Riset: Senjata Payah, Inggris-NATO Akan Kalah Perang Lawan Rusia
Kamis, 28 November 2019 - 08:23 WIB
Riset: Senjata Payah, Inggris-NATO Akan Kalah Perang Lawan Rusia
A
A
A
LONDON - Sebuah riset kelompok think tank pertahanan memperingatkan bahwa Inggris dan para sekutu NATO-nya di Eropa akan kalah perang melawan Rusia. Musababnya, persenjataan mereka payah untuk bersaing dengan senjata Moskow yang mengalami kemajuan.
Laporan itu dirilis kelompok Royal United Services Institute (RUSI) yang berbasis di London. "Inggris akan secara komprehensif dikalahkan dan dibungkam dalam konflik militer dengan Rusia, membiarkan artileri musuh bebas untuk menuntut misi tembak dengan impunitas," bunyi laporan tersebut.
"Ini akan mengarah pada kekalahan unit-unit Inggris secara terperinci," lanjut laporan itu yang dibagikan kepada media sebelum publikasi resmi pada hari Kamis (28/11/2019).
"Apa pun platform yang dikembangkan dan dibeli, jelas bahwa pasukan darat Inggris perlu meningkatkan daya tembak yang dapat digunakan jika mereka ingin mempertahankan kemampuan perang yang kredibel," sambung laporan RUSI.
"Saat ini, ada risiko bahwa Inggris—tidak mampu melawan secara kredibel—dapat turun dari tangga eskalasi oleh kekuatan yang mengancam."
Kendati demikian, laporan itu mencatat bahwa perang habis-habisan dengan Rusia tidak mungkin. Juga sangat tidak mungkin Inggris dan sekutu NATO-nya di Eropa akan dibiarkan melawan Rusia sendirian.
Di bawah aturan NATO, Amerika Serikat (AS) wajib melakukan intervensi jika ada negara NATO lain yang diserang oleh kekuatan asing. Namun, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan membuat AS mundur dari NATO, meski ia belum menindaklanjuti ancaman itu.
Laporan itu mengkritik pasukan NATO, dengan mengatakan; "Aliansi cenderung secara signifikan meremehkan jumlah daya tembak yang diperlukan untuk memungkinkan manuver darat tanpa korban, ketika bertempur di medan yang kompleks."
Tentara Inggris memiliki sekitar 900 tentara yang ditempatkan secara rotasi di Estonia dan Latvia, yang berbatasan dengan Rusia, serta di Lithuania dan Polandia. Angkatan Darat Inggris terdiri dari 83.500 tentara, jauh lebih kecil dibanding Angkatan Darat Rusia yang berkekuatan 350.000 personel.
Inggris memiliki 215 senjata nuklir. Sedangkan Rusia memiliki 6.800 senjata nuklir. Data ini dari Asosiasi Kontrol Senjata.
Angkatan bersenjata Inggris menyusut setiap tahun selama sembilan tahun terakhir, di tengah perjuangan untuk merekrut pasukan baru. Namun, Inggris baru-baru ini membangun dua kapal induk, dengan biaya gabungan £6 miliar (USD7,7 miliar), dan menghabiskan £9 miliar (USD11,6 miliar) untuk membeli 48 jet tempur siluman F-35.
Kementerian Pertahanan Inggris telah merspons laporan riset itu kepada Business Insider. "Inggris tidak berdiri sendiri tetapi bersama sekutu NATO-nya, yang bekerja sama secara erat di udara, laut, darat, nuklir dan dunia maya untuk mencegah ancaman dan menanggapi krisis," kata kementerian tersebut.
"Sebagai pemboros pertahanan NATO terbesar di Eropa, angkatan bersenjata Inggris diperlengkapi dengan baik untuk mengambil peran utama dalam melawan ancaman dan memastikan keselamatan dan keamanan orang-orang Inggris di dalam dan di luar negeri."
Laporan itu dirilis kelompok Royal United Services Institute (RUSI) yang berbasis di London. "Inggris akan secara komprehensif dikalahkan dan dibungkam dalam konflik militer dengan Rusia, membiarkan artileri musuh bebas untuk menuntut misi tembak dengan impunitas," bunyi laporan tersebut.
"Ini akan mengarah pada kekalahan unit-unit Inggris secara terperinci," lanjut laporan itu yang dibagikan kepada media sebelum publikasi resmi pada hari Kamis (28/11/2019).
"Apa pun platform yang dikembangkan dan dibeli, jelas bahwa pasukan darat Inggris perlu meningkatkan daya tembak yang dapat digunakan jika mereka ingin mempertahankan kemampuan perang yang kredibel," sambung laporan RUSI.
"Saat ini, ada risiko bahwa Inggris—tidak mampu melawan secara kredibel—dapat turun dari tangga eskalasi oleh kekuatan yang mengancam."
Kendati demikian, laporan itu mencatat bahwa perang habis-habisan dengan Rusia tidak mungkin. Juga sangat tidak mungkin Inggris dan sekutu NATO-nya di Eropa akan dibiarkan melawan Rusia sendirian.
Di bawah aturan NATO, Amerika Serikat (AS) wajib melakukan intervensi jika ada negara NATO lain yang diserang oleh kekuatan asing. Namun, Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan membuat AS mundur dari NATO, meski ia belum menindaklanjuti ancaman itu.
Laporan itu mengkritik pasukan NATO, dengan mengatakan; "Aliansi cenderung secara signifikan meremehkan jumlah daya tembak yang diperlukan untuk memungkinkan manuver darat tanpa korban, ketika bertempur di medan yang kompleks."
Tentara Inggris memiliki sekitar 900 tentara yang ditempatkan secara rotasi di Estonia dan Latvia, yang berbatasan dengan Rusia, serta di Lithuania dan Polandia. Angkatan Darat Inggris terdiri dari 83.500 tentara, jauh lebih kecil dibanding Angkatan Darat Rusia yang berkekuatan 350.000 personel.
Inggris memiliki 215 senjata nuklir. Sedangkan Rusia memiliki 6.800 senjata nuklir. Data ini dari Asosiasi Kontrol Senjata.
Angkatan bersenjata Inggris menyusut setiap tahun selama sembilan tahun terakhir, di tengah perjuangan untuk merekrut pasukan baru. Namun, Inggris baru-baru ini membangun dua kapal induk, dengan biaya gabungan £6 miliar (USD7,7 miliar), dan menghabiskan £9 miliar (USD11,6 miliar) untuk membeli 48 jet tempur siluman F-35.
Kementerian Pertahanan Inggris telah merspons laporan riset itu kepada Business Insider. "Inggris tidak berdiri sendiri tetapi bersama sekutu NATO-nya, yang bekerja sama secara erat di udara, laut, darat, nuklir dan dunia maya untuk mencegah ancaman dan menanggapi krisis," kata kementerian tersebut.
"Sebagai pemboros pertahanan NATO terbesar di Eropa, angkatan bersenjata Inggris diperlengkapi dengan baik untuk mengambil peran utama dalam melawan ancaman dan memastikan keselamatan dan keamanan orang-orang Inggris di dalam dan di luar negeri."
(mas)