Serangan Udara Bikin Bocah Suriah Buta dengan Luka Wajah Mengerikan
Rabu, 21 Agustus 2019 - 05:52 WIB
Serangan Udara Bikin Bocah Suriah Buta dengan Luka Wajah Mengerikan
A
A
A
BEIRUT - Jouma, nama bocah Suriah berusia 4 tahun ini. Kedua matanya buta dan menderita luka wajah yang mengerikan akibat serangan udara ketika dia dan keluarganya meninggalkan zona perang setahun lalu.
Jouma dan keluarganya berhasil meninggalkan zona perang di negaranya dan kini jadi pengungsi di lingkungan miskin di Beirut, Lebanon.
Meski sudah setahun berlalu, bocah itu masih berdarah karena luka-lukanya dan pecahan-pecahan kaca masih keluar dari kulitnya.
Dia tidak dapat melihat, yang membuat indranya yang lain menjadi lebih kuat. Dia menyentuh wajah orang-orang untuk mengenalinya ketika bertemu.
Jouma merupakan keluarga Kurdi Suriah. Dia, orangtuanya dan dua saudara kandungnya kini hidup bersama di sebuah kamar kecil dan berharap mendapat suaka di negara Eropa.
Mereka baru-baru ini diwawancarai oleh BBC, yang mengunjungi mereka di blok apartemen untuk mencari tahu bagaimana keadaan mereka dan apa harapan mereka untuk masa depan.
Rekaman menunjukkan Jouma tersenyum ketika ayahnya menciumnya. Dia bermain dengan anak laki-laki lain dan berjalan tanpa bantuan menuruni tangga. Bocah kecil itu mengandalkan sentuhan untuk menghafal wajah orang.
Dia menikmati waktu bermain dengan kamera dan mikrofon milik kru BBC, di mana ia belajar menggunakannya tanpa melihat.
Jurnalis video BBC, Eloise Alanna, yang bertemu keluarga Jouma itu mengatakan dalam sebuah video; "Ini adalah dampak dari serangan udara setahun (yang lalu)."
"Ketika saya pertama kali melihat Jouma, kaget melihat wajahnya. Ketika saya melihat kaki ayahnya hanya dengan dua jari, itu mengejutkan," ujarnya.
"Tapi kemudian segera, langsung setelah itu, Anda melihatnya seperti apa dia sebenarnya—sebagai bocah lelaki berusia empat tahun yang penasaran dengan dunia dan dipuja oleh orangtuanya," ujar Alanna.
Keluarga itu berasal dari daerah pedesaan di Suriah utara, tetapi terpaksa mengungsi pada tahun 2018.
Ketika bus yang mereka tumpangi dihantam serangan udara, sebuah jendela kaca yang pecah "menghancurkan" wajah Jouma. Saat itu usia Jouma masih tiga tahun. Cedera fisik secara sekilas berangsung pulih, namun bekas luka emosionalnya masih ada.
Keluarga itu menceritakan bagaimana mereka kesulitan tidur di malam hari. Ayah Jouma tidak dapat mengingat hal-hal itu karena cedera traumatis yang dideritanya.
"Yang paling mengejutkan saya bukan hanya luka fisik yang parah, tetapi juga efek traumatis dan psikologis yang mendalam dari pengalaman mereka," kata Alanna.
"Sang ayah mulai melupakan hal-hal itu, mereka mengatakan sangat sulit untuk tidur di malam hari dan trauma psikologis ini akan menyertai mereka selama sisa hidup mereka," ujarnya, dikutip Mirror, Rabu (21/8/2019).
Jouma dan keluarganya berhasil meninggalkan zona perang di negaranya dan kini jadi pengungsi di lingkungan miskin di Beirut, Lebanon.
Meski sudah setahun berlalu, bocah itu masih berdarah karena luka-lukanya dan pecahan-pecahan kaca masih keluar dari kulitnya.
Dia tidak dapat melihat, yang membuat indranya yang lain menjadi lebih kuat. Dia menyentuh wajah orang-orang untuk mengenalinya ketika bertemu.
Jouma merupakan keluarga Kurdi Suriah. Dia, orangtuanya dan dua saudara kandungnya kini hidup bersama di sebuah kamar kecil dan berharap mendapat suaka di negara Eropa.
Mereka baru-baru ini diwawancarai oleh BBC, yang mengunjungi mereka di blok apartemen untuk mencari tahu bagaimana keadaan mereka dan apa harapan mereka untuk masa depan.
Rekaman menunjukkan Jouma tersenyum ketika ayahnya menciumnya. Dia bermain dengan anak laki-laki lain dan berjalan tanpa bantuan menuruni tangga. Bocah kecil itu mengandalkan sentuhan untuk menghafal wajah orang.
Dia menikmati waktu bermain dengan kamera dan mikrofon milik kru BBC, di mana ia belajar menggunakannya tanpa melihat.
Jurnalis video BBC, Eloise Alanna, yang bertemu keluarga Jouma itu mengatakan dalam sebuah video; "Ini adalah dampak dari serangan udara setahun (yang lalu)."
"Ketika saya pertama kali melihat Jouma, kaget melihat wajahnya. Ketika saya melihat kaki ayahnya hanya dengan dua jari, itu mengejutkan," ujarnya.
"Tapi kemudian segera, langsung setelah itu, Anda melihatnya seperti apa dia sebenarnya—sebagai bocah lelaki berusia empat tahun yang penasaran dengan dunia dan dipuja oleh orangtuanya," ujar Alanna.
Keluarga itu berasal dari daerah pedesaan di Suriah utara, tetapi terpaksa mengungsi pada tahun 2018.
Ketika bus yang mereka tumpangi dihantam serangan udara, sebuah jendela kaca yang pecah "menghancurkan" wajah Jouma. Saat itu usia Jouma masih tiga tahun. Cedera fisik secara sekilas berangsung pulih, namun bekas luka emosionalnya masih ada.
Keluarga itu menceritakan bagaimana mereka kesulitan tidur di malam hari. Ayah Jouma tidak dapat mengingat hal-hal itu karena cedera traumatis yang dideritanya.
"Yang paling mengejutkan saya bukan hanya luka fisik yang parah, tetapi juga efek traumatis dan psikologis yang mendalam dari pengalaman mereka," kata Alanna.
"Sang ayah mulai melupakan hal-hal itu, mereka mengatakan sangat sulit untuk tidur di malam hari dan trauma psikologis ini akan menyertai mereka selama sisa hidup mereka," ujarnya, dikutip Mirror, Rabu (21/8/2019).
(mas)