Tarik Hizbullah dari Suriah, AS Klaim Sukses Tekan Iran
Kamis, 30 Mei 2019 - 15:18 WIB
Tarik Hizbullah dari Suriah, AS Klaim Sukses Tekan Iran
A
A
A
WASHINGTON - Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) mengatakan Iran telah menarik pasukan Hizbullah dari Suriah. Hal itu tidak lepas dari kampanye tekanan Washington terhadap Teheran, termasuk sanksi dan penyebaran militer.
"Kampanye kami berhasil. Kampanye ini membuat para proksi Iran kekurangan dana yang mereka andalkan untuk beroperasi atas nama rezim," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus, dalam konferensi pers.
"Kami akan terus memberikan tekanan maksimum pada rezim Iran guna menangkal alat yang digunakan untuk melakukan kebijakan luar negerinya yang merusak," imbuhnya seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (30/5/2019).
Ortagus mengutip New York Times dan surat kabar Washington Post yang melaporkan sanksi Amerika terhadap Iran telah membatasi kemampuan Teheran untuk sepenuhnya mendanai kelompok-kelompok proksi di seluruh Timur Tengah, termasuk Hizbullah.
Washington Post melaporkan pemotongan dana Hizbullah sangat parah sehingga para anggotanya menerima pemotongan gaji dan banyak yang ditarik dari Suriah di mana mereka memainkan peran penting dalam pertempuran atas nama Presiden Bashar al-Assad dan memastikan kelangsungan hidupnya.
Washington memperbarui tekanan tinggi terhadap Iran pada Mei, mengakhiri pengabaian bagi negara-negara untuk terus membeli minyak Iran sementara sanksi dilakukan. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan tujuannya adalah untuk membawa ekspor Iran ke titik nol.
Ketegangan antara Iran dan AS terus meningkat sejak 2017, ketika Presiden AS Donald Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir penting antara Teheran dan kelompok negara-negara P5+1 - lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman.
Sejak itu, pemerintahan Trump telah memberlakukan kembali sanksi terhadap perbankan dan sektor energi Iran, sementara Iran telah mengancam untuk menutup Selat Hormuz yang strategis dengan pengiriman minyak AS.
Awal bulan ini, AS mengirim kelompok tempur kapal induk, satuan tugas pembom dan baterai rudal Patriot ke Timur Tengah, dengan menyebut "ancaman yang dapat dipercaya" dari Teheran. Trump juga mengkonfirmasi bahwa AS akan mengirim 1.500 tentara ke wilayah tersebut.
"Kampanye kami berhasil. Kampanye ini membuat para proksi Iran kekurangan dana yang mereka andalkan untuk beroperasi atas nama rezim," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Morgan Ortagus, dalam konferensi pers.
"Kami akan terus memberikan tekanan maksimum pada rezim Iran guna menangkal alat yang digunakan untuk melakukan kebijakan luar negerinya yang merusak," imbuhnya seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (30/5/2019).
Ortagus mengutip New York Times dan surat kabar Washington Post yang melaporkan sanksi Amerika terhadap Iran telah membatasi kemampuan Teheran untuk sepenuhnya mendanai kelompok-kelompok proksi di seluruh Timur Tengah, termasuk Hizbullah.
Washington Post melaporkan pemotongan dana Hizbullah sangat parah sehingga para anggotanya menerima pemotongan gaji dan banyak yang ditarik dari Suriah di mana mereka memainkan peran penting dalam pertempuran atas nama Presiden Bashar al-Assad dan memastikan kelangsungan hidupnya.
Washington memperbarui tekanan tinggi terhadap Iran pada Mei, mengakhiri pengabaian bagi negara-negara untuk terus membeli minyak Iran sementara sanksi dilakukan. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan tujuannya adalah untuk membawa ekspor Iran ke titik nol.
Ketegangan antara Iran dan AS terus meningkat sejak 2017, ketika Presiden AS Donald Trump menarik Washington dari perjanjian nuklir penting antara Teheran dan kelompok negara-negara P5+1 - lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB, ditambah Jerman.
Sejak itu, pemerintahan Trump telah memberlakukan kembali sanksi terhadap perbankan dan sektor energi Iran, sementara Iran telah mengancam untuk menutup Selat Hormuz yang strategis dengan pengiriman minyak AS.
Awal bulan ini, AS mengirim kelompok tempur kapal induk, satuan tugas pembom dan baterai rudal Patriot ke Timur Tengah, dengan menyebut "ancaman yang dapat dipercaya" dari Teheran. Trump juga mengkonfirmasi bahwa AS akan mengirim 1.500 tentara ke wilayah tersebut.
(ian)