alexametrics

Keren, Anak Sekolah Ciptakan Masker dengan Printer 3D

loading...
Keren, Anak Sekolah Ciptakan Masker dengan Printer 3D
Keren, Anak Sekolah Ciptakan Masker dengan Printer 3D
A+ A-
WASHINGTON - Siswa sekolah menengah atas di Tesla STEMZ High School di Redmond, Washington, telah menciptakan masker pelindung wajah dengan printer 3D. Inovasi mereka mendapat dukungan berbagai kalangan untuk menghentikan persebaran Covid-19.

Bersama teman-teman sekelasnya, Ayan Gupta menuju persiapan pembuatan masker wajah setelah seseorang menyarankannya membuat masker pelindung wajah. Persiapan ini meliputi bagian topeng, pemasangan, dan pendistribusiannya kepada tenaga medis rumah sakit.

Gupta dikenal selalu memiliki semangat kewirausahaan. Dia merupakan pendiri dan CEO STEMZ Education, sebuah organisasi nirlaba yang menghubungkan anak-anak dengan mentor sekolah untuk membantu mereka dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sains, teknologi, teknik, dan matematika.



Gupta memiliki latar belakang sains dan robotik yang kuat. Dengan bantuan sekitar 15 siswa lain dan izin meminjam beberapa printer 3D sekolahnya, Gupta mengoordinasikan operasi tersebut.

Mereka membuat kampanye crowd funding Go Fund Me untuk mengumpulkan dana USD1.500. Namun, dana yang terkumpul justru lebih dari yang mereka harapkan, yakni lebih dari USD8.200 untuk membantu menutupi biaya bahan pembuatan masker.

“Itu sangat mengejutkan, kami sudah sangat senang, tapi kami melihat orang-orang terus menyumbang dan menyumbang. Luar biasa merasakan curahan dandukungan masyarakat. Itu sangat membantu kami memproduksi dengan cepat,” kata Gupta, dikutip msn.

Gupta mengaku berpengalaman selama bertahun-tahun dalam seni kerajinan. Dia sudah memulai percetakan 3D sejak kelas 9 dan kini ada teman-temannya yang membantu mengerjakan proyek besar ini.

Mereka terus meningkatkan produksi sejak 23 Maret 2020 dan menghasilkan 150 masker dalam satu hari untuk pertama kalinya. Mereka berharap dapat mempertahankan tingkat produksi itu, bahkan meningkatkan jumlah produksi kedepannya.
Anak-anak dari sekolah lain berusaha mencari Gupta, tetapi dia menahan diri untuk bertemu mereka. Dia juga mencoba menyembunyikan diri dari pencarian anak-anak lain.

Dalam proses pembuatan masker, selalu terjadi peningkatan produksi. Awalnya proyek dapat diselesaikan dalam sembilan jam per hari, tetapi kemudian dapat diselesaikan dalam 4-5 jam saja per harinya.

“Karena dokter dan perawat bekerja berjam-jam untuk menjaga komunitas kami tetap sehat, sangat bermanfaat untuk melakukan upaya dengan menyediakan masker, yang penting agar mereka tetap sehat dan aman,” kata anggota tim, Nic Besauros.

Anggota tim lainnya, Varshan Muhunthan, juga mengatakan bahwa mereka ingin melakukan segala sesuatu untuk menghentikan virus. Tidak hanya mencegah persebarannya melalui jarak sosial, tetapi juga mendukung rumah sakit yang bekerja sesuai kapasitas mereka.

Dengan berakhirnya karier sekolah yang terganggu oleh pandemi dan penutupan sekolah, Gupta menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia sedang dalam proses mempersempit pilihan belajarnya dan apa yang ingin dia pelajari tentang robotika atau teknik listrik atau komputer.

“Saya sudah melakukan beberapa hal kewirausahaan. Saya sudah melakukan beberapa rekayasa. Saya ingin mencari tahu apa yang saya sukai lebih baik atau jika saya ingin menggabungkan keduanya dalam beberapa cara,” tutur Gupta.

Dia masih kebingungan dalam memutuskan kegiatan apa yang harus dia lakukan di samping membantu memerangi krisis kesehatan ini. “Saya masih harus memutuskan,” katanya. (Fandy)
(ysw)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top