Mahasiswa Harvard asal Palestina Dilarang Masuk AS Gara-gara Medsos

Kamis, 29 Agustus 2019 - 07:57 WIB
Mahasiswa Harvard asal...
Mahasiswa Harvard asal Palestina Dilarang Masuk AS Gara-gara Medsos
A A A
WASHINGTON - Seorang mahasiswa baru Universitas Havard asal Palestina dilarang memasuki Amerika Serikat (AS). Dia dilarang masuk setelah diinterogasi selama berjam-jam oleh pejabat imigrasi Amerika Serikat tentang praktik keagamaannya dan aktivitas media sosial (medsos) teman-temannya.

Ismail Ajjawi, seorang pengungsi Palestina berusia 17 tahun tinggal di Lebanon. Dia memperoleh beasiswa sarjana Hope Fund dari Amideast, sebuah lembaga nirlaba AS. Dia mendarat di Boston Logan International Airport pada hari Jumat sebelum akhirnya dikirim kembali ke Lebanon.

Juru bicara Kepabeanan dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS, Michael McCarthy, dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera, mengonfirmasi larangan masuk terhadap Ajjawi. "Ajjawi dianggap tidak dapat diterima AS berdasarkan informasi yang ditemukan selama inspeksi CBP," katanya.

"CBP bertanggung jawab untuk memastikan keamanan dan penerimaan barang serta orang yang memasuki Amerika Serikat," ujarnya, yang dilansir Kamis (29/8/2019).

Ajjawi mengaku diinterogasi oleh petugas imigrasi selama berjam-jam, dengan salah seorang petugas memintanya membuka kunci ponsel dan laptopnya untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Setelah lima jam berakhir, dia memanggil saya ke sebuah ruangan dan dia mulai berteriak kepada saya. Dia mengatakan bahwa dia menemukan orang-orang mem-posting sudut pandang politik yang menentang AS dalam daftar teman saya," katanya kepada surat kabar Harvard Crimson.

Dalam pernyataan yang dikirim melalui email ke surat kabar itu, warga Palestina tersebut mengatakan bahwa dia mengatakan kepada petugas bahwa dia tidak membuat posting politik dan tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas aktivitas media sosial orang lain.

Dia mengatakan visanya kemudian dicabut dan dia sekarang kembali ke Lebanon.

"Universitas bekerja erat dengan keluarga mahasiswa dan otoritas yang sesuai untuk menyelesaikan masalah ini sehingga dia dapat bergabung dengan teman-teman sekelasnya dalam beberapa hari mendatang," kata Jason Newton, associate director hubungan media di Universitas Harvard, kepada Al Jazeera.
(mas)
Berita Terkait
3 Alasan Donald Trump...
3 Alasan Donald Trump Mengusir Para Simpatisan Palestina dari Amerika Serikat
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Menang Pilpres AS 2024,...
Menang Pilpres AS 2024, Ini Rencana Perdamaian Donald Trump untuk Palestina dan Israel
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Palestina Sambut Gembira...
Palestina Sambut Gembira Kekalahan Donald Trump di Pemilu AS
Berita Terkini
Diduga Terlibat dalam...
Diduga Terlibat dalam Skandal Seks, Bill Gates Hadapi Sidang di DPR AS
1 jam yang lalu
Pakar Militer Klaim...
Pakar Militer Klaim Iran Ingin Memulihkan Daya Tolak Terhadap Serangan AS
1 jam yang lalu
Bagaimana AS Kehilangan...
Bagaimana AS Kehilangan Helikopter Apache Pertama dalam Perang dengan Iran?
2 jam yang lalu
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
3 jam yang lalu
Pilot Air Canada Ini...
Pilot Air Canada Ini Dituduh Terbang selama 17 Tahun Tanpa Lisensi yang Sah
4 jam yang lalu
Imigran Sudan Tikam...
Imigran Sudan Tikam Warga Lokal, Kerusuhan Pecah di Irlandia Utara
6 jam yang lalu
Infografis
43 Negara yang akan...
43 Negara yang akan Dilarang Masuk ke Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved