Trump dan Jinping Diyakini Bisa Redam Konflik Langsung AS-China
Jum'at, 09 Agustus 2019 - 14:25 WIB
Trump dan Jinping Diyakini Bisa Redam Konflik Langsung AS-China
A
A
A
WASHINGTON - Manajer Senior Urusan Politik dan Keamanan Biro Nasional Penelitian Asia Amerika Serikat (AS) atau NBR, Brian Fetchel, menyatakan potensi konflik langsung antara AS dan China sangat tinggi.
"Saya kira potensi konflik selalu dipikirkan oleh pemerintah dan ini sepertinya lingkungan secara umum menjadi semakin rumit di mana konflik terlihat semakin mungkin terjadi, terutama ketika hubungan bilateral dalam berbagai area hanya berputar-putar," ujar Fetchel.
"Jadi, kita memiliki contoh ketika China dan Rusia bekerja sama dalam melakukan patroli bersama dan latihan bersama di kawasan dan juga potensi melakukan patroli di arena di mana beberapa negara memiliki konflik teritori dan akan meningkatkan tensi. Mungkin menjadi pro-aktif dan mengambil keuntungan dari hal itu, saya percaya cukup berdampak pada keamanan dan tentu saja membuat potensi konflik semakin besar," sambungnya, Washington, Kamis (8/8/2019).
Namun, ia menuturkan meski potensi konflik sangat tinggi, baik Presiden AS Donald Trump ataupun Presiden China Xi Jinping akan berusaha untuk menghindari terjadinya konflik lebih lanjut diantara kedua negara.
"Pada saat yang sama, jika berbicara mengenai negara besar, baik AS dan China memiliki banyak resiko. Saya kira dalam banyak hal, kita bisa melihat tindakan China yang semakin agresif. Tapi di sisi lain kita juga melihat elemen kewaspadaan di dalamnya dan juga mencari cara bagaimana keluar dari itu tanpa bertindak terlalu jauh. Jadi tidak akan ada aksi yang meningkatkan ketegangan secara cepat," tuturnya.
Hal ini, kata Fetchel, juga berlaku bagi AS. Trump pada akhirnya memiliki perjanjian perdagangan yang bekerja dengan baik dan itu sangat menguntungkan AS dan tentu itu akan meningkatkan kemungkinan dia menang dalam pemilu berikutnya.
"Untuk China, pasar AS sangatlah penting, yang saya percaya ini akan menjadi faktor penting dan akan menstabilkan situasi ketika hubungan kedua negara terus memburuk," tukasnya.
"Saya kira potensi konflik selalu dipikirkan oleh pemerintah dan ini sepertinya lingkungan secara umum menjadi semakin rumit di mana konflik terlihat semakin mungkin terjadi, terutama ketika hubungan bilateral dalam berbagai area hanya berputar-putar," ujar Fetchel.
"Jadi, kita memiliki contoh ketika China dan Rusia bekerja sama dalam melakukan patroli bersama dan latihan bersama di kawasan dan juga potensi melakukan patroli di arena di mana beberapa negara memiliki konflik teritori dan akan meningkatkan tensi. Mungkin menjadi pro-aktif dan mengambil keuntungan dari hal itu, saya percaya cukup berdampak pada keamanan dan tentu saja membuat potensi konflik semakin besar," sambungnya, Washington, Kamis (8/8/2019).
Namun, ia menuturkan meski potensi konflik sangat tinggi, baik Presiden AS Donald Trump ataupun Presiden China Xi Jinping akan berusaha untuk menghindari terjadinya konflik lebih lanjut diantara kedua negara.
"Pada saat yang sama, jika berbicara mengenai negara besar, baik AS dan China memiliki banyak resiko. Saya kira dalam banyak hal, kita bisa melihat tindakan China yang semakin agresif. Tapi di sisi lain kita juga melihat elemen kewaspadaan di dalamnya dan juga mencari cara bagaimana keluar dari itu tanpa bertindak terlalu jauh. Jadi tidak akan ada aksi yang meningkatkan ketegangan secara cepat," tuturnya.
Hal ini, kata Fetchel, juga berlaku bagi AS. Trump pada akhirnya memiliki perjanjian perdagangan yang bekerja dengan baik dan itu sangat menguntungkan AS dan tentu itu akan meningkatkan kemungkinan dia menang dalam pemilu berikutnya.
"Untuk China, pasar AS sangatlah penting, yang saya percaya ini akan menjadi faktor penting dan akan menstabilkan situasi ketika hubungan kedua negara terus memburuk," tukasnya.
(ian)