Darwin Disebut Lokasi untuk Rudal AS, Ini Jaraknya dari Indonesia

Senin, 05 Agustus 2019 - 11:38 WIB
Darwin Disebut Lokasi...
Darwin Disebut Lokasi untuk Rudal AS, Ini Jaraknya dari Indonesia
A A A
SYDNEY - Darwin, Australia, disebut-sebut menjadi salah satu lokasi penempatan rudal berbasis darat Amerika Serikat (AS) untuk Asia-Pasifik. Lokasi wilayah itu berjarak sekitar 2.719 kilometer dari Jakarta, Indonesia .

Rencana penempatan rudal berbasis darat di Asia-Pasifik itu muncul setelah Perjanjian Intermediate-Range Nuclear Forces (INF) antara Amerika Serikat dengan Rusia runtuh.

Washington resmi keluar dari pakta kontrol senjata nuklir era Perang Dingin itu 2 Agustus lalu dengan alasan Moskow melanggar perjanjian. Perjanjian INF 1987 melarang pengembangan, penempatan dan uji coba rudal berbasis darat yang memiliki jangkauan 500 kilometer hingga 5.500 kilometer.

Washington telah membahas masalah penempatan misil itu dengan Australia dalam forum AUSMIN (Australia-United States Ministerial Consultation) hari Minggu kemarin.

Upaya Washington menempatkan misil berbasis darat itu sebagai upaya untuk melawan ekspansi China di kawasan Asia Pasifik.

Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan kepada wartawan dia ingin melihat senjata berbasis darat ditempatkan di Asia sebagai pencegah militer di tengah apa yang dia anggap sebagai "era persaingan kekuatan besar".

Ketika ditanya tentang prospek rudal darat non-nuklir AS yang ditempatkan di utara Australia, Menteri Luar Negeri Marise Payne dan Menteri Pertahanan Linda Reynolds memilih bungkam.

"Dalam hal keterlibatan regional kami, izinkan saya juga memastikan dan mengingatkan bahwa untuk China dan Australia, kami melihat China sebagai mitra yang sangat penting," kata Payne.

Laporan yang menyebut Darwin sebagai lokasi potensial untuk penempatan rudal berbasis darat adalah media Australia, 9news.com.au. "Jika AS mengembangkan senjata dengan jangkauan 5500 kilometer, China selatan akan nyaman dalam jangkauan rudal yang ditempatkan di Darwin," tulis media tersebut, Senin (5/8/2019).

Menteri Pertahanan Linda Reynolds mengaku membahas masalah itu dengan Menteri Pertahanan AS Mark Esper. "Saya memang membahasnya kemarin dengan Menteri Esper dan dia mengonfirmasi bahwa tidak ada permintaan dari Australia dan tidak ada yang diharapkan," katanya kepada ABC Radio National.

"Anda akan mengharapkan Menteri Pertahanan AS untuk menyelidiki semua masalah ini mengingat apa yang terjadi di Indo-Pasifik, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa dia tidak membuat permintaan dan dia tidak mengantisipasi permintaan apa pun," ujarnya.

Namun, selama pertemuan itu, Esper mengatakan dia ingin memasang hulu ledak konvensional jarak menengah di Asia-Pasifik.

"Kami sekarang bebas jika Anda ingin mengembangkan jangkauan senjata itu, 500 kilometer hingga 5.500 kilometer yang belum tersedia bagi kami dari postur penangkal yang berbasis di darat," kata Esper pada konferensi pers pasca-pembicaraan.

“Saya pikir pada tingkat yang memungkinkan kita untuk merancang dan mengembangkan, menguji dan akhirnya menyebarkan sistem, apakah itu di Eropa, apakah itu di Asia-Pasifik atau di tempat lain, memberi kita dan berisi postur pencegah yang ingin kita lakukan untuk mencegah konflik di wilayah mana pun yang kami sebarkan melalui konsultasi dengan sekutu dan mitra kami."

Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo kemudian mengatakan; “Keputusan yang jujur ​​tentang penempatan pasukan, rudal dan senjata, semua hal yang kami lakukan adalah hal-hal yang terus kami evaluasi. Kami ingin memastikan bahwa kami melindungi mitra kami, melindungi kepentingan Amerika."

Pompeo menekankan bahwa rudal tidak akan dikerahkan di Darwin atau di tempat lain tanpa dukungan Canberra.

"Ketika kami menggunakan sistem ini di seluruh dunia dengan teman dan sekutu kami melakukannya dengan persetujuan mereka," katanya.
(mas)
Berita Terkait
AS Ternyata Uji Rudal...
AS Ternyata Uji Rudal Tomahawk sebelum Rusia Jajal Triad Nuklir
Seteru dengan Rusia...
Seteru dengan Rusia dan China Memanas, AS Bikin Rudal Jelajah Nuklir Berbasis Laut
Rusia Terindikasi Bersiap...
Rusia Terindikasi Bersiap Uji Coba Rudal Skyfall Bertenaga Nuklir
Apa itu Perjanjian Nuklir...
Apa itu Perjanjian Nuklir New START?
Rudal Nuklir Burevestnik...
Rudal Nuklir Burevestnik Rusia Dianggap Senjata Pengubah Permainan yang Usik Golden Dome AS
Spesifikasi Rudal Jelajah...
Spesifikasi Rudal Jelajah Anti-Kapal CM-302 China, Berkecepatan Supersonik dengan Jangkau 290 Km
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
45 menit yang lalu
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
1 jam yang lalu
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
4 jam yang lalu
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
6 jam yang lalu
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
8 jam yang lalu
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
8 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved