Jepang kirim tim survei ke Pulau Sengketa
Senin, 03 September 2012 - 11:55 WIB
Jepang kirim tim survei ke Pulau Sengketa
A
A
A
Sindonews.com - Gubernur Tokyo Shintaro Ishihara mengirimkan tim survei untuk memantau kepulauan sengketa di Laut China Timur. Tim itu dikirimkan ke kepulauan yang dikenal dengan nama Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.
Pemerintah China dan Jepang saling mengklaim sebagai pemilik wilayah di kepulauan tersebut.Menurut laporan, Ishihara ingin membeli kepulauan tersebut sebagai milik pribadi untuk menegaskan klaim Jepang atas wilayah itu dan membangun sebuah pelabuhan kecil untuk kapal-kapal nelayan.
“Tim yang beranggotakan 25 orang itu tetap berada di atas kapal untuk menyurvei garis pantai dan perairan sekitar pulau-pulau tak berpenghuni itu,”ungkap laporan televisi lokal,dikutip AFP.
“Melihat dengan mata Anda sendiri akan sangat berbeda dibandingkan jika hanya melihatnya dari peta.Skala dan ukuran sangat jelas untuk dilihat. Gubernur bertanya apa yang bisa dilakukan untuk membangun sebuah pelabuhan kecil.Kami ingin memeriksa pulau itu terkait ide tersebut,” kata Seiichiro Sakamaki, pejabat Tokyo yang memimpin tim survei.
Media China segera menyatakan tim survei itu ilegal. Kejadian ini semakin memanaskan ketegangan di kawasan tersebut. Kepulauan sengketa tersebut berada di antara Taiwan dan Okinawa. Perairan di sana kaya dengan ikan dan diperkirakan mengandung deposit minyak bumi. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura mengatakan, saat ini pemerintah Jepang menyewa pulau itu untuk mempertahankan perdamaian dan kestabilan.
Ishihara telah memulai pembicaraan dengan pemilik swasta dan dia berharap dapat mencapai kesepakatan untuk membeli pulau-pulau itu pada akhir tahun ini. Menurut surat kabar Nikkei, pemerintah Jepang mempertimbangkan membeli kepulauan itu sebesar USD26 juta dari pemilih lahan di mana Ishihara bernegosiasi.Dengan menghindari keterlibatan langsung Ishihara dalam pengelolaan kepulauan sengketa itu,Jepang ingin mencegah perselisihan dengan China di kawasan tersebut.
“Pemerintahan nasional yang lemah ini telah gagal bertindak sejak awal hingga akhir dan Tokyo mempertimbangkan bagaimana memanfaatkan kekayaan laut yang subur dan alam yang melimpah di kepulauan tersebut,”ungkap Ishihara,dikutip CNN. Sengketa maritim antara Jepang dan China terkait kepulauan itu telah berlangsung lama.
China menegaskan bahwa Pulau Diaoyu membentang di wilayahnya selama ratusan tahun,sementara Jepang menyatakan China telah menyerahkan kedaulatan pulau tersebut setelah kalah pada perang China dan Jepang pada 1895. Menurut pengamat China, Guo Xiangang, Jepang menjual kepulauan itu pada 1932 kepada keturunan asli suku setempat dan pada akhir Perang Dunia II,Jepang menyerah kalah.
Pemerintah China dan Jepang saling mengklaim sebagai pemilik wilayah di kepulauan tersebut.Menurut laporan, Ishihara ingin membeli kepulauan tersebut sebagai milik pribadi untuk menegaskan klaim Jepang atas wilayah itu dan membangun sebuah pelabuhan kecil untuk kapal-kapal nelayan.
“Tim yang beranggotakan 25 orang itu tetap berada di atas kapal untuk menyurvei garis pantai dan perairan sekitar pulau-pulau tak berpenghuni itu,”ungkap laporan televisi lokal,dikutip AFP.
“Melihat dengan mata Anda sendiri akan sangat berbeda dibandingkan jika hanya melihatnya dari peta.Skala dan ukuran sangat jelas untuk dilihat. Gubernur bertanya apa yang bisa dilakukan untuk membangun sebuah pelabuhan kecil.Kami ingin memeriksa pulau itu terkait ide tersebut,” kata Seiichiro Sakamaki, pejabat Tokyo yang memimpin tim survei.
Media China segera menyatakan tim survei itu ilegal. Kejadian ini semakin memanaskan ketegangan di kawasan tersebut. Kepulauan sengketa tersebut berada di antara Taiwan dan Okinawa. Perairan di sana kaya dengan ikan dan diperkirakan mengandung deposit minyak bumi. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura mengatakan, saat ini pemerintah Jepang menyewa pulau itu untuk mempertahankan perdamaian dan kestabilan.
Ishihara telah memulai pembicaraan dengan pemilik swasta dan dia berharap dapat mencapai kesepakatan untuk membeli pulau-pulau itu pada akhir tahun ini. Menurut surat kabar Nikkei, pemerintah Jepang mempertimbangkan membeli kepulauan itu sebesar USD26 juta dari pemilih lahan di mana Ishihara bernegosiasi.Dengan menghindari keterlibatan langsung Ishihara dalam pengelolaan kepulauan sengketa itu,Jepang ingin mencegah perselisihan dengan China di kawasan tersebut.
“Pemerintahan nasional yang lemah ini telah gagal bertindak sejak awal hingga akhir dan Tokyo mempertimbangkan bagaimana memanfaatkan kekayaan laut yang subur dan alam yang melimpah di kepulauan tersebut,”ungkap Ishihara,dikutip CNN. Sengketa maritim antara Jepang dan China terkait kepulauan itu telah berlangsung lama.
China menegaskan bahwa Pulau Diaoyu membentang di wilayahnya selama ratusan tahun,sementara Jepang menyatakan China telah menyerahkan kedaulatan pulau tersebut setelah kalah pada perang China dan Jepang pada 1895. Menurut pengamat China, Guo Xiangang, Jepang menjual kepulauan itu pada 1932 kepada keturunan asli suku setempat dan pada akhir Perang Dunia II,Jepang menyerah kalah.
()