Habisi Soleimani, AS Korbankan Kepentingan Strategis di Timteng dan Eropa
Minggu, 12 Januari 2020 - 22:18 WIB
Habisi Soleimani, AS Korbankan Kepentingan Strategis di Timteng dan Eropa
A
A
A
WASHINGTON - Frank Leblanc, analis dari EastWest Institute menuturkan, Amerika Serikat (AS) telah mencapai kemenangan taktis di Timur Tengah dengan membunuh Qassem Soleimani. Tapi, di sisi lain AS mengorbankan kepentingan strategisnya di kawasan dan di Eropa dengan melakukan serangan itu.
"Akan benar untuk mengatakan bahwa AS telah mencapai kemenangan taktis dalam kebuntuannya dengan Iran. Dengan kata lain, keberhasilan pemilihan untuk petahana, yang memulai kampanye pemilihan ulang. Meskipun demikian, kerugian strategis Washington jauh lebih besar daripada bonus taktis apa pun," ucap Leblanc.
"Seorang komandan senior militer (Iran) dan spesialis dalam operasi subversif telah dieliminasi. Jika Washington dipercaya, Soleimani merupakan ancaman nyata bagi Amerika di wilayah tersebut," sambungnya.
Dia mengatakan, pembalasan militer Iran tidak akan menyebabkan kerusakan nyata pada AS, sementara respon politis, yakni pengurangan komitmen kesepakatan nuklir, pada kenyataannya adalah efek dari upaya Washington untuk merusak Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Dalam kondisi saat ini, paparnya, negara-negara Eropa, Rusia dan China akan merasa jauh lebih sulit untuk menghembuskan "nafas" baru ke JCPOA dan untuk menentang sanksi ekstrateritorial AS di bidang ini.
"Serangan rudal Iran terhadap wilayah Irak melemahkan tren menuju pemulihan hubungan antara kedua negara dan mampu menghancurkan tekad Baghdad untuk menuntut penarikan pasukan asing. Ini mungkin ditafsirkan sebagai pengingat kengerian perang Iran-Irak dari tahun 1980 hingga 1988. Terakhir, Presiden AS, Donald Trump, yang merupakan orang pertama yang menyatakan kesiapannya untuk meredakan ketegangan, sekarang menempatkan dirinya sebagai pembawa damai," ujarnya.
Pada saat yang sama, Leblanc menyuarakan ketakutan bahwa dalam upaya untuk mencapai hasil cepat Washington membahayakan kepentingan strategis AS, yang mungkin jauh lebih banyak daripada keuntungan yang mereka dapatkan. Dia menjabarkan beberapa poin dalam hal ini.
Pertama, Iran, di mana pengaruh otoritas pusat berkurang selama beberapa bulan terakhir, telah melihat peningkatan kuat sentimen patriotik dan konsolidasi dalam menghadapi ancaman eksternal, yang tidak mengurangi harapan AS untuk kemungkinan perubahan dalam kepemimpinan Iran.
Kedua, setelah kematian Soleimani, sentimen anti-AS melonjak di seluruh komunitas Syiah di Timur Tengah. Leblanc menekankan fakta bahwa eliminasi Soleimani tidak mendapat dukungan dari sekutu utama AS di wilayah tersebut, yang dikhawatirkan menjadi target serangan balasan Iran.
Ketiga, ujar Leblanc, operasi ini telah memaksa pihak berwenang Irak untuk secara kuat menuntut penarikan pasukan asing, dan walaupun kemungkinannya Baghdad akan gagal mencapai hal ini, sebuah pukulan berat telah terjadi pada koalisi pimpinan AS di Timur Tengah, yang tahun lalu kehilangan pijakan di Suriah.
"Keempat, AS telah memiliki hubungan yang sangat rumit dengan NATO. Washington tidak menerima dukungan politik atau militer dari aliansi untuk tindakannya terhadap Iran. Selain itu, beberapa negara NATO telah mulai memindahkan personel misi mereka di Baghdad ke negara-negara yang lebih tenang," jelas Leblanc.
"Bahkan, kemenangan politik yang dicapai dalam menghilangkan JCPOA hanya akan memiliki efek jangka pendek. Tujuan utama AS adalah tidak hanya menghilangkan perjanjian ini, tetapi untuk memaksa Iran menerima perjanjian lain, yang akan memberlakukan pembatasan lebih keras pada program nuklirnya dan juga membatasi penelitian rudal Teheran dan ambisi regional. Menerapkan rencana ini sekarang akan sangat sulit. AS mungkin lupa tentang mendapatkan dukungan dari Rusia dan China dan, dengan tingkat probabilitas tinggi, dari negara-negara Uni Eropa juga," imbuhnya.
