Lengsernya Assad dinegosiasikan
Kamis, 23 Agustus 2012 - 07:50 WIB
Lengsernya Assad dinegosiasikan
A
A
A
Sindonews.com - Suriah siap menegosiasikan pengunduran diri Presiden Bashar al- Assad tapi tidak menjadikan hal tersebut sebagai salah satu prasyarat perundingan untuk mengakhiri konflik berdarah.
“Segala permasalahan dapat didiskusikan selama perundingan. Kita siap berdiskusi mengenai isu itu,” Deputi Perdana Menteri Suriah Qadri Jamil saat mengunjungi Moskow, Rusia, dikutip AFP.
Jamil menekankan bahwa negara-negara barat tengah mencari alasan untuk melakukan intervensi militer ke negaranya. Jamil menggarisbawahi pernyataan koleganya dari Rusia yang menegaskan bahwa serangan militer ke Suriah tidak boleh terjadi.
“Intervensi militer secara langsung ke Suriah merupakan suatu hal yang mustahil,” kata Jamil dikutip BBC.“Siapa pun harus merenungkan itu agar tidak terjadi konfrontasi yang lebih luas,” terangnya.
Sementara, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kembali menolak kemungkinan intervensi militer usai pembicaraan dengan diplomat China dan delegasi Rusia.
“Hanya Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) yang memiliki wewenang untuk menggunakan kekuatan senjata terhadap Suriah,” kata Lavrov.
Lavrov juga memperingatkan agar negara- negara Barat tidak berupaya menerapkan demokrasi dengan menggunakan bom. Namun, Amerika Serikat (AS) masih menginginkan agar Assad mundur secepatnya.
“Sejujurnya, kita tidak melihat adanya sesuatu baru yang mengerikan di sana,”ujar Juru Bicara Departemen Luar NegeriAS Victoria Nuland.“Kita masih percaya bahwa semakin cepat Assad mundur,maka semakin banyak kesempatan yang dapat dilakukan setelah itu.” AS telah berjuang bersama negara-negara Arab untuk menekan agar Assad mundur.
“Pemerintah Suriah mengetahui apa yang seharusnya dilakukannya,” kata Nuland. Dia meminta Rusia seharusnya mendorong agar rezim Assad mulai melaksanakan rencana transisi. Sementara, pertempuran sengit masih terjadi di Aleppo.
“Segala permasalahan dapat didiskusikan selama perundingan. Kita siap berdiskusi mengenai isu itu,” Deputi Perdana Menteri Suriah Qadri Jamil saat mengunjungi Moskow, Rusia, dikutip AFP.
Jamil menekankan bahwa negara-negara barat tengah mencari alasan untuk melakukan intervensi militer ke negaranya. Jamil menggarisbawahi pernyataan koleganya dari Rusia yang menegaskan bahwa serangan militer ke Suriah tidak boleh terjadi.
“Intervensi militer secara langsung ke Suriah merupakan suatu hal yang mustahil,” kata Jamil dikutip BBC.“Siapa pun harus merenungkan itu agar tidak terjadi konfrontasi yang lebih luas,” terangnya.
Sementara, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kembali menolak kemungkinan intervensi militer usai pembicaraan dengan diplomat China dan delegasi Rusia.
“Hanya Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) yang memiliki wewenang untuk menggunakan kekuatan senjata terhadap Suriah,” kata Lavrov.
Lavrov juga memperingatkan agar negara- negara Barat tidak berupaya menerapkan demokrasi dengan menggunakan bom. Namun, Amerika Serikat (AS) masih menginginkan agar Assad mundur secepatnya.
“Sejujurnya, kita tidak melihat adanya sesuatu baru yang mengerikan di sana,”ujar Juru Bicara Departemen Luar NegeriAS Victoria Nuland.“Kita masih percaya bahwa semakin cepat Assad mundur,maka semakin banyak kesempatan yang dapat dilakukan setelah itu.” AS telah berjuang bersama negara-negara Arab untuk menekan agar Assad mundur.
“Pemerintah Suriah mengetahui apa yang seharusnya dilakukannya,” kata Nuland. Dia meminta Rusia seharusnya mendorong agar rezim Assad mulai melaksanakan rencana transisi. Sementara, pertempuran sengit masih terjadi di Aleppo.
()