China Kesulitan Implementasikan Larangan Perdagangan Hewan Liar

Sabtu, 07 Maret 2020 - 11:46 WIB
China Kesulitan Implementasikan...
China Kesulitan Implementasikan Larangan Perdagangan Hewan Liar
A A A
BEIJING - Setelah diserang wabah virus corona (Covid-19) Pemerintah China melarang perdagangan hewan liar melalui rancangan peraturan baru sejak akhir Februari. Namun, implementasinya di lapangan sulit. Sebab, selain sudah menjadi tradisi, bisnis hewan liar diyakini menghasilkan miliaran yuan per tahun.

China terus berusaha merealisasikan larangan perdagangan hewan liar demi mencegah penyebaran virus karena tidak diketahui dengan pasti hewan apa yang menjadi host Covid-19. Sejauh ini, pendapat para ahli juga terpecah. Ada yang menduga virus itu berasal dari kelelawar, tapi ada juga yang menduga dari ular.

Bagaimanapun, pembatasan atau penutupan perdagangan hewan liar di China menuai banyak tantangan. Pasalnya, perdagangan hewan liar sudah mengakar di dalam budaya warga lokal, terutama di wilayah terpencil dan tertinggal yang jauh dari kota. Pemerintah setempat perlu mencabutnya dengan keras.

Masyarakat China tidak hanya memperdagangkan hewan liar untuk dikonsumsi, tapi juga untuk dijadikan bahan obat tradisional, pakaian, ornamen, bahkan hewan peliharaan. Pada 2003 Pemerintah China juga pernah melarang perdagangan musang dan ular, tapi larangan itu tidak didengar.

Ahli kesehatan lokal menyambut baik upaya Pemerintah China melarang perdagangan hewan liar sebagai langkah pertama pencegahan virus. Namun, mereka juga menyarankan Beijing untuk terlebih dulu mengubah kebiasaan masyarakat dengan memperkenalkan budaya baru sehingga mereka tidak kaget.

Seperti dilansir CNN, pasar tradisional di Wuhan, pusat wabah Covid-19, juga menjual beraneka ragam hewan liar, mulai dari ular, landak, rakun, anjing, dan rusa yang dikurung di dalam kandang. Beberapa hewan akan langsung disembelih, dibersihkan, dan dipotong-potong di tempat sebelum dikantongi pembeli.

Para ahli meyakini sumber penyebaran Covid-19 berasal dari pasar tradisional di Wuhan. Tapi, Wuhan bukanlah satu-satunya rumah pasar tradisional yang memperdagangkan hewan liar di China. Ratusan pasar tradisional lain juga mengoperasikan bisnis serupa, bahkan setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri.

“Setiap hewan juga masing-masing memiliki virus corona yang berbeda. Virus itu dapat pindah dari satu hewan ke hewan yang lain dan kemungkinan berkembang biak,” kata ahli virus Profesor Leo Poon dari Universitas Hong Kong.

Sejauh ini terdapat sekitar 500.000 virus corona, tapi hanya tujuh yang menjangkit manusia. Warga lokal dari Provinsi Guangxi, Annie Huang, mengaku sering makan-makan bersama keluarganya di restoran yang menyajikan hewan liar. Masyarakat setempat yakin mengonsumsi hewan liar seperti babi hutan dan burung merak dapat meningkatkan kesehatan, memperkuat ketahanan fisik, dan lebih enak.

Selain itu, di China konsumsi hewan liar menjadi simbol status sosial. “Daging hewan liar sangat mahal. Jika seseorang mengajak Anda untuk makan daging hewan liar, itu artinya dia mencoba menjamu dan menghormati Anda sebaik mungkin,” ujar Annie. Satu ekor burung merak dibanderol 800 yuan (Rp1,6 juta).

Bisnis hewan juga menjadi industri yang menjanjikan. Berdasarkan Chinese Academy of Engineering, perdagangan hewan liar telah mencapai lebih dari USD73 miliar (Rp1.000 triliun) pada 2017. Hampir 1/3 masyarakat China telah membeli hewan liar di dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk makanan maupun obat. (Muh Shamil)
(ysw)
Berita Terkait
Misteri Virus Corona,...
Misteri Virus Corona, Diriset China Didanai AS
Terungkap, China Sempat...
Terungkap, China Sempat Tunda Rilis Informasi Virus Corona
Dubes China: Kami Korban,...
Dubes China: Kami Korban, Bukan Penyebab Virus Corona
Diseleksi Ketat, China...
Diseleksi Ketat, China Larang Publikasi Penelitian Asal Virus Corona
Waspada! Virus Baru...
Waspada! Virus Baru Langya Kembali Ditemukan di China
China Temukan Virus...
China Temukan Virus Corona Baru pada Makanan Laut Beku
Berita Terkini
AI, Robot, dan Modal...
AI, Robot, dan Modal Negara: Taruhan Besar Xi Jinping untuk Masa Depan China
41 menit yang lalu
Ukraina Ngamuk, Serang...
Ukraina Ngamuk, Serang 21 Kapal Tanker Minyak Rusia
1 jam yang lalu
10 Negara dengan Jalan...
10 Negara dengan Jalan Terbaik di Dunia, Juaranya Tetangga Indonesia
2 jam yang lalu
4 Alasan Mojataba Ingin...
4 Alasan Mojataba Ingin Balas Dendam Kematian Ayahnya, Ingin Mewujudkan Kemenangan Total
3 jam yang lalu
Ukraina Tidak Akan Produksi...
Ukraina Tidak Akan Produksi Rudal Patriot meski Trump Beri Lisensi, Ini 3 Alasannya
4 jam yang lalu
8 Fakta Menarik tentang...
8 Fakta Menarik tentang Norwegia, Negara Paling Bahagia dan Matahari Tak Terbenam di Musim Panas
5 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved