Pembunuhan ahli nuklir, Iran punya bukti keterlibatan AS
Minggu, 15 Januari 2012 - 18:17 WIB
Pembunuhan ahli nuklir, Iran punya bukti keterlibatan AS
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Iran mengaku memiliki bukti keterlibatan Washington dalam pembunuhan ahli nuklir Iran. Pembunuhan ahli nuklir Iran itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Barat terkait program nuklir Teheran.
"Kami memiliki bukti berupa dokumen yang dapat mengungkapkan bahwa ledakan itu adalah aksi teror yang direncanakan, dituntun, dan didukung oleh CIA," ujar Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Swiss di Teheran seperti dikutip Reuters, Minggu, (15/1/2012).
Surat tersebut dilayangkan ke Kedubes Swiss karena Kedubes Swiss secara resmi mewakili kepentingan AS di Iran dan seperti diketahui AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran.
Peristiwa ledakan itu dinilai sama dengan peristiwa pembunuhan ahli nuklir Iran beberapa tahun yang lalu. Seorang saksi mata mengatakan, pengendara motor tampak menanam bom di mobil Profesor Mostafa Ahmadi Roshan. Ledakan pun muncul, dan melukai dua orang lainnya.
"Musuh kita, terutama AS, Inggris, dan Israel harus bertanggung jawab atas tindakan mereka," ujar juru bicara staf gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Massoud Jazayeri.
Dalam laporannya, stasiun tv milik Iran mengatakan, Pemerintah juga telah melayangkan apa yang mereka sebut sebagai surat kutukan kepada Inggris. Iran menuding ledakan yang menewaskan ahli nuklir Iran itu terjadi setelah kepala intelijen Inggris (M16) mengumumkan operasi intelijen terhadap negara-negara yang tengah mengembangkan senjata nuklir.
Kendati telah dituding berulang kali berada di balik peristiwa pembunuhan ahli nuklir Iran, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton dan Presiden Israel Shimon Perez tetap membantah pihaknya terlibat dalam serangan tersebut.
Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Barat, ternyata tidak menghentikan Teheran untuk memulai pengayaan uraniumnya di sebuah bunker di dekat kota suci Syiah Qom pekan lalu.
Barat menuding program nuklir Iran ditujukan untuk membangun persenjataan, sedangkan Teheran menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan program nuklirnya bertujuan damai.
Sebelumnya Iran mengatakan, pihaknya bersedia untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan AS dan negara-negara berkekuatan besar lainnya yang sempat terhenti tahun lalu. Menanggapi hal ini Barat mengatakan, pembicaraan tersebut tidak ada gunanya selama Teheran tidak menghentikan pengayaan uraniumnya.
"Kami memiliki bukti berupa dokumen yang dapat mengungkapkan bahwa ledakan itu adalah aksi teror yang direncanakan, dituntun, dan didukung oleh CIA," ujar Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah surat yang ditujukan kepada Kedutaan Besar Swiss di Teheran seperti dikutip Reuters, Minggu, (15/1/2012).
Surat tersebut dilayangkan ke Kedubes Swiss karena Kedubes Swiss secara resmi mewakili kepentingan AS di Iran dan seperti diketahui AS tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Iran.
Peristiwa ledakan itu dinilai sama dengan peristiwa pembunuhan ahli nuklir Iran beberapa tahun yang lalu. Seorang saksi mata mengatakan, pengendara motor tampak menanam bom di mobil Profesor Mostafa Ahmadi Roshan. Ledakan pun muncul, dan melukai dua orang lainnya.
"Musuh kita, terutama AS, Inggris, dan Israel harus bertanggung jawab atas tindakan mereka," ujar juru bicara staf gabungan Angkatan Bersenjata Iran, Massoud Jazayeri.
Dalam laporannya, stasiun tv milik Iran mengatakan, Pemerintah juga telah melayangkan apa yang mereka sebut sebagai surat kutukan kepada Inggris. Iran menuding ledakan yang menewaskan ahli nuklir Iran itu terjadi setelah kepala intelijen Inggris (M16) mengumumkan operasi intelijen terhadap negara-negara yang tengah mengembangkan senjata nuklir.
Kendati telah dituding berulang kali berada di balik peristiwa pembunuhan ahli nuklir Iran, Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton dan Presiden Israel Shimon Perez tetap membantah pihaknya terlibat dalam serangan tersebut.
Meningkatnya ketegangan antara Iran dan Barat, ternyata tidak menghentikan Teheran untuk memulai pengayaan uraniumnya di sebuah bunker di dekat kota suci Syiah Qom pekan lalu.
Barat menuding program nuklir Iran ditujukan untuk membangun persenjataan, sedangkan Teheran menolak tuduhan tersebut dengan mengatakan program nuklirnya bertujuan damai.
Sebelumnya Iran mengatakan, pihaknya bersedia untuk melanjutkan pembicaraan damai dengan AS dan negara-negara berkekuatan besar lainnya yang sempat terhenti tahun lalu. Menanggapi hal ini Barat mengatakan, pembicaraan tersebut tidak ada gunanya selama Teheran tidak menghentikan pengayaan uraniumnya.
()