Menlu Palestina dan Australia Hadiri Pertemuan BDF Pekan Depan
Kamis, 28 November 2019 - 19:08 WIB
Menlu Palestina dan Australia Hadiri Pertemuan BDF Pekan Depan
A
A
A
JAKARTA - Menteri Luar Negeri Palestina dan Menteri Luar Negeri Australia dipastikan akan menghadiri pertemuan Bali Democracy Forum (BDF) ke-12, pekan depan. Selain Palestina dan Austalia, Menteri Luar Negeri Fiji, Selandia Baru, Kenya, dan Solomon juga akan turut menghadiri pertemuan tersebut.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Indonesia, Cecep Herawan menuturkan, tema utama dari BDF ke-12 kali ini adalah Diplomasi dan Inklusifitas.
"Kalau berbicara inklusifitas, maka peran serta masyarakat dari berbagai kalangan menjadi sangat penting. Salah satu elemen penting dari kehidupan berdemokrasi yang kita lihat adalah salah satunya peran perempuan," ucap Cecep pada Kamis (28/11/2019).
"Untuk itu maka secara khusus ada dialog level menteri di mana kita akan mengangkat tema kepemimpinan wanita, karena ini adalah salah satu elemen penting dalam menjaga inklusifitas," sambungnya.
Dia lalu menuturkan, pada BDF ke-12 ini akan ada perubahan format. Di mana, kali ini tidak akan ada "general debate", tapi akan ada panel-panel. Panel utamanya "Ministrial Panel" yang akan menghadirkan para Menteri Luar Negeri perempuan.
"Sejauh ini yang sudah konfirmasi adalah Menteri Luar Negeri Kenya dan Australia. Diharapkan akan memberikan persepektif mengenai kepemimpinan wanita dari dua kawasan yang berbeda," paparnya.
Selain "Ministrial Panel", akan ada empat panel lainnya yakni forum antar pemerintah, lalu panel antara LSM dan media, ketiga adalah panel yang akan dihadiri oleh para pemuda dari berbagai belahan dunia dan terakhir adalah panel yang membahas demokrasi dari sudut pandang dunia usaha.
Cecep kemudia menuturkan, akan ada juga pemaparan dari KPU Indonesia dan India, yang merupakan dua negara dengan sistem pemilu yang rumit. India adalah pemegang rekor pemilu dengan partisipasi masyarkat terbesar dan dengan waktu terlama di dunia, mencapai hampir dua bulan. Sedangkan Indonesia adalah pemilu dengan jumlah pemilih terbesar yang dilakukan dalam satu hari.
Dia lalu mengatakan, pihaknya mengundang 140 negara dan organisasi internasional untuk menghadiri pertemuan tahunan ini. Sejauh ini sudah 81 negara dan organisasi internasional yang memastikan akan hadir dalam pertemuan tersebut.
Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri Indonesia, Cecep Herawan menuturkan, tema utama dari BDF ke-12 kali ini adalah Diplomasi dan Inklusifitas.
"Kalau berbicara inklusifitas, maka peran serta masyarakat dari berbagai kalangan menjadi sangat penting. Salah satu elemen penting dari kehidupan berdemokrasi yang kita lihat adalah salah satunya peran perempuan," ucap Cecep pada Kamis (28/11/2019).
"Untuk itu maka secara khusus ada dialog level menteri di mana kita akan mengangkat tema kepemimpinan wanita, karena ini adalah salah satu elemen penting dalam menjaga inklusifitas," sambungnya.
Dia lalu menuturkan, pada BDF ke-12 ini akan ada perubahan format. Di mana, kali ini tidak akan ada "general debate", tapi akan ada panel-panel. Panel utamanya "Ministrial Panel" yang akan menghadirkan para Menteri Luar Negeri perempuan.
"Sejauh ini yang sudah konfirmasi adalah Menteri Luar Negeri Kenya dan Australia. Diharapkan akan memberikan persepektif mengenai kepemimpinan wanita dari dua kawasan yang berbeda," paparnya.
Selain "Ministrial Panel", akan ada empat panel lainnya yakni forum antar pemerintah, lalu panel antara LSM dan media, ketiga adalah panel yang akan dihadiri oleh para pemuda dari berbagai belahan dunia dan terakhir adalah panel yang membahas demokrasi dari sudut pandang dunia usaha.
Cecep kemudia menuturkan, akan ada juga pemaparan dari KPU Indonesia dan India, yang merupakan dua negara dengan sistem pemilu yang rumit. India adalah pemegang rekor pemilu dengan partisipasi masyarkat terbesar dan dengan waktu terlama di dunia, mencapai hampir dua bulan. Sedangkan Indonesia adalah pemilu dengan jumlah pemilih terbesar yang dilakukan dalam satu hari.
Dia lalu mengatakan, pihaknya mengundang 140 negara dan organisasi internasional untuk menghadiri pertemuan tahunan ini. Sejauh ini sudah 81 negara dan organisasi internasional yang memastikan akan hadir dalam pertemuan tersebut.
(esn)