RI Kecewa Kinerja Dewan Keamanan PBB
Minggu, 22 Juli 2012 - 08:56 WIB
RI Kecewa Kinerja Dewan Keamanan PBB
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengaku kecewa dengan kinerja Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). Marty menilai DK PBB gagal melaksanakan kewajiban dan tanggung jawabnya.
“Indonesia sangat prihatin dengan pernyataan bahwa sekali lagi, sekali lagi, DK PBB gagal untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya, yaitu memelihara perdamaian dan keamanan internasional,” ujar Marty dalam konferensi pers kemarin.
Menurut Marty, DK PBB gagal bersuara menjadi satu kesatuan dalam melaksanakan tugasnya. Akibatnya itu membuka risiko memburuknya keadaan di Suriah.
Indonesia saat ini sedang berusaha agar masyarakat internasional dapat menciptakan perdamaian di Suriah. Tentunya, menurut Marty, itu ditunjukkan dengan berbagai upaya yang lebih serius dan sungguh-sungguh dari masyarakat internasional untuk segera menciptakan perdamaian di Suriah.
Marty juga menyinggung perihal pemulangan warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Suriah. Sebanyak 403 WNI yang terbagi menjadi 17 kloter telah kembali. “Selanjutnya, masih ada sekitar 18 kloter yang akan datang hari ini (kemarin),”katanya. Sementara itu, masih banyak WNI yang ditampung di KBRI.
Sementara itu, DK PBB dengan suara bulat memutuskan untuk mempertahankan misi tim pemantau di Suriah sampai 30 hari. Padahal, para pemantau telah menghentikan sementara aktivitas mereka karena peningkatan kekerasan di Suriah.
Pemungutan suara dilakukan PBB beberapa jam setelah negosiasi berlangsung di antara anggota dewan keamanan. Rusia mengancam untuk memveto draf resolusi usulan Inggris. Tapi, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin akhirnya mendukung naskah revisi itu.
Resolusi akan mengakhiri misi pemantauan dalam 30 hari. Mandat itu kemudian dapat diperbarui, tetapi itu hanya jika Sekretaris Jenderal PBB Ban Kimoon dan DK PBB dapat mengonfirmasi kedua pihak mematuhi syarat yang ditetapkan dalam rencana gencatan senjata yang didukung PBB.
Pasukan pemerintah di Ibu Kota dilaporkan telah melancarkan serangan ke basis pertahanan pemberontak.Presiden Bashar al-Assad menerjunkan kembali pasukan untuk menghentikan kerusuhan di Ibu Kota.
Serangan intensif militer Suriah itu dilaksanakan sebagai upaya balas dendam atas pembunuhan empat pejabat militer pada Rabu lalu. Serangan terhadap gedung Dewan Keamanan Nasional itu telah diakui Pasukan Pembebasan Suriah (FSA).
Sumber keamanan menyebutkan bahwa militer telah menguasai distrikdistrik di Damaskus, mulai dari Midan,Tadamon,Qaboon hingga Barzeh. Hingga kemarin, pertempuran masih terjadi di Distrik Jubar,Mazzeh,dan Kfar Sousa.
Pemantau hak asasi manusia (HAM) menyebutkan sebanyak 302 orang telah tewas dalam pertempuran yang berlangsung sejak Rabu lalu itu. Khusus untuk pertempuran di Aleppo, kota yang dikuasai oposisi, sebanyak 177 orang tewas,termasuk 119 warga sipil dan 7 anak-anak. Aksi pembelotan para jenderal Suriah semakin kencang. Tiga jenderal dikabarkan kembali membelot dan kini mengasingkan diri ke Turki.
“Indonesia sangat prihatin dengan pernyataan bahwa sekali lagi, sekali lagi, DK PBB gagal untuk melaksanakan apa yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya, yaitu memelihara perdamaian dan keamanan internasional,” ujar Marty dalam konferensi pers kemarin.
Menurut Marty, DK PBB gagal bersuara menjadi satu kesatuan dalam melaksanakan tugasnya. Akibatnya itu membuka risiko memburuknya keadaan di Suriah.
Indonesia saat ini sedang berusaha agar masyarakat internasional dapat menciptakan perdamaian di Suriah. Tentunya, menurut Marty, itu ditunjukkan dengan berbagai upaya yang lebih serius dan sungguh-sungguh dari masyarakat internasional untuk segera menciptakan perdamaian di Suriah.
Marty juga menyinggung perihal pemulangan warga negara Indonesia (WNI) yang ada di Suriah. Sebanyak 403 WNI yang terbagi menjadi 17 kloter telah kembali. “Selanjutnya, masih ada sekitar 18 kloter yang akan datang hari ini (kemarin),”katanya. Sementara itu, masih banyak WNI yang ditampung di KBRI.
Sementara itu, DK PBB dengan suara bulat memutuskan untuk mempertahankan misi tim pemantau di Suriah sampai 30 hari. Padahal, para pemantau telah menghentikan sementara aktivitas mereka karena peningkatan kekerasan di Suriah.
Pemungutan suara dilakukan PBB beberapa jam setelah negosiasi berlangsung di antara anggota dewan keamanan. Rusia mengancam untuk memveto draf resolusi usulan Inggris. Tapi, Duta Besar Rusia untuk PBB Vitaly Churkin akhirnya mendukung naskah revisi itu.
Resolusi akan mengakhiri misi pemantauan dalam 30 hari. Mandat itu kemudian dapat diperbarui, tetapi itu hanya jika Sekretaris Jenderal PBB Ban Kimoon dan DK PBB dapat mengonfirmasi kedua pihak mematuhi syarat yang ditetapkan dalam rencana gencatan senjata yang didukung PBB.
Pasukan pemerintah di Ibu Kota dilaporkan telah melancarkan serangan ke basis pertahanan pemberontak.Presiden Bashar al-Assad menerjunkan kembali pasukan untuk menghentikan kerusuhan di Ibu Kota.
Serangan intensif militer Suriah itu dilaksanakan sebagai upaya balas dendam atas pembunuhan empat pejabat militer pada Rabu lalu. Serangan terhadap gedung Dewan Keamanan Nasional itu telah diakui Pasukan Pembebasan Suriah (FSA).
Sumber keamanan menyebutkan bahwa militer telah menguasai distrikdistrik di Damaskus, mulai dari Midan,Tadamon,Qaboon hingga Barzeh. Hingga kemarin, pertempuran masih terjadi di Distrik Jubar,Mazzeh,dan Kfar Sousa.
Pemantau hak asasi manusia (HAM) menyebutkan sebanyak 302 orang telah tewas dalam pertempuran yang berlangsung sejak Rabu lalu itu. Khusus untuk pertempuran di Aleppo, kota yang dikuasai oposisi, sebanyak 177 orang tewas,termasuk 119 warga sipil dan 7 anak-anak. Aksi pembelotan para jenderal Suriah semakin kencang. Tiga jenderal dikabarkan kembali membelot dan kini mengasingkan diri ke Turki.
()