Iran akui pasukan elitenya di Suriah
Senin, 17 September 2012 - 09:26 WIB
Iran akui pasukan elitenya di Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Iran untuk pertama kalinya mengakui pasukan elitenya berada di Suriah dan Lebanon sebagai “penasihat.”
Komandan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari menjelaskan dalam konferensi pers di Teheran kemarin bahwa anggota unit elite operasi khusus, Pasukan Quds,berada di Suriah dan Lebanon.
Namun, dia menekankan bahwa mereka berada di sana hanya untuk memberikan nasihat dan saran. “Beberapa anggota Pasukan Quds berada di Suriah dan Lebanon. Kami memberikan saran dan nasihat,serta berbagi pengalaman dengan mereka.
Tapi, itu tidak berarti kami memiliki kehadiran militer di sana,” ujar Jafari,dikutip AFP. Sejumlah negara-negara Baratdan Arab menuduh Iran memberikan bantuan militer pada rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Namun, selama ini tuduhan tersebut disangkal Iran. Sementara, Utusan Liga Arab dan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Lakhdar Brahimi bertemu Presiden Assad di Damaskus.Setelah pertemuan itu, Brahimi memperingatkan bahwa konflik Suriah mengancam kawasan Timur Tengah dan dunia.
“Krisis ini berbahaya dan semakin memburuk. Krisis juga mengancam rakyat Suriah, kawasan dan dunia,” kata Brahimi yang baru terpilih menduduki jabatan barunya, menggantikan Kofi Annan yang mengundurkan diri. Menurut Brahimi, solusi satu- satunya hanya berasal dari rakyat Suriah.
“Saya saat ini tidak memiliki rencana untuk mengatasi krisis, tapi sebuah strategi akan disusun setelah mendengarkan semua pihak di dalam negeri, regional, dan internasional,”ujarnya.
Adapun,Assad dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah menjelaskan bahwa dialog antar-rakyat Suriah menjadi solusi kunci bagi krisis di negara tersebut.Assad juga mendesak negara-negara asing menghentikan suplai persenjataan untuk para pemberontak.
“Kesuksesan langkah politik tergantung pada tekanan terhadap negara-negara yang mendanai dan melatih para teroris, serta mereka yang mengirimkan persenjataan ke Suriah, hingga mereka menghentikan melakukannya,” tegas Assad.
Komandan Garda Revolusi Iran Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari menjelaskan dalam konferensi pers di Teheran kemarin bahwa anggota unit elite operasi khusus, Pasukan Quds,berada di Suriah dan Lebanon.
Namun, dia menekankan bahwa mereka berada di sana hanya untuk memberikan nasihat dan saran. “Beberapa anggota Pasukan Quds berada di Suriah dan Lebanon. Kami memberikan saran dan nasihat,serta berbagi pengalaman dengan mereka.
Tapi, itu tidak berarti kami memiliki kehadiran militer di sana,” ujar Jafari,dikutip AFP. Sejumlah negara-negara Baratdan Arab menuduh Iran memberikan bantuan militer pada rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Namun, selama ini tuduhan tersebut disangkal Iran. Sementara, Utusan Liga Arab dan Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Lakhdar Brahimi bertemu Presiden Assad di Damaskus.Setelah pertemuan itu, Brahimi memperingatkan bahwa konflik Suriah mengancam kawasan Timur Tengah dan dunia.
“Krisis ini berbahaya dan semakin memburuk. Krisis juga mengancam rakyat Suriah, kawasan dan dunia,” kata Brahimi yang baru terpilih menduduki jabatan barunya, menggantikan Kofi Annan yang mengundurkan diri. Menurut Brahimi, solusi satu- satunya hanya berasal dari rakyat Suriah.
“Saya saat ini tidak memiliki rencana untuk mengatasi krisis, tapi sebuah strategi akan disusun setelah mendengarkan semua pihak di dalam negeri, regional, dan internasional,”ujarnya.
Adapun,Assad dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah menjelaskan bahwa dialog antar-rakyat Suriah menjadi solusi kunci bagi krisis di negara tersebut.Assad juga mendesak negara-negara asing menghentikan suplai persenjataan untuk para pemberontak.
“Kesuksesan langkah politik tergantung pada tekanan terhadap negara-negara yang mendanai dan melatih para teroris, serta mereka yang mengirimkan persenjataan ke Suriah, hingga mereka menghentikan melakukannya,” tegas Assad.
(aww)