Ribuan warga Kongo mengheningkan cipta
Kamis, 02 Agustus 2012 - 14:01 WIB
Ribuan warga Kongo mengheningkan cipta
A
A
A
Sindonews.com - Ribuan umat Katolik menggelar pawai di Kinshasa untuk menyerukan berakhirnya pertempuran di bagian timur Kongo. Sejumlah jemaat yang tersebar di seluruh ibu kota Brazzaville mengelar pawai.
Sejenak mereka mengheningkan cipta mengenang korban tewas akibat kekerasan sipil di wilayah Kivu.
"Untuk pertama kalinya Pemerintah Kongo menyadari ancaman Rwanda," ungkap Benoit Marcel Tshissambo, salah seorang pengunjuk rasa.
SebelumnyaPemerintah Kongo awal tahun ini telah memutuskan untuk menyatukan mantan pemberontak dengan tantara Kongo, tetapi mereka kembali membelot pada Mei lalu. Aksi pemberontakan di Kongo ini diduga didukung Rwanda.
"Jangan ada balkanisasi di Kongo," ungkap salah satu demonstran.
Aksi pemberontakan di Kongo digerakan kelompok March23. Gerakan tersebut sudah menyebabkan sedikitnya 470 ribu penduduk sipil pergi ke wilayah Kivu bagian utara yang berbatasan dengan Uganda dan Rwanda.
Sebuah laporan ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, pejabat senior Rwanda yang didominasi suku Tutsi memicu aksi kekerasan terbaru Sabtu 28 Juli lalu. Namun, Pemerintah Rwanda membantah tuduhan itu dengan mengatakan laporan tersebut dikeluarkan karena mereka gagal mendapatkan verifikasi langsung dari Rwanda.
Sejenak mereka mengheningkan cipta mengenang korban tewas akibat kekerasan sipil di wilayah Kivu.
"Untuk pertama kalinya Pemerintah Kongo menyadari ancaman Rwanda," ungkap Benoit Marcel Tshissambo, salah seorang pengunjuk rasa.
SebelumnyaPemerintah Kongo awal tahun ini telah memutuskan untuk menyatukan mantan pemberontak dengan tantara Kongo, tetapi mereka kembali membelot pada Mei lalu. Aksi pemberontakan di Kongo ini diduga didukung Rwanda.
"Jangan ada balkanisasi di Kongo," ungkap salah satu demonstran.
Aksi pemberontakan di Kongo digerakan kelompok March23. Gerakan tersebut sudah menyebabkan sedikitnya 470 ribu penduduk sipil pergi ke wilayah Kivu bagian utara yang berbatasan dengan Uganda dan Rwanda.
Sebuah laporan ahli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan, pejabat senior Rwanda yang didominasi suku Tutsi memicu aksi kekerasan terbaru Sabtu 28 Juli lalu. Namun, Pemerintah Rwanda membantah tuduhan itu dengan mengatakan laporan tersebut dikeluarkan karena mereka gagal mendapatkan verifikasi langsung dari Rwanda.
()