan eksekutif bisnis, yang berpendapat kasus ini dieksploitasi politisi dan media. Mereka menyangkal terlibat skandal tersebut.
”Skema itu hanya cara untuk membayar utang kampanye ilegal yang umum dalam politik di Brasil,” kata para terdakwa,dikutip BBC. Sementara itu, Lula da Silva membantah terlibat skandal tersebut. Lula melepas jabatannya akhir 2010, namun dia tetap populer dalam kehidupan politik Brasil.Kendati demikian, para pengamat mengatakan bahwa serangkaian dakwaan dan putusan pengadilan akan tetap menodai reputasinya.
Kasus Mensalao ini dapat menjadi pertimbangan publik dalam memberikan dukungannya pada pemilu lokal wali kota Sao Paulo, kota terbesar di Brasil, pada Minggu (7/10) mendatang.
Dirceu dinyatakan tidak bersalah oleh Hakim Ricardo Lewandowski, yang mengatakan tidak ada cukup bukti yang mengarah padanya. Sementara Hakim Joaquim Barbosa pada Rabu (3/10), memutuskan Dirceu memainkan peran sentral dalam skandal yang disebut Mensalao atau pembayaran bulanan yang besar.
Sebanyak 10 hakim MA kembali membahas putusan kasus tersebut. Jika dia dinyatakan bersalah oleh mayoritas hakim,Dirceu akan menghadapi hukuman penjara.
Dirceu yang tetap menyangkal melakukan kesalahan itu merupakan kepala staf Lula pada 2003 dan 2005, saat dia mengundurkan diri. Ini merupakan skandal korupsi terbesar di Brasil dan mengguncang pemerintahan. Dakwaan utama terhadap Dirceu adalah pembayaran ilegal kepada anggota kongres agar mendukung pemerintah.
“Saya tidak mengesampingkan kemungkinan. Pada prinsipnya, dia mengambil bagian dalam operasi skandal itu.Akan tetapi, itu semua didasarkan pada desas-desus dan asumsi. Tuduhan terhadap mantan kepala staf itu bermotif politik,” kata Hakim Ricardo Lewandowski, dikutip BBC.
Sementara itu dua hakim lainnya, Rosa Weber dan Luis Fux, mendapat temuan-temuan baru dan memutuskan Dirceu bersalah dalam skandal korupsi tersebut. Dalam kasus Mensalao ini, terdapat 37 terdakwa yang diadili.
Kasus ini menjadi ujian bagi kemampuan Brasil menahan para politisi yang terlibat skandal korupsi. Beberapa terdakwa merupakan politikus dan eksekutif bisnis, yang berpendapat kasus ini dieksploitasi politisi dan media. Mereka menyangkal terlibat skandal tersebut.
”Skema itu hanya cara untuk membayar utang kampanye ilegal yang umum dalam politik di Brasil,” kata para terdakwa,dikutip BBC. Sementara itu, Lula da Silva membantah terlibat skandal tersebut. Lula melepas jabatannya akhir 2010, namun dia tetap populer dalam kehidupan politik Brasil.Kendati demikian, para pengamat mengatakan bahwa serangkaian dakwaan dan putusan pengadilan akan tetap menodai reputasinya.
Kasus Mensalao ini dapat menjadi pertimbangan publik dalam memberikan dukungannya pada pemilu lokal wali kota Sao Paulo, kota terbesar di Brasil, pada Minggu (7/10) mendatang.
(aww)