Krisis pangan kembali hantui Korut
Kamis, 30 Agustus 2012 - 16:34 WIB
Krisis pangan kembali hantui Korut
A
A
A
Sindonews.com - Korea Utara (Korut) dihantui bencana kelaparan seperti yang terjadi di akhir tahun 1990-an. Pasalnya, bencana kelaparan di Korut semakin meluas pasca serangkaian bencana alam yang menghantam negeri itu beberapa waktu lalu.
Relawan asal Denmark, Kim Hartzner yang baru saja kembali dari Korut, mengatakan, banjir yang melanda Korut tahun ini sangat besar, sementara itu, angin topan dan juga badai awal pekan ini juga mengancam Korut. Kim Hartzner selama ini berfokus pada penyediaan bantuan pangan kepada anak-anak di sana.
"Skala bencana ini terus meluas. Sedikitnya 169 orang dilaporkan tewas, 400 orang hilang, sementara 212 ribu orang kehilangan tempat tinggal," ungkap Hartzner seperti diberitakan Reuters, Kamis (30/8/2012).
"Mereka telah melalui lima atau enam bencana alam secara berturut-turut. Ini adalah masalah jangka panjang sementara persediaan pangan cenderung sangat rendah. Selain itu, banyak sekali kekurangan bahan dasar seperti beton dan besi untuk membangun rumah-rumah yang hancur," terang Hartzner.
Hartzner menerangkan, kerusakan tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan oleh bencana kali ini tidak langsung muncul saat ini ataupun besok, tetapi dua atau tiga bulan mendatang. Kedapannya mereka hanya bisa makan jagung yang telah mereka panen.
Selama mengunjungi Korut, Hartzner menggambarkan kondisi di tiga panti asuhan di provinsi Hwanghae, Korut sangat mengerikan.
Kondisi yang ada sangat tidak dapat dibayangkan, 70 persen anak-anak menderita kekurangan gizi akut, baik berat atau sedang," ungkap Hartzner.
Sebelumnya, di penghujung tahun 1990-an, jutaan orang di Korut tewas akibat krisis pangan. Sejumlah ahli mengatakan kegagalan sistem dan sistem perekonomi yang tertutup telah melemahkan produktivitas petani.
Hal tersebut membuat sektor pertanian Korut menjadi semakin rentan terhadap banjir dan kekeringan karena proyek deforestasi yang terus meluas.
Sementara itu, Korut seperti berniat mengurangi politik isolasinya dengan mengizinkan PBB dan beberapa lembaga lain memasuki Korut paska serangkaian bencana alam tersebut. Sejumlah pejabat daerah bersedia membagi informasi dengan para relawan yang datang memberikan bantuan.
Relawan asal Denmark, Kim Hartzner yang baru saja kembali dari Korut, mengatakan, banjir yang melanda Korut tahun ini sangat besar, sementara itu, angin topan dan juga badai awal pekan ini juga mengancam Korut. Kim Hartzner selama ini berfokus pada penyediaan bantuan pangan kepada anak-anak di sana.
"Skala bencana ini terus meluas. Sedikitnya 169 orang dilaporkan tewas, 400 orang hilang, sementara 212 ribu orang kehilangan tempat tinggal," ungkap Hartzner seperti diberitakan Reuters, Kamis (30/8/2012).
"Mereka telah melalui lima atau enam bencana alam secara berturut-turut. Ini adalah masalah jangka panjang sementara persediaan pangan cenderung sangat rendah. Selain itu, banyak sekali kekurangan bahan dasar seperti beton dan besi untuk membangun rumah-rumah yang hancur," terang Hartzner.
Hartzner menerangkan, kerusakan tingkat kesuburan tanah yang diakibatkan oleh bencana kali ini tidak langsung muncul saat ini ataupun besok, tetapi dua atau tiga bulan mendatang. Kedapannya mereka hanya bisa makan jagung yang telah mereka panen.
Selama mengunjungi Korut, Hartzner menggambarkan kondisi di tiga panti asuhan di provinsi Hwanghae, Korut sangat mengerikan.
Kondisi yang ada sangat tidak dapat dibayangkan, 70 persen anak-anak menderita kekurangan gizi akut, baik berat atau sedang," ungkap Hartzner.
Sebelumnya, di penghujung tahun 1990-an, jutaan orang di Korut tewas akibat krisis pangan. Sejumlah ahli mengatakan kegagalan sistem dan sistem perekonomi yang tertutup telah melemahkan produktivitas petani.
Hal tersebut membuat sektor pertanian Korut menjadi semakin rentan terhadap banjir dan kekeringan karena proyek deforestasi yang terus meluas.
Sementara itu, Korut seperti berniat mengurangi politik isolasinya dengan mengizinkan PBB dan beberapa lembaga lain memasuki Korut paska serangkaian bencana alam tersebut. Sejumlah pejabat daerah bersedia membagi informasi dengan para relawan yang datang memberikan bantuan.
()