Sulit untuk Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran

Senin, 20 Januari 2020 - 02:23 WIB
Sulit untuk Selamatkan...
Sulit untuk Selamatkan Kesepakatan Nuklir Iran
A A A
WASHINGTON - Nader Habibi dari Pusat untuk Studi Timur Tengah di Universitas Brandeis, Amerika Serikat (AS) mengatakan, meski ada upaya dari Eropa, sangat sulit untuk bisa menyelamatkan kesepakatan nuklir Iran. Kesepakatan itu mulai runtuh saat Amerika Serikat (AS) memutuskan untuk keluar pada tahun 2018.

"Sangat sulit, karena Eropa, yang menentang penarikan AS dari kesepakatan nuklir sejak awal, mengatakan bahwa mereka akan berusaha mempertahankan mekanisme, menciptakan mekanisme untuk transaksi keuangan dengan Iran, yang disebut Instax," ucap Habibi.

"Tetapi, mekanisme itu belum berhasil, karena AS telah berhasil memblokirnya. Akibatnya, tekanan ekonomi terhadap Iran semakin meningkat," sambungnya, seperti dilansir Sputnik.

Iran, papar Habibi, telah bereaksi dengan mengambil langkah-langkah bertahap untuk melepaskan diri dari kesepakatan tersebut. Dengan kata lain, ucapnya, secara bertahap dan dalam langkah terkecil, Iran berjalan menjauh dari kewajibannya sendiri berdasarkan kesepakatan nuklir.

Habibi menuturkan, hal itu telah dilakukan berkali-kali. Menurut Habibi, Iran telah sering memperingatkan Eropa, bahwa jika Eropa tidak memenuhi janji ekonominya, maka Iran akan berjalan mundur selangkah demi selangkah dari kesepakatan tersebut.

"Kami melihat itu secara berlebihan selama 12 bulan terakhir. Sementara Eropa mengatakan mereka akan mencoba membuat mekanisme, sejauh ini mereka belum berhasil. Jadi, kunci bagi Eropa untuk dapat menyelamatkan kesepakatan nuklir adalah jika mereka dapat mengaktifkan mekanisme Instax untuk transaksi keuangan," paparnya.

"Tetapi, AS mengawasi dengan sangat hati-hati dan memberi banyak tekanan pada negara-negara Eropa untuk tidak melakukan itu, karena AS ingin memastikan tekanan ekonomi terhadap Iran terus berlanjut dan bahkan meningkat. Kami telah menyaksikan bahwa penjualan minyak mentah Iran telah berkurang secara substansial," jelas Habibi.

Dia mengatakan, India dan China, yang merupakan pelanggan utama minyak Irak, bahkan negara-negara tersebut telah mengurangi karena sensitivitas mereka terhadap peringatan AS.

"Jadi Iran sekarang dalam situasi yang sangat sulit dan saya pikir jika Eropa tidak dapat menemukan solusi, Iran akan mengambil lebih banyak langkah-langkah tambahan untuk menjauh dari kewajiban nuklirnya, yang tentu saja merupakan sesuatu yang tidak diinginkan Eropa, karena akan berarti mengaktifkan kembali program pengayaan nuklir Iran," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Timur Tengah Membara!...
Timur Tengah Membara! Rudal Iran Serang Arab Saudi, UEA, Bahrain dan Qatar
Tanpa Pengumuman, Militer...
Tanpa Pengumuman, Militer Iran Gelar Latihan Pertahanan Udara di Kota Natanz
Iran Setuju Lanjutkan...
Iran Setuju Lanjutkan Negosiasi Program Nuklir dengan Kekuatan Dunia
Iran Ajukan Rancangan...
Iran Ajukan Rancangan Penghapusan Sanksi di Perundingan Wina
Iran: Pembicaraan Nuklir...
Iran: Pembicaraan Nuklir Akan Gagal, Kecuali Biden Memberikan Jaminan
Khamenei: Masa Depan...
Khamenei: Masa Depan Iran Tak Boleh Dikaitkan dengan Pembicaraan Nuklir
Berita Terkini
Trump Marah dan Ngambek...
Trump Marah dan Ngambek pada Host NBC: Anda Curang atau Bodoh
14 menit yang lalu
Israel Balas Bombardir...
Israel Balas Bombardir Iran, Ledakan Guncang 3 Kota
39 menit yang lalu
IRGC: Rudal-rudal Balistik...
IRGC: Rudal-rudal Balistik Iran Gempur Pangkalan Udara Ramat David Israel
59 menit yang lalu
Gempa Magnitudo 8,1...
Gempa Magnitudo 8,1 Guncang Filipina, Peringatan Tsunami Dikeluarkan, Warga Kocar-kacir Selamatkan Diri
1 jam yang lalu
Rentetan Penembakan...
Rentetan Penembakan Guncang Israel, 1 Tewas, 5 Luka
1 jam yang lalu
Israel Marah usai Diserang...
Israel Marah usai Diserang Rudal Iran: Teheran Harus Terbakar!
2 jam yang lalu
Infografis
Sejarah Panjang Persia...
Sejarah Panjang Persia Menjadi Iran yang Mengubah Timur Tengah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved