Komandan AS Wanti-wanti Serangan Iran di Timur Tengah

Minggu, 24 November 2019 - 08:02 WIB
Komandan AS Wanti-wanti...
Komandan AS Wanti-wanti Serangan Iran di Timur Tengah
A A A
MANAMA - Komandan Komando Sentral Amerika Serikat (AS),Jenderal Kenneth McKenzie, menyatakan sangat mungkin Iran akan menyerang negara-negara tetangganya seperti yang terjadi pada 14 September lalu terhadap fasilitas minyak Arab Saudi.

McKenzie mengatakan bahwa Iran terus menerus merusak stabilitas di Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, Aramco, adalah indikasi yang cukup dari sebuah negara yang berperilaku tidak bertanggung jawab.

"Penilaian saya adalah sangat mungkin mereka akan menyerang lagi," ujarnya dalam wawancara dengan Foreign Policy yang dinukil Daily Mail, Minggu (24/11/2019).

Menurut McKenzie Teheran telah lama memiliki ambisi hegemonik, dengan banyak berinvestasi dalam rudal balistik dan sejumlah cara untuk melakukan kekerasan terhadap negara tetangganya selama 10 tahun terakhir.

Dalam kesempatan itu, ia mengaku prihatin atas serangan Iran yang serupa dengan serangan Aramco, menggunakan drone dan rudal, serta memperingatkan bahwa Teheran adalah aktor yang tidak dapat diprediksi.

"Saya tidak akan mengabaikan apa pun dari Iran," ujarnya.

"Ketika suatu bangsa bertindak tidak bertanggung jawab, kamu harus sangat berhati-hati ketika mengevaluasi apa yang mungkin mereka lakukan di masa depan," imbuhnya.

Ia juga mencatat ancaman yang ditimbulkan Iran terhadap pabrik desalinasi di Teluk. Ini akan menjadi 'gamechanger' jika Iran menyerang fasilitas ini, katanya, karena itu adalah sumber air minum utama kawasan. Serangan semacam itu dapat menyebabkan krisis kemanusiaan.

Sejak bulan Mei, Pentagon telah mengirim 14 ribu pasukan tambahan, sebuah kapal induk dan sejumlah peralatan militer ke Timur Tengah untuk menghadapi ancaman Iran. McKenzie menambahkan bahwa sebagian besar pasukan yang dikirim bersikap defensif.

AS mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln melalui Selat Hormuz pekan lalu untuk pertama kalinya sejak dikerahkan, sebuah langkah yang dirancang untuk menunjukkan kekuatan angkatan laut AS. Kapal induk itu awalnya telah dialihkan ke Timur Tengah pada bulan Mei lalu untuk menanggapi ancaman Iran yang terus meningkat.

McKenzie mengatakan tindakan itu memiliki hasil 'campuran,' menambahkan bahwa Iran tidak menyerang AS tetapi menyerang tetangga-tetangganya.

AS juga telah bekerja untuk menggalang dukungan internasional untuk tujuannya. Enam negara telah bergabung dalam Koalisi Keamanan Maritim Internasional bentukan Washington. Keenam negara yang bergabung adalah Inggris, Arab Saudi, Bahrain, Australia, Uni Emirat Arab, dan Albania.

McKenzie menekankan bahwa serangan Iran baru-baru ini telah menyababkan tingkat asuransi untuk kapal tanker minyak meningkat sejak Mei lalu.

"Sayangnya kadang-kadang rezim Iran telah membuktikan dirinya sebagai pengganggu di lingkungan tersebut. Dan satu-satunya cara untuk menghadapi pengganggu adalah dengan melakukannya bersama-sama," tuturnya.

"Ini adalah dunia besar yang hebat, dan ada banyak air untuk menutupi," sambungnya.

Dengan koalisi, dua kapal menunggu di setiap ujung pintu masuk ke Selat Hormuz. Kapal perang terkait dengan intelijen overhead yang rumit, pengawasan dan pengintaian yang memungkinkan mereka untuk memantau Teluk.

"Niat kami untuk menyoroti aktivitas merusak dan ilegal," jelas McKenzie.

"Kami tidak memiliki cukup kapal untuk berada di mana-mana sepanjang waktu dan kami tidak mengusahakannya, tetapi apa yang kami temukan adalah bahwa ketika orang khawatir tentang atribusi tindakan mereka, mereka cenderung berperilaku lebih baik," tuturnya.

McKenzie menyatakan bahwa selain Teluk, ia juga memiliki kepedulian dengan tindakan Iran di Suriah, Irak dan di Yaman.

"Seperti biasa, aktor utama yang bekerja untuk menyabot itu adalah Iran," tuding McKenzie.

"Dibiarkan sendiri, kupikir kaum Houthi mungkin bisa menjalin hubungan dengan Saudi," ucapnya.

Ia menambahkan bahwa AS hanya bisa melakukan begitu banyak pencegahan ketika bekerja dengan aktor irasional.

"Pencegahan mengasumsikan akan ada aktor yang rasional di ujung yang lain," katanya.

"Ada kecerobohan dasar dan tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka yang membuatmu sangat khawatir tentang apa yang mungkin mereka lakukan besok atau lusa, dan itu sangat memprihatinkan," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
Mengapa Amerika Serikat...
Mengapa Amerika Serikat Memblokade Pelabuhan Iran?
Amerika Serikat Blacklist...
Amerika Serikat Blacklist Menteri Dalam Negeri Iran
SMURP Aksi Solidaritas...
SMURP Aksi Solidaritas di Monas, Serukan Boikot Produk Terafiliasi Israel dan AS
Iran Akan Pertimbangkan...
Iran Akan Pertimbangkan Negosiasi Langsung dengan Amerika Serikat
Seberapa Penting Timur...
Seberapa Penting Timur Tengah bagi Amerika Serikat?
Presiden Iran Ebrahim...
Presiden Iran Ebrahim Raisi Tiba di AS, Demonstran Bikin Tiang Gantungan
Berita Terkini
Kehancuran Israel Bukan...
Kehancuran Israel Bukan dari Musuh Asing! Mayoritas Warga Zionis Takut Terjadi Perang Saudara
33 menit yang lalu
5 Pemakaman Tokoh Dunia...
5 Pemakaman Tokoh Dunia dengan Biaya Fantastis, Ada yang Capai Rp14,4 Triliun
1 jam yang lalu
Setelah 2 Dekade, Hamas...
Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Gaza
5 jam yang lalu
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
6 jam yang lalu
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
7 jam yang lalu
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
8 jam yang lalu
Infografis
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved