Polisi Nigeria Cari Keluarga Ratusan Bocah Korban 'Rumah Penyiksaan'

Minggu, 29 September 2019 - 03:37 WIB
Polisi Nigeria Cari...
Polisi Nigeria Cari Keluarga Ratusan Bocah Korban 'Rumah Penyiksaan'
A A A
KADUNA - Pihak berwenang Nigeria berjuang keras untuk menemukan keluarga ratusan laki-laki dan anak lelaki yang dibebaskan dari sekolah yang diklaim sebagai tempat di mana beberapa orang telah dirantai, disiksa dan diduga mengalami pelecehan seksual.

Polisi membebaskan sebanyak 400 pria berusia enam hingga 50 tahun dari rumah di Kaduna di Nigeria utara dalam sebuah penggerebekan pada hari Kamis. Beberapa dari mereka dirantai ke radiator, ban atau dop velg. Sejumlah lainnya ditemukan bekas luka cambukan dan pemukulan. (Baca juga: Ratusan Bocah Dibebaskan dari 'Rumah Siksaan' Berkedok Sekolah di Nigeria )

Lebih dari selusin, termasuk 10 anak-anak, dirawat di rumah sakit pada hari Sabtu. Semua orang dewasa dalam kondisi kritis, dengan satu darah muntah.

Polisi mendirikan kemah darurat di pinggir kota dan berusaha mendaftar tahanan yang dibebaskan. Di salah satu bangunan di kamp, ​​anak-anak mengantri untuk mendaftarkan nama mereka di daftar, kemudian tertawa dan bermain sebelum disajikan sepiring mie.

Di luar, puluhan orangtua, dengan wajah khawatir, berkumpul untuk menjemput anak-anak mereka. Beberapa telah membayar uang sekolah kepada pengelola rumah itu dengan meyakini bahwa itu adalah sekolah Islam, sementara yang lain melihatnya sebagai fasilitas pemasyarakatan tanpa harapan akan pengajaran.

Juru bicara kepolisian negara bagian Kaduna, Yakubu Sabo, mengatakan perlakuan tidak manusiawi yang mereka temukan membuat rumah itu tidak mungkin dianggap sebagai sekolah Islam.

Media setempat mengatakan beberapa anak telah disiksa, kelaparan, dan bahkan mengalami pelecehan seksual.

Komisioner Layanan Kemanusiaan dan Pembangunan Sosial, Hafsat Mohammed Baba, mengatakan ada sekitar 190 orang ditemukan dalam penggerebekan itu, termasuk 113 orang dewasa dan 77 anak-anak. Alasan perbedaan dalam jumlah tidak diketaui secara jelas, tetapi pihak berwenang mengatakan beberapa dari mereka yang dibebaskan segera melarikan diri.

Polisi menggerebek situs itu setelah seorang kerabat ditolak aksesnya. Tujuh orang yang mengatakan mereka adalah guru di sekolah ditangkap.

Polisi meminta keluarga dari seluruh wilayah, dari pinggiran Kaduna ke negara-negara terdekat Ghana, Mali dan Burkina Faso, untuk mengumpulkan individu-individu. Meskipun ada laporan pelecehan, beberapa enggan kembali ke rumah dengan anggota keluarga mereka.

Sani Shuaibu yang berusia sembilan belas tahun mengatakan ia "bahagia tapi lapar" ketika dia makan sepiring spageti setelah bertemu di kamp oleh kakak perempuan dan ibunya.

Dia menghabiskan tiga bulan di gedung setelah dikirim ke sana oleh keluarganya untuk mengubah perilakunya.

Pegawai negeri Auwalu Sanni, yang berdiri dengan wajah berbatu di samping putranya yang berusia tujuh tahun, mengatakan: "Saya senang sekarang karena saya telah melihat putra saya, tetapi saya tidak senang tentang bagaimana mereka memperlakukannya," seperti dikutip dari Reuters, Minggu (29/9/2019)

Beberapa saat sebelumnya, anak itu tersenyum ketika dia dipersatukan kembali dengan ayahnya, tetapi ekspresinya berubah ketika dia menunjukkan luka-luka segar di lengan dan kaki kirinya yang dia katakan adalah akibat dipukul dengan sebatang kayu.

Mohammed Sani Abu Sha'aban, ayah dari 13 orang dari Kaduna, Nasarawa, mengirim dua putranya - Jamilu yang berusia 16 tahun dan 25 tahun - ke sekolah selama lebih dari tiga tahun.

Dia membayar USD111 per periode dan mengatakan itu telah membantu putra-putranya, terutama Salim.

"Sekarang setelah mereka dibebaskan, dia mungkin kembali ke sikap negatif masa lalunya, melarikan diri dari sekolah dan kejahatan lainnya," kata Sha'aban.

Sha'aban, yang mengatakan dia mengunjungi secara teratur dan tidak pernah melihat tanda-tanda perlakuan buruk, meminta negara untuk menjaga fasilitas Kaduna tetap terbuka.

“Penutupan sekolah benar-benar menjadi sumber keprihatinan dan sangat mengganggu kita yang memiliki anak-anak dan lingkungan yang sulit diatur,” katanya.
(ian)
Berita Terkait
Jenderal Nigeria Sebut...
Jenderal Nigeria Sebut Video Aksi Protes Berdarah di Lagos Hoaks
Siapa Gwaska Dankarami?...
Siapa Gwaska Dankarami? Gembong Bandit yang Kejam dan Selalu Bersembunyi di Hutan dan Ditakuti Tentara dan Warga Nigeria
Nigeria Berusaha Pulih...
Nigeria Berusaha Pulih dari Banjir Terburuk dalam Satu Dekade
59 Orang Tewas dalam...
59 Orang Tewas dalam Serangan Simpatisan ISIS di Pelosok Nigeria
Tegakkan Lockdown, Polisi-Tentara...
Tegakkan Lockdown, Polisi-Tentara Nigeria Bunuh 18 Warga
Brutal! Gerombolan Bandit...
Brutal! Gerombolan Bandit Bakar Bus, 30 Penumpang Tewas Terpanggang
Berita Terkini
Serangan Ekstremis Yahudi...
Serangan Ekstremis Yahudi Meningkat di Tepi Barat, Fatah Salahkan Pemerintah Israel
4 jam yang lalu
Baku Tembak Pecah di...
Baku Tembak Pecah di Tepi Barat, 1 Ekstremis Israel Tewas, 4 Warga Palestina Meninggal
6 jam yang lalu
Wali Kota Sadiq Khan...
Wali Kota Sadiq Khan Sebut Netanyahu Pelaku Genosida dan Tidak Diterima di London
6 jam yang lalu
Dituding Dukung Militer...
Dituding Dukung Militer AS, Iran Serang Pusat Data Amazon di Bahrain
7 jam yang lalu
Mesir Desak AS Percepat...
Mesir Desak AS Percepat Pengerahan Pasukan Stabilisasi Internasional di Gaza
8 jam yang lalu
AS Gencarkan Serangan...
AS Gencarkan Serangan di Iran, Houthi Izinkan Kapal-kapal China lewat Selat Bab al-Mandeb
9 jam yang lalu
Infografis
Terdeteksi, Fenomena...
Terdeteksi, Fenomena Alam Pemicu Ratusan Gempa Bumi per-Hari
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved