Iran Marah Media Sebut Korban Tewas Virus Corona 210 Orang
Sabtu, 29 Februari 2020 - 14:04 WIB
Iran Marah Media Sebut Korban Tewas Virus Corona 210 Orang
A
A
A
TEHERAN - Pemerintah Iran marah dan menolak laporan sebuah media yang menyebut korban meninggal akibat wabah virus Corona baru, Covid-19, di negara itu sejatinya sebanyak 210 orang. Angka kematian yang diberika rezim pemerintah para Mullah hingga Sabtu (29/2/2020) sebanyak 34 orang.
Media yang laporannya membuat pemerintah Iran marah adalah BBC Persian. Angka kematian 210 orang oleh media itu diklaim mengutip sumber yang tidak disebutkan di dalam sistem kesehatan Republik Islam Iran pada hari Jumat.
Menurut layanan Persia jaringan berita global yang berbasis di London tersebut, sebagian kematian terjadi di Teheran dan kota suci Qom, tempat kasus pertama infeksi Covid-19 dikonfirmasi.
Para pejabat pemerintah Iran dengan tegas menyangkal angka-angka baru dari media itu, meskipun Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harirchi Iran positif terinfeksi Covid-19 hanya beberapa jam setelah mengecilkan krisis wabah penyakit itu. Dua hari setelah wakil menteri terinfeksi, giliran Wakil Presiden Masoumeh Ebtekar bernasib sama. Seorang anggota parlemen juga terinfeksi.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Kianush Jahanpur menuduh BBC Persian bergabung dengan musuh-musuh regional Republik Islam Iran yang ia sebut berlomba untuk menyebarkan kebohongan tentang Iran.
"Transparansi teladan Iran dalam menerbitkan informasi tentang virus Corona telah mengejutkan banyak orang," tulis Jahanpur di Twitter, yang dikutip Sabtu (29/2/2020).
Angka kematian ang dilaporkan BBC Persian itu enam kali lebih tinggi dari angka kematian resmi 34 orang yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan pada hari Jumat.
Jumlah kematian 24 orang itu pun masih membuat Iran memiliki tingkat kematian tertinggi dari wabah Covid-19 di luar China yang jumlah kematiannya mencapai 2.835 orang.
Jika angka kematian yang dilaporkan BBC Persian itu akurat, maka akan mengejutkan karena jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara itu mencapai 388.
Apa yang dialami Iran itu sebelumnya dialami China, di mana publik dibuat marah karena pemerintah terkesan membungkam kebebasan berbicara tentang wabah. Sekarang, Iran menemukan dirinya dalam "jalur tembak" yang sama.
"Perasaan saya adalah bahwa pejabat Iran cenderung gagal untuk memberi tahu orang-orang apa yang menurut mereka menguntungkan secara politik. Dengan kata lain, mereka cenderung banyak berbohong," kata Hussein Ibish, seorang sarjana di Arab Gulf States Institute di Washington.
Mengutip keterlambatan Iran dalam mengambil tanggung jawab atas insiden pesawat Ukraina, Ibish memperkirakan rezim Iran kemungkinan akan terus berusaha menipu publik ketika krisis virus Corona terus meninggi.
Dalam skala global, virus ini telah menginfeksi lebih dari 85.000 orang, sebagian besar di China. Sedangkan angka kematian global mencapai 2.924 orang.
Media yang laporannya membuat pemerintah Iran marah adalah BBC Persian. Angka kematian 210 orang oleh media itu diklaim mengutip sumber yang tidak disebutkan di dalam sistem kesehatan Republik Islam Iran pada hari Jumat.
Menurut layanan Persia jaringan berita global yang berbasis di London tersebut, sebagian kematian terjadi di Teheran dan kota suci Qom, tempat kasus pertama infeksi Covid-19 dikonfirmasi.
Para pejabat pemerintah Iran dengan tegas menyangkal angka-angka baru dari media itu, meskipun Wakil Menteri Kesehatan Iraj Harirchi Iran positif terinfeksi Covid-19 hanya beberapa jam setelah mengecilkan krisis wabah penyakit itu. Dua hari setelah wakil menteri terinfeksi, giliran Wakil Presiden Masoumeh Ebtekar bernasib sama. Seorang anggota parlemen juga terinfeksi.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Kianush Jahanpur menuduh BBC Persian bergabung dengan musuh-musuh regional Republik Islam Iran yang ia sebut berlomba untuk menyebarkan kebohongan tentang Iran.
"Transparansi teladan Iran dalam menerbitkan informasi tentang virus Corona telah mengejutkan banyak orang," tulis Jahanpur di Twitter, yang dikutip Sabtu (29/2/2020).
Angka kematian ang dilaporkan BBC Persian itu enam kali lebih tinggi dari angka kematian resmi 34 orang yang diberikan oleh Kementerian Kesehatan pada hari Jumat.
Jumlah kematian 24 orang itu pun masih membuat Iran memiliki tingkat kematian tertinggi dari wabah Covid-19 di luar China yang jumlah kematiannya mencapai 2.835 orang.
Jika angka kematian yang dilaporkan BBC Persian itu akurat, maka akan mengejutkan karena jumlah kasus infeksi Covid-19 di negara itu mencapai 388.
Apa yang dialami Iran itu sebelumnya dialami China, di mana publik dibuat marah karena pemerintah terkesan membungkam kebebasan berbicara tentang wabah. Sekarang, Iran menemukan dirinya dalam "jalur tembak" yang sama.
"Perasaan saya adalah bahwa pejabat Iran cenderung gagal untuk memberi tahu orang-orang apa yang menurut mereka menguntungkan secara politik. Dengan kata lain, mereka cenderung banyak berbohong," kata Hussein Ibish, seorang sarjana di Arab Gulf States Institute di Washington.
Mengutip keterlambatan Iran dalam mengambil tanggung jawab atas insiden pesawat Ukraina, Ibish memperkirakan rezim Iran kemungkinan akan terus berusaha menipu publik ketika krisis virus Corona terus meninggi.
Dalam skala global, virus ini telah menginfeksi lebih dari 85.000 orang, sebagian besar di China. Sedangkan angka kematian global mencapai 2.924 orang.
(mas)