Ledek Trump, Erdogan: Kecepatannya Dalam Menulis di Twitter Sulit Diikuti
Kamis, 17 Oktober 2019 - 19:57 WIB
Ledek Trump, Erdogan: Kecepatannya Dalam Menulis di Twitter Sulit Diikuti
A
A
A
ANKARA - Presiden Turki, Tayyip Erdogan meledek Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump atas kebiasaannya membuat pernyataan melalui Twitter. Erdogan menyebut, kecepatan Trump dalam membuat pernyataan di akun Twitternya sulit diikuti.
"Ketika kita melihat unggahan Twitter Trump, kita tidak bisa lagi mengikuti mereka. Kami tidak dapat melacak," kata Erdogan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (17/10/2019).
Erdogan tampaknya merujuk pada serangkaian tweet di mana Trump pertama kali membela keputusannya untuk menarik 1.000 pasukan AS dari posisi-posisi penting di timur laut Suriah, lalu secara efektif menyoroti operasi Turki dan kemudian memberikan sanksi pada Ankara.
Hubungan Erdogan dan Trump sendiri sedikit memanas, setelah Turki memulai operasi di Suriah. Erdogan dan Trump kerap saling melempark serangan verbal, terkait dengan operasi tersebut.
Terbaru, melalui sebuah surat, Trump mendesak Erdogan untuk membuat kesepakatan dengan Kurdi Suriah. Dia memperingatkan bahwa Washington mengutuk invasi itu sebagai tindakan "iblis" dan akan menghancurkan ekonomi Turki jika Erdogan tak mengindahkan peringatannya.
"Jangan menjadi pria yang tangguh. Jangan bodoh!. Sejarah akan memandang Anda dengan baik jika Anda melakukan ini dengan cara yang benar dan manusiawi. Itu akan memandang Anda selamanya sebagai iblis jika hal-hal baik tidak terjadi," tulis Trump dalam suratnya.
Trump juga meminta Erdogan untuk membuat banyak kesepakatan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Dia mencatat bahwa petinggi SDF, Jenderal Kurdi Mazloum Kobani Abdi, bersedia membuat konsesi yang mereka tidak akan pernah buat di masa lalu.
"Ketika kita melihat unggahan Twitter Trump, kita tidak bisa lagi mengikuti mereka. Kami tidak dapat melacak," kata Erdogan dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Sputnik pada Kamis (17/10/2019).
Erdogan tampaknya merujuk pada serangkaian tweet di mana Trump pertama kali membela keputusannya untuk menarik 1.000 pasukan AS dari posisi-posisi penting di timur laut Suriah, lalu secara efektif menyoroti operasi Turki dan kemudian memberikan sanksi pada Ankara.
Hubungan Erdogan dan Trump sendiri sedikit memanas, setelah Turki memulai operasi di Suriah. Erdogan dan Trump kerap saling melempark serangan verbal, terkait dengan operasi tersebut.
Terbaru, melalui sebuah surat, Trump mendesak Erdogan untuk membuat kesepakatan dengan Kurdi Suriah. Dia memperingatkan bahwa Washington mengutuk invasi itu sebagai tindakan "iblis" dan akan menghancurkan ekonomi Turki jika Erdogan tak mengindahkan peringatannya.
"Jangan menjadi pria yang tangguh. Jangan bodoh!. Sejarah akan memandang Anda dengan baik jika Anda melakukan ini dengan cara yang benar dan manusiawi. Itu akan memandang Anda selamanya sebagai iblis jika hal-hal baik tidak terjadi," tulis Trump dalam suratnya.
Trump juga meminta Erdogan untuk membuat banyak kesepakatan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF). Dia mencatat bahwa petinggi SDF, Jenderal Kurdi Mazloum Kobani Abdi, bersedia membuat konsesi yang mereka tidak akan pernah buat di masa lalu.
(esn)