Gunakan Dana Pribadi, Pemadam Kebakaran Australia Berdedikasi

Kamis, 26 Desember 2019 - 05:45 WIB
Gunakan Dana Pribadi,...
Gunakan Dana Pribadi, Pemadam Kebakaran Australia Berdedikasi
A A A
SYDNEY - Sebanyak 3.000 petugas pemadam kebakaran Australia mempertaruhkan nyawanya setiap hari untuk menjinakkan api yang menghanguskan 3,7 juta hektare lahan perhutanan, pertanian, dan perumahan sejak September silam. Namun, hampir 90% dari mereka tidak digaji.

“Kami melakukannya atas keinginan kami sendiri dan demi persaudaraan. Saya sendiri biasanya bekerja selama 15 jam dalam sehari,” ujar petugas pemadam kebakaran Rural Fire Service (RFS) New South Wales (NSW), Daniel Knox, dikutip BBC. Knox mengaku berada di zona kebakaran selama beberapa pekan.

Knox merupakan satu dari 70.000 anggota RFS NSW, organisasi sukarelawan pemadam kebakaran terbesar di dunia. Dia bergabung bersama RFS NSW sejak berusia 17 tahun atau sekitar lima tahun yang lalu di Sydney. Knox telah menjalani latihan ekstensif dan mengaku baru kali ini menyaksikan kebakaran besar.

Namun, Knox tidak takut dan banyak belajar dari petugas senior Andrew O’Dwyer. “Dia mengawasi, membantu, dan menghormati saya, sekalipun saya membuat kesalahan. Jasa-jasanya tidak akan saya lupakan,” kata Knox. O’Dwyer telah tewas di garis depan setelah truk yang ditumpanginya tertimpa pohon.

Sukarelawan lainnya ialah Lucy Baranowski. Dia bertugas di Kurrajong Heights. Lucy terpaksa mengambil cuti dari pekerjaannya dan hanya bergantung kepada kebaikan hati keluarga dan temannya, serta tabungan pribadi, dalam memenuhi kebutuhannya di area kebakaran. Dia mengaku merindukan anaknya.

Pada akhir pekan lalu, Lucy bersama timnya berhasil menyelamatkan rumah temannya di Kurrajong Heights setelah angin mengalihkan arah rambat kebakaran menuju Bilpin. Situasinya begitu ekstrem. Namun, Lucy mengaku tidak takut karena mendapatkan dukungan besar dari masyarakat lokal dan para petugas.

“Banyak orang di sini tidak memperoleh uang. Namun, mereka saling membantu satu sama lain. Saya juga merasa ayah dan saudara saya ada di samping saya,” kata Lucy. “RFS NSW merupakan bagian dari keluarga saya. Mereka berjuang setiap hari tanpa letih. Wajah mereka kotor tertutup abu,” tambah Lucy.

Saking dekatnya, Lucy mengaku meneteskan air mata ketika mendengar dua petugas RFS NSW tewas. Semua orang, lanjut Lucy, bekerja keras untuk tetap konsisten dan terus berkomitmen, sekalipun tanda-tanda hujan untuk menghentikan kebakaran tidak ada. Mereka berupaya agar tetap berpikir positif dan optimis.

Tugas berat yang diemban para petugas pemadam kebakaran memantik perdebatan nasional terkait perlunya dukungan terhadap mereka. Partai oposisi, para walikota, dan persatuan pemadam kebakaran Australia juga menuntut adanya kompensasi. Maklum, sebagian besar dari mereka menggunakan dana pribadi.

“Para petugas pemadam kebakaran mengorbankan segalanya. Bahkan terkadang mereka sengsara secara finansial. Sistem seperti ini tidak berkelanjutan,” terang Presiden Volunteer Fire Fighters Association (VFFA) Mick Holton. Masyarakat Australia juga mendukung dan menghormati jasa para petugas.

Sejauh ini, Pemerintah Australia menolak memenuhi tuntutan itu. Perdana Menteri (PM) Australia, Scott Morrison yang dikritik karena meninggalkan Australia untuk liburan di Hawaii saat terjadi kebakaran menilai saat ini bukan waktu yang tepat. Dana untuk para petugas kebakran kini datang dari masyarakat setempat.

Mayoritas petugas pemadam kebakaran tidak bekerja demi uang. Mereka terjun ke zona kebakaran demi menyelamatkan kelangsungan hidup masyarakat setempat, bahkan keluarga mereka sendiri. Knox yang juga datang dari luar daerah mengatakan nilai persaudaraan di antara bangsa Australia sangatlah tinggi.

“Banyak orang yang tidak mengerti, termasuk saya pada mulanya, kenapa orang-orang mengorbankan nyawa dan tidak mendapatkan gaji?” kata Knox. “Saya juga pernah berpikir begitu saat menghirup asap tebal, ’Apa yang saya lakukan di sini? Tapi, saat melihat petugas lain, saya sadar kami bekerja demi keluarga,”

Situasi kebakaran di Australia kian meluas dan tak terkendali. Waktu kebakaran juga lebih cepat dan lebih lama dibandingkan sebelumnya sehingga memaksa otoritas terkait mengerahkan seluruh tenaga. Dengan kemarau dan angin kencang, kebakaran di Australia diprediksi tidak akan padam dalam waktu dekat. (Muh Shamil)
(nfl)
Berita Terkait
Anthony Albanese, Tokoh...
Anthony Albanese, Tokoh Kelas Pekerja yang Jadi PM Australia Terpilih
Mertens dan Sabalenka...
Mertens dan Sabalenka Juarai Ganda Putri Australia Open 2021
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Cendekiawan Muda RI...
Cendekiawan Muda RI di Australia Sumbang Ide Wujudkan Indonesia 4.0
Banjir Besar Landa Sydney,...
Banjir Besar Landa Sydney, Ribuan Orang Diminta Mengungsi
Australia Menyadari...
Australia Menyadari Konsumen China Tak Tergantikan Usai 30 Bulan Konflik
Berita Terkini
Inggris Makin Tak Berdaya!...
Inggris Makin Tak Berdaya! Seluruh Armada Kapal Selam Serang Tak Bisa Beroperasi
1 jam yang lalu
Iran Hentikan Serangan...
Iran Hentikan Serangan Balasan yang Menyakitkan ke Israel
3 jam yang lalu
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Dijadikan Ganti Rugi bagi Negara Arab, 3 Alasan Teheran Marah Besar!
5 jam yang lalu
4 Fakta Pembunuhan WNI...
4 Fakta Pembunuhan WNI di Hokkaido, Tersangka Sudah Berniat Habisi Korban
9 jam yang lalu
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
10 jam yang lalu
Tak Ingin Kerusakan...
Tak Ingin Kerusakan Akibat Serangan Iran Diketahui Dunia, Israel Berlakukan Sensor Militer
11 jam yang lalu
Infografis
India Gunakan S-400...
India Gunakan S-400 Rusia dan Drone Israel untuk Lawan Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved