Senjata AS Tiba di Yaman Secara Diam-diam, Pentagon Bungkam
Kamis, 07 November 2019 - 06:44 WIB
Senjata AS Tiba di Yaman Secara Diam-diam, Pentagon Bungkam
A
A
A
WASHINGTON - Pentagon menolak memberikan komentar terkait keaslian video yang memperlihatkan sejumlah perangkat keras militer Amerika Serikat (AS) tiba di pelabuhan Aden Yaman selatan pada minggu lalu.
"Kami tidak dapat mengomentari keaslian video", kata juru bicara Departemen Pertahanan AS seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (7/11/2019).
Juru bicara Pentagon mengatakan, bagaimanapun, AS mengharapkan semua penerima peralatan pertahanan asal Amerika untuk mematuhi kewajiban penggunaan akhir mereka dan tidak mentransfer kembali peralatan tanpa izin pemerintah AS sebelumnya.
"Kami tidak dapat mengomentari investigasi potensial atau yang sedang berlangsung dari klaim pelanggaran penggunaan akhir dari artikel dan layanan pertahanan yang ditransfer ke sekutu dan mitra kami," tambahnya.
Sebelumnya kantor berita Amerika Serikat (AS), CNN, melaporkan sebuah rekaman video menunjukkan kendaraan lapis baja Oshkosh dan perangkat keras militer buatan AS lainnya diturunkan dari sebuah kapal pada dini hari di pelabuhan Aden, Yaman.
Kapal itu, diidentifikasi sebagai Bahri Hofuf yang terdaftar di Saudi, diketahui telah berhenti di Kota Pelabuhan Jeddah pada 17 September sebelum berlayar ke Port Sudan pada hari berikutnya, kata CNN, mengutip dokumen-dokumen pelabuhan, data pelacakan, dan pengakuan whistleblower.
Sistem pelacakan kapal kemudian dimatikan sebelum dinyalakan kembali di Aden pada 29 Oktober, kata laporan media itu.
Di bawah hukum AS, penerima senjata buatan Amerika dilarang mentransfer peralatan ke pihak ketiga tanpa izin sebelumnya dari Washington.
CNN pada Februari mengklaim mengutip apa yang mereka gambarkan sebagai "bukti" bahwa Arab Saudi dan mitra koalisinya memberi para militan - terkait dengan kelompok teroris Al-Qaeda, dan faksi lain di Yaman - senjata yang diproduksi oleh AS, dalam pelanggaran perjanjian senjata dengan Washington.
Laporan itu mendorong Kongres AS pada Juli untuk meloloskan tiga langkah yang bertujuan memblokir penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA, tetapi Presiden Donald Trump kemudian memveto undang-undang tersebut. (Baca juga: Diam-diam Senjata-senjata AS Tiba di Yaman )
Konflik bersenjata di Yaman antara pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abdrabuh Mansour Hadi dan gerakan Houthi telah berlangsung sejak 2015. PBB telah berulang kali menyebut konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan perkiraan 24 juta orang - hampir 80 persen dari populasi negara itu - saat ini membutuhkan bantuan dan perlindungan.
"Kami tidak dapat mengomentari keaslian video", kata juru bicara Departemen Pertahanan AS seperti dikutip dari Sputnik, Kamis (7/11/2019).
Juru bicara Pentagon mengatakan, bagaimanapun, AS mengharapkan semua penerima peralatan pertahanan asal Amerika untuk mematuhi kewajiban penggunaan akhir mereka dan tidak mentransfer kembali peralatan tanpa izin pemerintah AS sebelumnya.
"Kami tidak dapat mengomentari investigasi potensial atau yang sedang berlangsung dari klaim pelanggaran penggunaan akhir dari artikel dan layanan pertahanan yang ditransfer ke sekutu dan mitra kami," tambahnya.
Sebelumnya kantor berita Amerika Serikat (AS), CNN, melaporkan sebuah rekaman video menunjukkan kendaraan lapis baja Oshkosh dan perangkat keras militer buatan AS lainnya diturunkan dari sebuah kapal pada dini hari di pelabuhan Aden, Yaman.
Kapal itu, diidentifikasi sebagai Bahri Hofuf yang terdaftar di Saudi, diketahui telah berhenti di Kota Pelabuhan Jeddah pada 17 September sebelum berlayar ke Port Sudan pada hari berikutnya, kata CNN, mengutip dokumen-dokumen pelabuhan, data pelacakan, dan pengakuan whistleblower.
Sistem pelacakan kapal kemudian dimatikan sebelum dinyalakan kembali di Aden pada 29 Oktober, kata laporan media itu.
Di bawah hukum AS, penerima senjata buatan Amerika dilarang mentransfer peralatan ke pihak ketiga tanpa izin sebelumnya dari Washington.
CNN pada Februari mengklaim mengutip apa yang mereka gambarkan sebagai "bukti" bahwa Arab Saudi dan mitra koalisinya memberi para militan - terkait dengan kelompok teroris Al-Qaeda, dan faksi lain di Yaman - senjata yang diproduksi oleh AS, dalam pelanggaran perjanjian senjata dengan Washington.
Laporan itu mendorong Kongres AS pada Juli untuk meloloskan tiga langkah yang bertujuan memblokir penjualan senjata ke Arab Saudi dan UEA, tetapi Presiden Donald Trump kemudian memveto undang-undang tersebut. (Baca juga: Diam-diam Senjata-senjata AS Tiba di Yaman )
Konflik bersenjata di Yaman antara pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abdrabuh Mansour Hadi dan gerakan Houthi telah berlangsung sejak 2015. PBB telah berulang kali menyebut konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia, dengan perkiraan 24 juta orang - hampir 80 persen dari populasi negara itu - saat ini membutuhkan bantuan dan perlindungan.
(ian)