Berulah Lagi, Benny Wenda Minta Australia Usik Papua Barat

Rabu, 04 September 2019 - 04:58 WIB
Berulah Lagi, Benny...
Berulah Lagi, Benny Wenda Minta Australia Usik Papua Barat
A A A
JAKARTA - Benny Wenda, pentolan separatis Papua Barat yang diberi suaka politik oleh Oxford, Inggris, meminta Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison intervensi dengan mengutuk tindakan keras Indonesia terhadap demonstran pro-kemerdekaan. Ini merupakan aksi kesekian kali Wenda dalam upayanya untuk melepaskan provinsi wilayah timur itu dari Indonesia.

Dia mengatakan PM Morrison harus tampil bersuara soal apa yang terjadi di Papua Barat atau mengambil risiko yang mengubah situasi Papua Barat menjadi "Timor Leste berikutnya".

Wenda menyampaikan hal itu kepada SBS News dari Oxford, tempat dia melarikan diri pada tahun 2003 setelah bebas dari hukuman penjara 25 tahun karena keterlibatannya dalam protes pro-kemerdekaan. Dia mengatakan situasi di Papua Barat "sangat mirip" dengan perjuangan berdarah untuk kemerdekaan Timor Leste 20 tahun yang lalu.

"Itulah sebabnya saya menyerukan intervensi PBB karena saya tidak ingin ini berakhir seperti Timor Timur (Timor Leste)," katanya.

"Saya berharap Perdana Menteri Australia akan membuat pernyataan tentang situasi saat ini. Kami perlu Australia untuk keluar dan membuat pernyataan publik tentang krisis kemanusiaan di Papua Barat," katanya lagi.

Pemerintah Indonesia telah menegaskan situasi di Papua dan Papua Barat sudah kondusif. Masyarakat di wilayah timur Indonesia itu menyatakan tidak akan berdemonstrasi dengan kekerasan lagi dan mengaku telah tertipu kelompok yang mendompleng aksi mereka.

Wenda, yang merupakan pemimpin United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) atau Gerakan Serikat Pembebasan Papua Barat, berharap rakyat Australia akan keluar untuk mendukung kemerdekaan Papua Barat dengan cara yang sama mereka lakukan untuk Timor Leste.

Sekadar diketahui, ketika muncul tuntutan referendum kemerdekaan Timor Leste pada Agustus 1999, militer Indonesia dikerahkan. Sebagai tanggapan, Australia dengan cepat melakukan intervensi dengan mengerahkan pasukan resmi PBB yang dikenal sebagai INTERFET (Pasukan Internasional Timor Lorosae), yang sebagian besar terdiri dari personel Pasukan Pertahanan Australia, untuk membangun dan memelihara perdamaian di sana.

"Apa yang terjadi, Indonesia melakukan genosida dan ini adalah kejahatan terhadap kemanusiaan," tuduh Wenda. Militer Indonesia membantah tuduhan semacam itu. Begitu juga dengan misi Indonesia di PBB.

"Berapa banyak orang yang perlu dibunuh agar PBB melakukan intervensi, untuk datang ke Papua Barat dan melihat apa yang terjadi?," ujar Wenda.

Sementara itu, seorang juru bicara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia mengatakan kepada SBS News bahwa Canberra mengakui integritas dan kedaulatan wilayah Indonesia atas provinsi Papua dan Papua Barat.

"Posisi kami jelas ditentukan oleh Perjanjian Lombok antara Indonesia dan Australia," kata DFAT dalam sebuah pernyataan.

Perjanjian Lombok adalah perjanjian antara Indonesia dan Australia yang menguraikan kewajiban keamanan masing-masing negara.
(mas)
Berita Terkait
Indonesia Tolak Tuduhan...
Indonesia Tolak Tuduhan Vanuatu di Sidang Umum PBB
Australia Serukan Penyelidikan...
Australia Serukan Penyelidikan Pandemi: Dunia Perlu Tahu Asal-usul Covid-19
Biden Dukung Jepang...
Biden Dukung Jepang Jadi Anggota Tetap Dewan Keamanan PBB
RI Kembali Didapuk Jadi...
RI Kembali Didapuk Jadi Presiden DK PBB
Kunjungan Danielle Wood...
Kunjungan Danielle Wood Perkuat Kerja Sama Ekonomi Indonesia–Australia
Terima Kunjungan Airlangga,...
Terima Kunjungan Airlangga, Sekjen PBB Dukung Presidensi G20 Indonesia
Berita Terkini
AS Bombardir Iran Pagi...
AS Bombardir Iran Pagi Ini usai Trump Janji Serang Teheran Sangat Keras
11 menit yang lalu
Beberapa Jam Meninggal...
Beberapa Jam Meninggal setelah Berkunjung ke Ukraina, Siapa Lindsey Graham?
36 menit yang lalu
Perang Timur Tengah...
Perang Timur Tengah Bak Neraka: Iran Melawan AS, Arab Saudi Melawan Houthi Yaman
54 menit yang lalu
Pesawat Kiamat Rusia...
Pesawat Kiamat Rusia Mendarat di Teheran saat Iran-AS Perang, Apa Misinya?
1 jam yang lalu
Trump Beri Tahu Kongres:...
Trump Beri Tahu Kongres: AS dan Iran Resmi Perang Lagi!
2 jam yang lalu
Perang Iran Kembali...
Perang Iran Kembali Berkecamuk, Cadangan Rudal Strategis AS Terus Menipis
4 jam yang lalu
Infografis
AS Siapkan 100 Hari...
AS Siapkan 100 Hari Lagi untuk Damaikan Rusia dan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved