Polisi terjunkan penjinak bom
Selasa, 11 September 2012 - 09:29 WIB
Polisi terjunkan penjinak bom
A
A
A
Sindonews.com - Polisi Inggris kemarin mengirimkan tim penjinak bom ke rumah keluarga yang dibunuh secara sadis di Pegunungan Alpen, Prancis, untuk mencari kemungkinan keberadaan bahan peledak.
Polisi juga mengevakuasi rumah-rumah tetangga setelah menemukan benda yang mencurigakan di rumah korban pembunuhan itu, Saad al-Hilli, yang ditembak mati beserta istri dan ibu mertuanya di mobil mereka di dekat lokasi wisata di Prancis,Rabu (5/9) lalu.
Penemuan itu akan menambah teori mengenai pembunuhan ala eksekusi itu dimana polisi masih memeriksa adik al- Hilli, Zaid, yang telah membantah laporan bahwa pembunuhan itu dilatarbelakangi oleh sengketa harta.
Kepolisian Surrey mengevakuasi area dekat rumah al- Hilli di desa Claygate, di barat daya London karena kekhawatiran atas barang yang ditemukan di tempat itu.
“Pemeriksaan benda yang ditemukan di lokasi sedang dilakukan sebagai pencegahan,” ujar seorang juru bicara polisi kepada AFP. Sumber yang dekat dengan penyelidikan itu mengatakan material yang diperkirakan peledak ditemukan di rumah itu, tapi tidak menyebutkan apa benda tersebut.
Tapi, setelah hampir tiga jam, mobil penjinak bom kemudian meninggalkan rumah itu bersama sebuah mobil polisi dan polisi kembali membuka jalan di sekitar area tersebut. Di Prancis, putri sulung al- Hilli, Zainab, kemarin masih dalam pengaruh obat bius dan belum mampu bicara kepada penyidik yang berharap dia bisa membantu mereka mengungkapkan misteri seputar pembunuhan orang tua dan neneknya itu.
Gadis berusia 7 tahun itu menderita retak pada tengkorak dan luka tembak di bahu. Adiknya yang berusia 4 tahun, Zeena, selamat dari serangan itu tanpa luka setelah bersembunyi di balik rok ibunya.
“Ketika dokter memberikan kewenangan, kami akan memeriksa dia di rumah sakit, tapi saat nini, mereka belum mengizinkan kami,”ujar jaksa Annecy Eric Maillaud.
“Dia memang koma, tapi Minggu (9/9) sudah sadar tapi tetap dibius.Ini proses normal.” Zeena, yang berbaring tanpa bergerak di bawah jenazah ibunya selama delapan jam setelah tragedi itu, belum bisa memberikan informasi signifikan mengenai serangan itu. Dia telah kembali ke Inggris pada Minggu (9/9).
Saad al-Hilli, istri Ikbal dan ibunda Ikbal, seorang wanita berkebangsaan Swedia, tewas dengan dua tembakan di kepala di mobil di sebuah pinggir jalan di Alpen. Seorang pria yang melintas dengan sepedanya juga ikut dibunuh dalam tragedi itu.
Penyelidikan mengungkapkan, hanya satu senjata,sebuah pistol otomatis 7,65 mm, yang digunakan dalam pembunuhan tersebut.Pakar senjata menyebut, pistol berkaliber medium itu sedikit relatif kuno. Laporan itu muncul setelah analisa 25 selongsong peluru yang ditemukan di lokasi kejadian dan peluru yang diangkat dari tubuh korban.Hasil ini belum sepenuhnya dikonfirmasi.
Tingginya jumlah tembakan di lokasi menyebabkan spekulasi bahwa ada lebih dari satu orang penembak. Al-Hilli, 50, warga Inggris kelahiran Irak,bekerja sebagai insinyur desain mekanik di sebuah perusahaan pembuat satelit antariksa di Surrey.
