Oposisi Israel: Netanyahu Terbukti Bersalah Minta Kekebalan Parlemen

Kamis, 02 Januari 2020 - 18:55 WIB
Oposisi Israel: Netanyahu...
Oposisi Israel: Netanyahu Terbukti Bersalah Minta Kekebalan Parlemen
A A A
TEL AVIV - Oposisi Israel menyebut permintaan kekebalan baru-baru ini oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu kepada parlemen menunjukkan bahwa dia tahu dirinya bersalah. Netanyahu saat ini ditutut dalam tiga kasus korupsi.

"Netanyahu tahu bahwa dia bersalah. Ketika seseorang tahu bahwa dia tidak bersalah, dia tidak takut untuk menghadirkan dirinya di pengadilan," kata pemimpin Partai Biru dan Putih Benny Gantz, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (2/1/2020).

Sementara itu, tokoh oposisi lainnya, yang juga merupakan pemimpin Partai Yisrael Beytenu, Avigdor Lieberman, mengatakan partainya akan memilih menentang pemberian kekebalan terhadap Netanyahu.

Sebelumnya diwartakan, Netanyahu mengatakan dia meminta kekebalan parlemen atas penuntutan dalam tiga kasus korupsi yang menjeratnya. Langkah itu dapat menunda proses pidana terhadapnya selama berbulan-bulan.

Kekebalan parlemen adalah hak anggota parlemen untuk imunitas atau kekebalan dari penuntutan hukum. Netanyahu membutuhkan dukungan 61 dari 120 legislator untuk mendapatkan kekebalan parlemen. Jadwal voting dukungan itu belum ditentukan.

Netanyahu resmi didakwa atas tuduhan korupsi pada November lalu. Dia telah diselidiki selama hampir tiga tahun sehubungan dengan tiga kasus terkait korupsi dengan nama kode "Kasus 1000", "Kasus 2000" dan "Kasus 4000".

Dalam "Kasus 1000", dia dituduh menerima hadiah senilai sekitar USD270.000 pada tahun 2017 dari miliarder Australia James Packer dan pengusaha Israel-Amerika Arnon Milchan.

Dalam "Kasus 2000", Netanyahu dituduh memberikan hadiah dari negara kepada bos media Yedioth Ahronoth, Arnon Mozes, sebagai imbalan untuk mendapatkan liputan media yang melayani kepentingan Netanyahu.

Netanyahu dan istrinya Sarah diduga terlibat dalam kasus korupsi Bezeq-Walla, juga dikenal sebagai "Kasus 4000". Dalam kasus ini, mereka dituduh mempromosikan kepentingan Bezeq, penyedia telekomunikasi terbesar di negara itu, dengan imbalan liputan yang menguntungkan dari kegiatan Netanyahu oleh situs berita Walla yang dikendalikan oleh perusahaan tersebut.
(esn)
Berita Terkait
Aksi Brutal Polisi Israel...
Aksi Brutal Polisi Israel Serbu Puluhan Jemaah di Masjid Al-Aqsa
Penampakan Rudal Iran...
Penampakan Rudal Iran saat Melintas di Atas Masjid Al Aqsa
Israel Serang Kamp Al...
Israel Serang Kamp Al Maghazi di Gaza Saat Malam Natal Menewaskan 70 orang
Serangan Israel Hantam...
Serangan Israel Hantam Masjid di Kota Rafah, Gaza Selatan, 5 Tewas
Israel Menembaki Warga...
Israel Menembaki Warga Gaza di Distribusi Bantuan, 155 Terluka dan 20 Tewas
Panik Dibombardir Iran,...
Panik Dibombardir Iran, Israel Minta Dewan Keamanan PBB Rapat Darurat
Berita Terkini
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
18 menit yang lalu
Anggota DPR AS Sebut...
Anggota DPR AS Sebut Zohran Mamdani 'Teroris Muslim' karena Juluki Netanyahu Penjahat Perang
43 menit yang lalu
Trump Kenakan Tarif...
Trump Kenakan Tarif Besar-besaran pada Indonesia dan 59 Negara Lainnya, Ini Daftarnya
1 jam yang lalu
Masalah Kualitas dan...
Masalah Kualitas dan Krisis Internal Hambat Ambisi Ekspor Senjata China
1 jam yang lalu
Iran Nyatakan Pangkalan...
Iran Nyatakan Pangkalan Inggris Target Sah, Tentara London Siaga 24 Jam
2 jam yang lalu
Jet Tempur Siluman Su-57...
Jet Tempur Siluman Su-57 Rusia Seharga Rp2 Triliun Jatuh, Bukan akibat Ditembak Ukraina
2 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved