Protes Penahanan Warga, Yordania Tarik Dubes untuk Israel

Rabu, 30 Oktober 2019 - 18:49 WIB
Protes Penahanan Warga,...
Protes Penahanan Warga, Yordania Tarik Dubes untuk Israel
A A A
AMMAN - Yordania memanggil duta besarnya di Tel Aviv untuk berkonsultasi guna memprotes penahanan dua warganya oleh Israel selama berbulan-bulan dengan alasan yang tidak diketahui.

"Mengingat penolakan pemerintah Israel untuk mengindahkan tuntutan kami yang sah untuk membebaskan warga negara Yordania Hiba al-Labadi dan Abdulrahman Miri, yang telah ditahan secara ilegal tanpa tuduhan selama berbulan-bulan, kami memutuskan untuk memanggil duta besar kami di Tel Aviv untuk berkonsultasi sebagai langkah pertama," kata Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman al-Safadi, seperti dikutip dari Al Jazeera, Rabu (30/10/2019).

Al-Safadi menuntut pembebasan mereka segera dan kembali ke Yordania dengan mengatakan kondisi kesehatan mereka telah sangat memburuk. Ia pun meminta pemerintah Israel bertanggung jawab atas nyawa mereka.

"Yordania akan mengambil langkah-langkah hukum dan diplomatik yang diperlukan untuk memastikan mereka pulang dengan selamat," ujarnya.

"Penahanan administratif itu ilegal," tambah al-Safadi.

Praktik ini secara luas dikutuk oleh organisasi-organisasi hak asasi manusia. Penahanan administratif adalah sisa-sisa dari hukum Mandat Inggris yang memungkinkan penahanan seseorang tanpa pengadilan atau tuntutan apa pun, yang dapat diperbarui tanpa batas waktu.

Hiba al-Labadi ditangkap pada akhir Agustus di persimpangan Allenby antara Yordania dan Tepi Barat yang diduduki dan belum secara resmi didakwa. Dia melakukan mogok makan selama sebulan untuk memprotes penahanannya.

Menurut pengacaranya, Jawad Boulos, pria 24 tahun itu diinterogasi selama 16 hari berturut-turut tanpa diizinkan menemui pengacara. Boulos, yang sejak itu mengunjungi Labadi di penjara, mengatakan interogasi berlangsung berjam-jam dengan kliennya diborgol ke kursi. Para interogator, tulis Boulos, mengutuk dan meludahi Labadi. Mereka juga mengancam akan menangkap saudara perempuan dan ibunya.

"Semua cara penyiksaan dan penindasan digunakan untuk memaksanya menandatangani pengakuan yang memberatkan," kata Boulos.

"Tapi meskipun diselidiki dengan kejam, dia tidak mengaku," imbuhnya.

Otoritas Urusan Tahanan Palestina menerbitkan surat oleh Labadi pada 8 Oktober, di mana dia menceritakan rincian interogasinya.

"Orang Israel mengancam saya dengan penahanan administratif jika saya tidak mengaku, mengatakan mereka tidak memiliki bukti terhadap saya tetapi mereka dapat memperbarui penahanan saya selama tujuh setengah tahun," tulisnya.

"Saya kehilangan kesadaran karena mereka tidak tahu apa itu kemanusiaan. Saya memberi tahu interogator bahwa penyiksaan psikologis yang mereka lakukan jauh lebih buruk daripada penyiksaan fisik - dan dia menjawab dengan mengatakan dia tahu itu," katanya.

Sementara Abdulrahman Miri (29) juga ditangkap di perlintasan perbatasan Allenby pada 2 September, di mana ia bepergian untuk menghadiri pernikahan seorang kerabat di Tepi Barat yang diduduki. Dia telah menderita kanker otak sejak 2010, dan telah menjalani beberapa operasi.

Israel belum memberikan alasan penahanan Labadi atau Miri. Sebanyak 25 warga negara Yordania dipenjara oleh pasukan pendudukan Israel.

Awal bulan ini, Kementerian Luar Negeri Yordania mengatakan pihaknya memanggil utusan Israel di Amman dan menyerahkan sepucuk surat untuk memprotes penahanan kedua warga negara itu.

Sementara itu, otoritas Yordania menangkap seorang pria Israel yang menyusup ke kerajaan melalui perbatasan utara pada hari Selasa.

"Pria itu diinterogasi sebelum dirujuk ke pihak berwenang terkait untuk mengambil tindakan hukum yang diperlukan," kata juru bicara kementerian luar negeri Sufian al-Qudah, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Beberapa politisi meminta pemerintah Yordania untuk tidak membebaskan pria Israel itu kecuali jika Israel membebaskan kedua orang Yordania yang ditahan.

Yordania menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada tahun 1994, menjadi negara kedua di dunia Arab setelah Mesir yang menjalin hubungan diplomatik dengan Tel Aviv. Peringatan 25 tahun perjanjian itu adalah bulan ini.

Pada 2017, krisis diplomatik antara kedua negara meletus ketika seorang penjaga kedutaan Israel di Amman menewaskan dua warga Yordania, sebuah tindakan yang digambarkan Israel sebagai mempertahankan diri. Setelah insiden itu, penjaga dan staf kedutaan lainnya kembali ke Israel ketika kedutaan di Amman ditutup selama beberapa bulan.
(ian)
Berita Terkait
Israel Aneksasi Tepi...
Israel Aneksasi Tepi Barat, Raja Yordania: Konflik Besar Akan Pecah
Apakah Yordania Sekutu...
Apakah Yordania Sekutu Rahasia Israel?
Dukung Gencatan Senjata...
Dukung Gencatan Senjata di Gaza, Ribuan Demonstran Kepung Kedubes Israel di Yordania
Netanyahu Kirim Bos...
Netanyahu Kirim Bos Mossad Temui Raja Yordania, Bahas Pencaplokan
Yordania: Penyelesaian...
Yordania: Penyelesaian Konflik Israel-Palestina Bergantung pada Solusi Dua Negara
Apakah Israel Akan Menyerang...
Apakah Israel Akan Menyerang Yordania?
Berita Terkini
China Hukum Mati Mantan...
China Hukum Mati Mantan Pejabat karena Terima Suap Rp5,8 Triliun
15 menit yang lalu
PM India Narendra Modi...
PM India Narendra Modi Disambut Jet F-16 dan Su-30 Indonesia, Diajak ke Candi Prambanan
47 menit yang lalu
4 Sinyal Putin untuk...
4 Sinyal Putin untuk KTT NATO, Kehancuran Kyiv Akibat Serangan Rudal Rusia
47 menit yang lalu
Trump Bela Intervensinya...
Trump Bela Intervensinya yang Batalkan Kartu Merah Striker AS di Piala Dunia
1 jam yang lalu
3 Alasan Pemakaman Khamenei...
3 Alasan Pemakaman Khamenei Bisa Pecahkan Rekor Sejarah, Dihadiri 15 Juta Orang
1 jam yang lalu
Ini 10 Negara yang Melarang...
Ini 10 Negara yang Melarang Masuk 2 Menteri Ekstremis Israel Ben-Gvir dan Smotrich
2 jam yang lalu
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved