Topeng 'Hiper-Realistis', Senjata Baru Para Bandit

Kamis, 21 November 2019 - 12:13 WIB
Topeng Hiper-Realistis,...
Topeng 'Hiper-Realistis', Senjata Baru Para Bandit
A A A
LONDON - Para peneliti mengatakan bahwa topeng "hiper-realistis" modern bisa sangat meyakinkan sehingga orang sering tidak dapat membedakannya dengan wajah yang asli.

Sebuah topeng hiper-realistis terbaru diperkirakan bisa menelan biaya Rp18 juta dan para ahli mengatakan benda tersebut bisa semakin dieksploitasi oleh penjahat sebagai penyamaran.

Dalam sebuah studi, 240 orang di Jepang dan Inggris melihat sepasang foto untuk menemukan mana wajah yang asli dan mana yang topeng hiper realistis. Hasilnya, seperlima dari mereka tertipu.

"Tingkat kesalahan dunia nyata kemungkinan akan jauh lebih tinggi karena banyak orang bahkan mungkin tidak menyadari topeng hiper-realistis dan tidak mungkin mengetahuinya," ujar Dr Rob Jenkins, dari departemen psikologi di University of York.

"Generasi topeng saat ini memang sangat realistis dengan sebagian besar orang berjuang untuk mengatakan wajah tiruan dari hal yang asli," imbuhnya seperti dikutip dari Sky News, Kamis (21/11/2019).

Seorang penipu - atau seniman - tahun lalu berhasil menipu jutaan euro setelah menggunakan topeng silikon untuk menyamar sebagai Menteri Pertahanan Prancis.

Berpakaian dan bertopeng Jean-Yves Le Drian, mereka menggunakan panggilan Skype untuk meyakinkan korban yang merupakan orang kaya agar memberi mereka uang tunai untuk membayar uang tebusan.

Para penjahat telah lama menggunakan topeng untuk mencoba menyembunyikan identitas atau usia mereka, tetapi para peneliti yang melakukan penelitian itu mengatakan realisme yang berkembang menjadi perhatian.

"Kegagalan untuk mendeteksi wajah-wajah sintetis mungkin memiliki implikasi penting bagi keamanan dan pencegahan kejahatan karena topeng hiper-realistis memungkinkan karakteristik kunci dari penampilan seseorang diidentifikasi secara tidak benar," kata Dr Jet Sanders.

"Topeng-topeng ini saat ini berharga sekitar Rp18 juta masing-masing dan kami berharap mereka menjadi lebih banyak digunakan karena kemajuan dalam pembuatan membuatnya lebih terjangkau," tukasnya.

Penelitian ini dilakukan oleh Universities of York and Kyoto dan diterbitkan dalam Cognitive Research: Principles And Implications.
(ian)
Berita Terkait
Belajar Bahasa Inggris...
Belajar Bahasa Inggris Sambil Mancing di Kampung Inggris Sawangan
Kerajaan Inggris Resmi...
Kerajaan Inggris Resmi Deklarasikan Charles III sebagai Penguasa Inggris
PM Inggris Rishi Sunak...
PM Inggris Rishi Sunak Disebut Tidak Tersentuh
Otoritas Italia Perketat...
Otoritas Italia Perketat Prokes Fans Inggris Jelang Laga Ukraina vs Inggris
Kampung Inggris Kediri...
Kampung Inggris Kediri Sabet Dua Rekor MURI
Prabowo Bertemu PM Inggris...
Prabowo Bertemu PM Inggris Keir Starmer, Bahas Peningkatan Kerja Sama Indonesia-Inggris
Berita Terkini
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
2 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
3 jam yang lalu
140 Drone Ukraina Hajar...
140 Drone Ukraina Hajar St Petersburg, Rusia: Serangan Ini Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
4 jam yang lalu
Putin Klaim Tak Melihat...
Putin Klaim Tak Melihat Adanya Provokasi dari Iran
5 jam yang lalu
Hanya Karena Dukung...
Hanya Karena Dukung Iran, Presenter TV Cantik Kuwait Ini Dijatuhi Hukuman Penjara
6 jam yang lalu
Negara Anggota NATO...
Negara Anggota NATO Ini Mengalami Kemandulan Kemampuan Militer Terburuk
7 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved