Eks Imam Masjidil Haram: Di Era Nabi, Pria-Wanita Tak Dipisah saat Salat

Kamis, 30 Mei 2019 - 07:06 WIB
Eks Imam Masjidil Haram:...
Eks Imam Masjidil Haram: Di Era Nabi, Pria-Wanita Tak Dipisah saat Salat
A A A
MAKKAH - Mantan imam Masjidil Haram di Arab Saudi, Adel al-Kalbani mengecam pemisahan jender atau pemisahan antara laki-laki dan perempuan dalam praktik berdoa di masjid, termasuk salat. Menurutnya, pemisahan jender kini telah menjadi fobia atau ketakutan terhadap perempuan.

Kecaman itu disampaikan saat berbicara di Saudi Broadcasting Corp (SBC) minggu ini.

Ulama ini telah berulang kali menentang kepercayaan mainstream (arus utama), termasuk menolak untuk menganggap Muslim Syiah sebagai pelaku bid'ah.

Al-Kalbani berpendapat bahwa interpretasi modern tentang pemisahan jender lebih konservatif daripada yang ada di zaman Nabi Muhammad.

Menurutnya, pada masa awal Islam, pria dan wanita biasa berdoa atau salat di ruang yang sama, sedangkan di masjid modern wanita memiliki ruang terpisah untuk salat.

“Sayangnya hari ini, kami paranoid—di masjid—(sebagai) tempat ibadah. Mereka sepenuhnya terpisah dari laki-laki, mereka tidak dapat melihatnya dan hanya dapat mendengarnya melalui mikrofon atau speaker," katanya.

"Dan jika suara itu terputus, mereka tidak akan tahu apa yang sedang terjadi (selama doa). Di zaman Nabi (Muhammad), para lelaki biasanya salat di depan dan para wanita salat di belakang tanpa sekat, bahkan tanpa tirai," ujarnya, seperti dikutip dari Arab News, Kamis (30/5/2019).

Dia, bagaimanapun, mencatat perubahan positif dalam masyarakat Saudi, yang telah menjadi lebih inklusif terhadap wanita, termasuk keputusan Kerajaan yang mencabut larangan wanita untuk mengemudikan kendaraan.

“Ini semacam fobia wanita. Sampai baru-baru ini, kami takut memberinya mobil, membiarkannya pergi. Kami mulai terus-menerus mendengar bahwa seorang wanita menjadi wakil menteri, duta besar dan posisi berpangkat tinggi lainnya," ujarnya.

Perubahan drastis dibawa ke dalam kehidupan perempuan Saudi ketika Putra Mahkota Mohammad bin Salman mengumumkan serangkaian reformasi terkait bidang sosial-ekonomi dan budaya sebagai bagian dari proyek Visi 2030-nya.

Setelah membuka dunia hiburan bagi wanita, kerajaan itu telah menjadi tuan rumah seluruh rangkaian konser—khusus wanita dan campuran—, festival budaya pop, dan perayaan hari nasional tanpa pemisahan jender.
(mas)
Berita Terkait
Begini Suasana Perayaan...
Begini Suasana Perayaan Hari Valentine di Arab Saudi
Arab Saudi Segera Buka...
Arab Saudi Segera Buka Toko Alkohol Pertama
Pangeran Badr bin Abdul...
Pangeran Badr bin Abdul Mohsin yang Memajukan Tradisi dan Budaya Saudi Meninggal pada Usia 75 Tahun
Anak Muda Saudi Ini...
Anak Muda Saudi Ini Ubah Gurun Pasir Jadi Ladang Pertanian yang Menarik Wisatawan Asing
3 Alasan PM Netanyahu...
3 Alasan PM Netanyahu Meminta Raja Salman Mendirikan Negara Palestina di Arab Saudi
Arab Saudi Bertambah...
Arab Saudi Bertambah Kaya Raya, Ternyata Ini 3 Penyebabnya
Berita Terkini
IRGC Seharusnya Jadi...
IRGC Seharusnya Jadi Teladan bagi Negara Muslim di Seluruh Dunia
2 jam yang lalu
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
3 jam yang lalu
Pasokan Senjata Rapuh,...
Pasokan Senjata Rapuh, Presiden Trump Dorong Produksi Massal
4 jam yang lalu
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
5 jam yang lalu
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
6 jam yang lalu
AS dan Iran Berdamai,...
AS dan Iran Berdamai, MBS: Semua untuk Kepentingan Bersama
7 jam yang lalu
Infografis
5 Manfaat Tomat, Menjaga...
5 Manfaat Tomat, Menjaga Daya Tahan Tubuh di Musim Tak Menentu
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved