Mogok massal guncang India
Jum'at, 21 September 2012 - 09:08 WIB
Mogok massal guncang India
A
A
A
Sindonews.com - Buruh,pedagang dan penjaga toko di India kemarin memblokade jalur kereta api dan menutup pasar. Mereka memprotes kebijakan reformasi pemerintahan yang memberi izin perusahaan ritel raksasa asing masuk ke negara itu.
Pemerintahan Perdana Menteri (PM) India Manmohan Singh menggulirkan kebijakan reformasi yang mengizinkan Walmart dan Tesco masuk ke negara tersebut. Upaya itu langsung ditentang partai-partai oposisi dan serikat perdagangan. Mereka menyerukan mogok massal di penjuru negeri. Ribuan polisi ditempatkan di Kalkuta,Negara Bagian West Bengal, untuk mencegah aksi kekerasan di toko, pasar, dan perkantoran.
Aksi mogok massal itu berlangsung selama 24 jam. “Pelayanan kereta api terganggu di West Bengal karena pengunjuk rasa menutup jalur kereta api,” kata Samir Goswami,pejabat hubungan masyarakat wilayah West Bengal kepada AFP.
Selain jalur kereta,menurut petugas kepolisian, demonstran juga memblokade beberapa jalan bebas hambatan. Sementara, aktivis dari partai oposisi Partai Bharatiya Janata (BJP) dan aliansinya berkumpul di stasiun-stasiun kereta di negara bagian Bihar. Mereka memaksa semua kereta berhenti sehingga ribuan penumpang terkatung-katung karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.
“Demonstran menargetkan stasiun-stasiun kereta. Kita memperkirakan mereka bakal berdemonstrasi di perkantoran dan pertokoan,”kata Ravinder Kumar, petugas polisi di Patna, ibu kota Negara bagian Bihar.
Semua sekolah swasta di Bihar juga ditutup karena terjadi unjuk rasa.Namun, sekolah milik pemerintah dan kantor pemerintahan tetap beroperasi. Unjuk rasa juga terjadi di Kota Patna, Allahabad, dan Varanasi di India bagian utara.
Bus-bus, sekolah, hotel dan tempat-tempat usaha lain berhenti beroperasi di negara bagian Karnataka yang dikuasai BJP.Supir bus dan truk juga menggelar mogok sebagai protes kenaikan bahan bakar solar sebesar 12%,kemarin.
Reuters melaporkan, perusahaan berbasis teknologi informasi di Hyderabad dan Andhra Pradesh juga banyak meliburkan karyawannya. Di Bangalore, sebanyak 3.500 karyawan Intel Corp dan 10.000 staf Cisco Systems menuntut libur. Namun, ibu kota finansial India, Mumbai, tidak terkena dampak aksi mogok nasional. Itu disebabkan karena partai partai lokal tidak memberikan dukungan terhadap aksi mogok kerja massal tersebut.
Konfederasi Pedagang Seluruh India (CAIT) memprediksi sekitar 50 juta orang ikut berpartisipasi dalam demonstrasi melawan kebijakan memberi izin ritel asing yang diusung PM Singh. Banyak pemilik bisnis kecil dan pekerja khawatir masuknya supermarket-supermarket asing bakal membuat bisnis kecil bangkrut. Mereka khawatir,perusahaan-perusahaan ritel raksasa bisa menarik konsumen dengan menawarkan harga murah sehingga pasar-pasar tradisional semakin sepi.
“Perusahaan multinasional akan menghancurkan ekonomi dan struktur sosial negara kita dan akan berdampak besar terhadap pedagang, pekerja angkutan, petani dan bagian- bagian lain yang terlibat dalam jaringan perdagangan eceran,”kata Kepala CAIT Praveen Khandelwal.
Para pedagang kecil dan asosiasi pedagang menentang keras rencana pemerintah mengizinkan jaringan supermarket asing masuk ke sektor eceran di India.
“Perusahaan perusahaan besar itu bisa menarik konsumen dengan menawarkan harga yang lebih murah. Ini artinya banyak warga akan kehilangan lapangan kerja,” kata seorang pedagang di Delhi,Deepak Sethi.
Pemerintahan Perdana Menteri (PM) India Manmohan Singh menggulirkan kebijakan reformasi yang mengizinkan Walmart dan Tesco masuk ke negara tersebut. Upaya itu langsung ditentang partai-partai oposisi dan serikat perdagangan. Mereka menyerukan mogok massal di penjuru negeri. Ribuan polisi ditempatkan di Kalkuta,Negara Bagian West Bengal, untuk mencegah aksi kekerasan di toko, pasar, dan perkantoran.
Aksi mogok massal itu berlangsung selama 24 jam. “Pelayanan kereta api terganggu di West Bengal karena pengunjuk rasa menutup jalur kereta api,” kata Samir Goswami,pejabat hubungan masyarakat wilayah West Bengal kepada AFP.
Selain jalur kereta,menurut petugas kepolisian, demonstran juga memblokade beberapa jalan bebas hambatan. Sementara, aktivis dari partai oposisi Partai Bharatiya Janata (BJP) dan aliansinya berkumpul di stasiun-stasiun kereta di negara bagian Bihar. Mereka memaksa semua kereta berhenti sehingga ribuan penumpang terkatung-katung karena tidak bisa melanjutkan perjalanan.
“Demonstran menargetkan stasiun-stasiun kereta. Kita memperkirakan mereka bakal berdemonstrasi di perkantoran dan pertokoan,”kata Ravinder Kumar, petugas polisi di Patna, ibu kota Negara bagian Bihar.
Semua sekolah swasta di Bihar juga ditutup karena terjadi unjuk rasa.Namun, sekolah milik pemerintah dan kantor pemerintahan tetap beroperasi. Unjuk rasa juga terjadi di Kota Patna, Allahabad, dan Varanasi di India bagian utara.
Bus-bus, sekolah, hotel dan tempat-tempat usaha lain berhenti beroperasi di negara bagian Karnataka yang dikuasai BJP.Supir bus dan truk juga menggelar mogok sebagai protes kenaikan bahan bakar solar sebesar 12%,kemarin.
Reuters melaporkan, perusahaan berbasis teknologi informasi di Hyderabad dan Andhra Pradesh juga banyak meliburkan karyawannya. Di Bangalore, sebanyak 3.500 karyawan Intel Corp dan 10.000 staf Cisco Systems menuntut libur. Namun, ibu kota finansial India, Mumbai, tidak terkena dampak aksi mogok nasional. Itu disebabkan karena partai partai lokal tidak memberikan dukungan terhadap aksi mogok kerja massal tersebut.
Konfederasi Pedagang Seluruh India (CAIT) memprediksi sekitar 50 juta orang ikut berpartisipasi dalam demonstrasi melawan kebijakan memberi izin ritel asing yang diusung PM Singh. Banyak pemilik bisnis kecil dan pekerja khawatir masuknya supermarket-supermarket asing bakal membuat bisnis kecil bangkrut. Mereka khawatir,perusahaan-perusahaan ritel raksasa bisa menarik konsumen dengan menawarkan harga murah sehingga pasar-pasar tradisional semakin sepi.
“Perusahaan multinasional akan menghancurkan ekonomi dan struktur sosial negara kita dan akan berdampak besar terhadap pedagang, pekerja angkutan, petani dan bagian- bagian lain yang terlibat dalam jaringan perdagangan eceran,”kata Kepala CAIT Praveen Khandelwal.
Para pedagang kecil dan asosiasi pedagang menentang keras rencana pemerintah mengizinkan jaringan supermarket asing masuk ke sektor eceran di India.
“Perusahaan perusahaan besar itu bisa menarik konsumen dengan menawarkan harga yang lebih murah. Ini artinya banyak warga akan kehilangan lapangan kerja,” kata seorang pedagang di Delhi,Deepak Sethi.
(aww)