Demonstran Serbia Paksa Presiden Gunakan Pintu Samping Gedung TV
Rabu, 06 November 2019 - 10:17 WIB
Demonstran Serbia Paksa Presiden Gunakan Pintu Samping Gedung TV
A
A
A
BELGRADE - Presiden Serbia Aleksandar Vucic terpaksa menggunakan pintu samping untuk masuk gedung televisi nasional pada Selasa (5/11) malam setelah 200 demonstran memblokir pintu utama.
Pengunjuk rasa memprotes kontrol pemerintah terhadap media. Demonstran meneriakkan, "Vunic, pencuri!" Mereka berkumpul sekitar sejam sebelum Vucic wawancara langsung di televisi Serbia RTS TV.
Demonstran menuduh Vucic hanya melakukan pencitraan dan tidak menjabat berbagai pertanyaan sulit. Tuduhan itu disangkal oleh Vucic.
Unit kepolisian khusus dikerahkan untuk mencegah kekerasan antara demonstran oposisi dan 100 pendukung Vucic.
Vucic mengunggah foto di Instagram dari dalam studio RTS yang menyatakan dia masuk gedung itu melalui pintu samping. "Saya berterima kasih pada siapa saja atas dukungan mereka," tulis dia.
Sebagian besar partai oposisi akan memboikot pemilu parlemen tahun depan. Mediasi yang dilakukan Uni Eropa (UE) antara oposisi dan Partai Progresif Serbia yang dipimpin Vucic belum membuahkan kesepakatan.
Oposisi menganggap partai berkuasa otokratik, korup, mengekang kebebasan media dan demokrasi.
Pengunjuk rasa memprotes kontrol pemerintah terhadap media. Demonstran meneriakkan, "Vunic, pencuri!" Mereka berkumpul sekitar sejam sebelum Vucic wawancara langsung di televisi Serbia RTS TV.
Demonstran menuduh Vucic hanya melakukan pencitraan dan tidak menjabat berbagai pertanyaan sulit. Tuduhan itu disangkal oleh Vucic.
Unit kepolisian khusus dikerahkan untuk mencegah kekerasan antara demonstran oposisi dan 100 pendukung Vucic.
Vucic mengunggah foto di Instagram dari dalam studio RTS yang menyatakan dia masuk gedung itu melalui pintu samping. "Saya berterima kasih pada siapa saja atas dukungan mereka," tulis dia.
Sebagian besar partai oposisi akan memboikot pemilu parlemen tahun depan. Mediasi yang dilakukan Uni Eropa (UE) antara oposisi dan Partai Progresif Serbia yang dipimpin Vucic belum membuahkan kesepakatan.
Oposisi menganggap partai berkuasa otokratik, korup, mengekang kebebasan media dan demokrasi.
(sfn)