Polisi Myanmar bebaskan 20 mahasiswa
Minggu, 08 Juli 2012 - 12:29 WIB
Polisi Myanmar bebaskan 20 mahasiswa
A
A
A
Sindonews.com - Polisi Myanmar telah membebaskan sedikitnya 20 orang mahasiswa yang ditangkap menjelang peringatan 50 tahun gerakan perlawanan mahasiswa.
Mereka yang ditangkap tergabung dalam 300 orang yang berkumpul di Rangoon. Sementara polisi tanpa seragam berada di sekitar mereka.
"Polisi hanya ingin tahu apa yang mahasiswa rencanakan dalam perayaan kali ini," ungkap mahasiswa yang ditahan kepada seperti diberitakan BBC, Minggu (8/7/2012).
Aktivis menilai aksi penangkapan tersebut membuktikan militer Myanmar masih memiliki kecendrungan represif, meskipun sejak tahun lalu pemerintah telah memutuskan melakukan reformasi politik.
Sementara itu, seorang aktivis, Ko Ko Gyi, mengatakan beberapa dari mereka telah dibebaskan di bawah amnesti bagi tahanan politik beberapa bulan lalu.
Penangkapan itu merupakan yang terbesar sejak Myanmar mulai menempuh langkah awal menuju reformasi politik tahun lalu. Para pemimpin gerakan mahasiswa tersebut ditangkap di empat kota dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Peringatan gerakan perlawanan mahasiswa ke 50 yang jatuh pada 7 Juli merupakan bentuk penolakan mahasiswa terhadap rezim militer atas aksi kekerasan pada belasan mahasiswa hingga tewas.
Karena itu, sejumlah pihak masih menantikan reformasi lebih lanjut. Mengingat militer masih berperan dalam politik sehari-sehari di negara ini. Bahkan perwakilan militer dan polisi masih mendapat jatah kursi di parlemen Myanmar.
Mereka yang ditangkap tergabung dalam 300 orang yang berkumpul di Rangoon. Sementara polisi tanpa seragam berada di sekitar mereka.
"Polisi hanya ingin tahu apa yang mahasiswa rencanakan dalam perayaan kali ini," ungkap mahasiswa yang ditahan kepada seperti diberitakan BBC, Minggu (8/7/2012).
Aktivis menilai aksi penangkapan tersebut membuktikan militer Myanmar masih memiliki kecendrungan represif, meskipun sejak tahun lalu pemerintah telah memutuskan melakukan reformasi politik.
Sementara itu, seorang aktivis, Ko Ko Gyi, mengatakan beberapa dari mereka telah dibebaskan di bawah amnesti bagi tahanan politik beberapa bulan lalu.
Penangkapan itu merupakan yang terbesar sejak Myanmar mulai menempuh langkah awal menuju reformasi politik tahun lalu. Para pemimpin gerakan mahasiswa tersebut ditangkap di empat kota dan dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Peringatan gerakan perlawanan mahasiswa ke 50 yang jatuh pada 7 Juli merupakan bentuk penolakan mahasiswa terhadap rezim militer atas aksi kekerasan pada belasan mahasiswa hingga tewas.
Karena itu, sejumlah pihak masih menantikan reformasi lebih lanjut. Mengingat militer masih berperan dalam politik sehari-sehari di negara ini. Bahkan perwakilan militer dan polisi masih mendapat jatah kursi di parlemen Myanmar.
()