Mesir tutup Rafah setelah 16 tentara tewas
Senin, 06 Agustus 2012 - 13:46 WIB
Mesir tutup Rafah setelah 16 tentara tewas
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Mesir menutup perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza, setelah serangan di pos keamanan Mesir menewaskan sedikitnya 16 tentara, dan tujuh lainnya terluka pada Minggu 5 Agustus.
"Pelaku serangan ini pengecut. Mereka tidak akan luput dari hukuman!" tegas Presiden Mesir Mohammed Morsi, seperti dikutip Xinhua, Senin (6/8/2012).
Beberapa orang bersenjata menyerang pos pemeriksaan di bagian selatan Rafah. Serangan yang dilancarkan malam hari itu dilakukan kelompok tak dikenal yang menggunakan topeng.
"Pelaku penyerangan itu akan mendapat ganjaran yang setimpal," imbuh Morsi.
Kantor berita MENA memberitakan, setelah menembak penjaga pos keamanan, gerombolan penyerang itu langsung melarikan diri. Para penyerang mencoba melarikan diri dari tempat kejadian dengan dua kendaraan menuju Jalur Gaza.
Meskipun pasukan keamanan Mesir mengejar tersangka, tetapi identitas mereka belum diketahui hingga kini. Sementara korban cidera berada dalam kondisi serius.
Pasca insiden itu, Presiden Mesir mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin militer dan keamanan untuk membahas situasi di perbatasan Mesir. Morsi juga menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga korban yang ditinggalkan.
Saat ini, Pemerintah Mesir memutuskan untuk menutup Rafah tanpa batas waktu yang jelas. Padahal Rafah adalah satu-satunya jalur menuju jalur Gaza yang tidak dikuasai Israel.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan para penyerang membajak dua kendaraan dan menuju ke wilayah Israel dekat Kerem Shalom. Satu kendaraan meledak saat melintasi perbatasan dan yang lainnya ditembak jatuh oleh angkatan udara Israel. Namun, sejauh ini identitas para penyerang tidak dikenal.
“Serangan itu menandakan Pemerintah Mesir perlu mengambil tindakan untuk menegakkan keamanan dan mencegah teror di Sinai,” jelas Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak.
Sejak awal tahun lalu, situasi keamanan di kawasan Sinai telah memburuk. Kelompok Islam garis keras sering melakukan gerakan Jihad dengan menyerang kantor polisi, sementara komplotan lainnya menculik beberapa wisatawan asing.
Pada akhir Juli 2011, puluhan orang bersenjata menyerang sebuah kantor polisi di Arish, ibu kota Sinai Utara. Serangan itu menewaskan enam polisi dan lebih dari 10 orang terluka.
"Pelaku serangan ini pengecut. Mereka tidak akan luput dari hukuman!" tegas Presiden Mesir Mohammed Morsi, seperti dikutip Xinhua, Senin (6/8/2012).
Beberapa orang bersenjata menyerang pos pemeriksaan di bagian selatan Rafah. Serangan yang dilancarkan malam hari itu dilakukan kelompok tak dikenal yang menggunakan topeng.
"Pelaku penyerangan itu akan mendapat ganjaran yang setimpal," imbuh Morsi.
Kantor berita MENA memberitakan, setelah menembak penjaga pos keamanan, gerombolan penyerang itu langsung melarikan diri. Para penyerang mencoba melarikan diri dari tempat kejadian dengan dua kendaraan menuju Jalur Gaza.
Meskipun pasukan keamanan Mesir mengejar tersangka, tetapi identitas mereka belum diketahui hingga kini. Sementara korban cidera berada dalam kondisi serius.
Pasca insiden itu, Presiden Mesir mengadakan pertemuan darurat dengan para pemimpin militer dan keamanan untuk membahas situasi di perbatasan Mesir. Morsi juga menyampaikan rasa duka cita kepada keluarga korban yang ditinggalkan.
Saat ini, Pemerintah Mesir memutuskan untuk menutup Rafah tanpa batas waktu yang jelas. Padahal Rafah adalah satu-satunya jalur menuju jalur Gaza yang tidak dikuasai Israel.
Sementara itu, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan para penyerang membajak dua kendaraan dan menuju ke wilayah Israel dekat Kerem Shalom. Satu kendaraan meledak saat melintasi perbatasan dan yang lainnya ditembak jatuh oleh angkatan udara Israel. Namun, sejauh ini identitas para penyerang tidak dikenal.
“Serangan itu menandakan Pemerintah Mesir perlu mengambil tindakan untuk menegakkan keamanan dan mencegah teror di Sinai,” jelas Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak.
Sejak awal tahun lalu, situasi keamanan di kawasan Sinai telah memburuk. Kelompok Islam garis keras sering melakukan gerakan Jihad dengan menyerang kantor polisi, sementara komplotan lainnya menculik beberapa wisatawan asing.
Pada akhir Juli 2011, puluhan orang bersenjata menyerang sebuah kantor polisi di Arish, ibu kota Sinai Utara. Serangan itu menewaskan enam polisi dan lebih dari 10 orang terluka.
()