Media Prancis menyebut polisi Inggris juga memeriksa rekan kerja al-Hilli. Al-Hilli membantu mendesain dapur pesawat Airbus, memiliki spesialisasi dalam desain yang dibantu komputer dan sebagian besar dia bekerja di rumahnya di Claygate.
Polisi juga mengevakuasi rumah-rumah tetangga setelah menemukan benda yang mencurigakan di rumah korban pembunuhan itu, Saad al-Hilli, yang ditembak mati beserta istri dan ibu mertuanya di mobil mereka di dekat lokasi wisata di Prancis,Rabu (5/9) lalu.
Penemuan itu akan menambah teori mengenai pembunuhan ala eksekusi itu dimana polisi masih memeriksa adik al- Hilli, Zaid, yang telah membantah laporan bahwa pembunuhan itu dilatarbelakangi oleh sengketa harta.
Kepolisian Surrey mengevakuasi area dekat rumah al- Hilli di desa Claygate, di barat daya London karena kekhawatiran atas barang yang ditemukan di tempat itu.
“Pemeriksaan benda yang ditemukan di lokasi sedang dilakukan sebagai pencegahan,” ujar seorang juru bicara polisi kepada AFP. Sumber yang dekat dengan penyelidikan itu mengatakan material yang diperkirakan peledak ditemukan di rumah itu, tapi tidak menyebutkan apa benda tersebut.
Tapi, setelah hampir tiga jam, mobil penjinak bom kemudian meninggalkan rumah itu bersama sebuah mobil polisi dan polisi kembali membuka jalan di sekitar area tersebut. Di Prancis, putri sulung al- Hilli, Zainab, kemarin masih dalam pengaruh obat bius dan belum mampu bicara kepada penyidik yang berharap dia bisa membantu mereka mengungkapkan misteri seputar pembunuhan orang tua dan neneknya itu.
Gadis berusia 7 tahun itu menderita retak pada tengkorak dan luka tembak di bahu. Adiknya yang berusia 4 tahun, Zeena, selamat dari serangan itu tanpa luka setelah bersembunyi di balik rok ibunya.
“Ketika dokter memberikan kewenangan, kami akan memeriksa dia di rumah sakit, tapi saat nini, mereka belum mengizinkan kami,”ujar jaksa Annecy Eric Maillaud.
“Dia memang koma, tapi Minggu (9/9) sudah sadar tapi tetap dibius.Ini proses normal.” Zeena, yang berbaring tanpa bergerak di bawah jenazah ibunya selama delapan jam setelah tragedi itu, belum bisa memberikan informasi signifikan mengenai serangan itu. Dia telah kembali ke Inggris pada Minggu (9/9).
Saad al-Hilli, istri Ikbal dan ibunda Ikbal, seorang wanita berkebangsaan Swedia, tewas dengan dua tembakan di kepala di mobil di sebuah pinggir jalan di Alpen. Seorang pria yang melintas dengan sepedanya juga ikut dibunuh dalam tragedi itu.
Penyelidikan mengungkapkan, hanya satu senjata,sebuah pistol otomatis 7,65 mm, yang digunakan dalam pembunuhan tersebut.Pakar senjata menyebut, pistol berkaliber medium itu sedikit relatif kuno. Laporan itu muncul setelah analisa 25 selongsong peluru yang ditemukan di lokasi kejadian dan peluru yang diangkat dari tubuh korban.Hasil ini belum sepenuhnya dikonfirmasi.
Tingginya jumlah tembakan di lokasi menyebabkan spekulasi bahwa ada lebih dari satu orang penembak. Al-Hilli, 50, warga Inggris kelahiran Irak,bekerja sebagai insinyur desain mekanik di sebuah perusahaan pembuat satelit antariksa di Surrey.
Media Prancis menyebut polisi Inggris juga memeriksa rekan kerja al-Hilli. Al-Hilli membantu mendesain dapur pesawat Airbus, memiliki spesialisasi dalam desain yang dibantu komputer dan sebagian besar dia bekerja di rumahnya di Claygate.
(aww)