Leblanc percaya bahwa secara strategis AS akan segera merusak posisinya sendiri di Timur Tengah dan merusak kepercayaan negara-negara Eropa terhadap NATO, yang kebijakannya yang didikte AS, semakin sering gagal memberi mereka keamanan yang lebih besar dan juga bertentangan dengan politik Dunia Lama dan kepentingan ekonomi.
"Akan benar untuk mengatakan bahwa AS telah mencapai kemenangan taktis dalam kebuntuannya dengan Iran. Dengan kata lain, keberhasilan pemilihan untuk petahana, yang memulai kampanye pemilihan ulang. Meskipun demikian, kerugian strategis Washington jauh lebih besar daripada bonus taktis apa pun," ucap Leblanc.
"Seorang komandan senior militer (Iran) dan spesialis dalam operasi subversif telah dieliminasi. Jika Washington dipercaya, Soleimani merupakan ancaman nyata bagi Amerika di wilayah tersebut," sambungnya.
Dia mengatakan, pembalasan militer Iran tidak akan menyebabkan kerusakan nyata pada AS, sementara respon politis, yakni pengurangan komitmen kesepakatan nuklir, pada kenyataannya adalah efek dari upaya Washington untuk merusak Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA).
Dalam kondisi saat ini, paparnya, negara-negara Eropa, Rusia dan China akan merasa jauh lebih sulit untuk menghembuskan "nafas" baru ke JCPOA dan untuk menentang sanksi ekstrateritorial AS di bidang ini.
"Serangan rudal Iran terhadap wilayah Irak melemahkan tren menuju pemulihan hubungan antara kedua negara dan mampu menghancurkan tekad Baghdad untuk menuntut penarikan pasukan asing. Ini mungkin ditafsirkan sebagai pengingat kengerian perang Iran-Irak dari tahun 1980 hingga 1988. Terakhir, Presiden AS, Donald Trump, yang merupakan orang pertama yang menyatakan kesiapannya untuk meredakan ketegangan, sekarang menempatkan dirinya sebagai pembawa damai," ujarnya.
Pada saat yang sama, Leblanc menyuarakan ketakutan bahwa dalam upaya untuk mencapai hasil cepat Washington membahayakan kepentingan strategis AS, yang mungkin jauh lebih banyak daripada keuntungan yang mereka dapatkan. Dia menjabarkan beberapa poin dalam hal ini.
Pertama, Iran, di mana pengaruh otoritas pusat berkurang selama beberapa bulan terakhir, telah melihat peningkatan kuat sentimen patriotik dan konsolidasi dalam menghadapi ancaman eksternal, yang tidak mengurangi harapan AS untuk kemungkinan perubahan dalam kepemimpinan Iran.
Kedua, setelah kematian Soleimani, sentimen anti-AS melonjak di seluruh komunitas Syiah di Timur Tengah. Leblanc menekankan fakta bahwa eliminasi Soleimani tidak mendapat dukungan dari sekutu utama AS di wilayah tersebut, yang dikhawatirkan menjadi target serangan balasan Iran.
Ketiga, ujar Leblanc, operasi ini telah memaksa pihak berwenang Irak untuk secara kuat menuntut penarikan pasukan asing, dan walaupun kemungkinannya Baghdad akan gagal mencapai hal ini, sebuah pukulan berat telah terjadi pada koalisi pimpinan AS di Timur Tengah, yang tahun lalu kehilangan pijakan di Suriah.
"Keempat, AS telah memiliki hubungan yang sangat rumit dengan NATO. Washington tidak menerima dukungan politik atau militer dari aliansi untuk tindakannya terhadap Iran. Selain itu, beberapa negara NATO telah mulai memindahkan personel misi mereka di Baghdad ke negara-negara yang lebih tenang," jelas Leblanc.
"Bahkan, kemenangan politik yang dicapai dalam menghilangkan JCPOA hanya akan memiliki efek jangka pendek. Tujuan utama AS adalah tidak hanya menghilangkan perjanjian ini, tetapi untuk memaksa Iran menerima perjanjian lain, yang akan memberlakukan pembatasan lebih keras pada program nuklirnya dan juga membatasi penelitian rudal Teheran dan ambisi regional. Menerapkan rencana ini sekarang akan sangat sulit. AS mungkin lupa tentang mendapatkan dukungan dari Rusia dan China dan, dengan tingkat probabilitas tinggi, dari negara-negara Uni Eropa juga," imbuhnya.
Leblanc percaya bahwa secara strategis AS akan segera merusak posisinya sendiri di Timur Tengah dan merusak kepercayaan negara-negara Eropa terhadap NATO, yang kebijakannya yang didikte AS, semakin sering gagal memberi mereka keamanan yang lebih besar dan juga bertentangan dengan politik Dunia Lama dan kepentingan ekonomi.
(esn)