40 Tewas dalam Pemakaman Jenderal Iran Qassem Soleimani
Selasa, 07 Januari 2020 - 22:03 WIB
40 Tewas dalam Pemakaman Jenderal Iran Qassem Soleimani
A
A
A
TEHERAN - Bentrokan terjadi saat pemakaman Jenderal top Iran, Qassem Soleimani, yang tewas dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Bandara Baghdad, Irak, akhir pekan lalu. Sementara sedikitnya 40 orang tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka ketika ribuan orang memadati proses pemakaman.
Aksi saling dorong akibat berdesak-desakan terjadi di Kerman, kota kelahiran jenderal Garda Revolusi Iran itu, ketika prosesi pemakaman dimulai. Begitu laporan kantor berita Iran, Fars, mengutip kepala dinas medis darurat Iran Pirhossein Koulivand.
Tidak ada informasi tentang apa yang menyebabkan insiden tersebut. Video daring memperlihatkan sejumlah orang berbaring tak bernyata, wajah mereka ditutupi pakaian. Petugas gawat darurat melakukan CPR kepada orang-orang menangi meraung, berteriak.
"Sayangnya karena insiden itu, beberapa rekan kami telah terluka dan beberapa telah tewas selama prosesi pemakaman," kata Koulivand seperti disadur dari AP, Selasa (7/1/2020).
Sementara kantor berita Iran yang lain melaporkan korban tewas 40 orang dengan 213 lainnya terluka.
Pemakaman Soleimani sendiri kemudian terpaksa ditunda tanpa waktu yang ditentukan. Pihak berwenang mengutip kekhawatiran kehadiran kerumunan massa dalam jumlah besar yang berkumpul sebagai alasan penundaan seperti dilaporkan kantor berita Iran lainnya, ISNA.
Sebuah proses di Teheran pada Senin kemarin menarik lebih dari 1 juta orang berkumpul di Ibu Kota Iran itu. Peristiwa serupa, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil, terjadi pada proses pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai ratusan lainnya.
Kematian Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS pada hari Jumat lalu telah memicu seruan untuk balas dendam dan secara drastis meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Pemerintah AS memperingatkan kapal-kapal tentang ancaman yang tidak ditentukan dari Iran di seluruh perairan di kawasan itu, rute penting untuk pasokan minyak global. Sementara itu, Angkatan Udara AS meluncurkan latihan dengan 52 jet tempur di Utah, hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang 52 lokasi di Iran.
Aksi saling dorong akibat berdesak-desakan terjadi di Kerman, kota kelahiran jenderal Garda Revolusi Iran itu, ketika prosesi pemakaman dimulai. Begitu laporan kantor berita Iran, Fars, mengutip kepala dinas medis darurat Iran Pirhossein Koulivand.
Tidak ada informasi tentang apa yang menyebabkan insiden tersebut. Video daring memperlihatkan sejumlah orang berbaring tak bernyata, wajah mereka ditutupi pakaian. Petugas gawat darurat melakukan CPR kepada orang-orang menangi meraung, berteriak.
"Sayangnya karena insiden itu, beberapa rekan kami telah terluka dan beberapa telah tewas selama prosesi pemakaman," kata Koulivand seperti disadur dari AP, Selasa (7/1/2020).
Sementara kantor berita Iran yang lain melaporkan korban tewas 40 orang dengan 213 lainnya terluka.
Pemakaman Soleimani sendiri kemudian terpaksa ditunda tanpa waktu yang ditentukan. Pihak berwenang mengutip kekhawatiran kehadiran kerumunan massa dalam jumlah besar yang berkumpul sebagai alasan penundaan seperti dilaporkan kantor berita Iran lainnya, ISNA.
Sebuah proses di Teheran pada Senin kemarin menarik lebih dari 1 juta orang berkumpul di Ibu Kota Iran itu. Peristiwa serupa, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil, terjadi pada proses pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai ratusan lainnya.
Kematian Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS pada hari Jumat lalu telah memicu seruan untuk balas dendam dan secara drastis meningkatkan ketegangan di Timur Tengah.
Pemerintah AS memperingatkan kapal-kapal tentang ancaman yang tidak ditentukan dari Iran di seluruh perairan di kawasan itu, rute penting untuk pasokan minyak global. Sementara itu, Angkatan Udara AS meluncurkan latihan dengan 52 jet tempur di Utah, hanya beberapa hari setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menyerang 52 lokasi di Iran.
(ian)