Pengadilan AS Vonis Agen Rusia Maria Butina 18 Bulan Penjara
Sabtu, 27 April 2019 - 07:46 WIB
Pengadilan AS Vonis Agen Rusia Maria Butina 18 Bulan Penjara
A
A
A
WASHINGTON - Hakim federal Amerika Serikat (AS) memvonis seorang warga negara Rusia, Maria Butina, 18 bulan penjara atas tuduhan konspirasi, Jumat (26/4/2019) waktu setempat. Butina mengaku bersalah karena mencoba menyusup ke lingkaran politik konservatif dan mempromosikan kepentingan Rusia sebelum dan sesudah pemilu presiden pada 2016.
Butina menjadi warga negara Rusia pertama yang dihukum karena kejahatan yang berkaitan dengan Pemilu 2016. Namun, upayanya untuk menyusup ke lingkaran Partai Republik tampaknya terpisah dengan campur tangan Kremlin seperti yang tertuang dalam laporkan penasihat khusus Robert Mueller.
Aktivis hak-hak senjata berusia 30 tahun itu telah dipenjara sejak penangkapannya pada bulan Juli dan akan menerima pengurangan masa hukuman sembilan bulan. Ia akan dideportasi ke Rusia setelah menjalani hukumannya.
"Ini bukan kesalahpahaman sederhana oleh seorang mahasiswa asing yang terlalu bersemangat," kata Hakim Tanya Chutkan seperti dikutip dari CNN, Sabtu (27/4/2019).
Chutkan mengatakan bahwa Butina, yang belajar di Universitas Amerika di Washington, terlibat dalam pekerjaan atas nama pejabat Rusia yang "canggih" dan "berbahaya."
"Tindakan itu canggih dan menembus jauh ke dalam organisasi politik," jelas Chutkan, berpihak pada rekomendasi hukuman pemerintah dan mencatat bahwa tindakan Butina terjadi ketika Rusia secara aktif berusaha ikut campur dalam proses demokrasi AS.
Butina sendiri mengaku menyesal atas kejahatannya dan meminta pengampunan di persidangan.
"Saya sangat menyesali kejahatan ini," kata Butina. "Ironisnya itu telah merusak upaya saya untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara," imbuhnya.
"Saya datang ke AS bukan di bawah perintah tetapi dengan harapan," kata Butina. "Saya berusaha membangun jembatan antara tanah air saya dan negara yang saya cintai," sambungnya.
"Saya tidak pernah ingin menyakiti siapa pun," ujarnya.
Dalam pernyataannya di pengadilan selama lima menit itu, Butina mengulangi keinginan untuk kembali ke AS.
"Saya masih menyimpan bisikan di hati saya untuk suatu hari kembali ke negara ini, tetapi saya tahu keinginan ini hanyalah mimpi."
Sementara jaksa penuntut telah mengakui bahwa Butina bukan mata-mata dalam pengertian umum. Meski begitu mereka berpendapat bahwa kejahatannya masih dapat membahayakan keamanan nasional.
Butina mengaku bersalah pada Desember lalu atas satu tuduhan konspirasi untuk bertindak sebagai agen pejabat asing. Ia mengaku menggunakan kontaknya di lingkaran politik Partai Republik, di National Rifle Association dan di National Prayer Breakfast untuk mempengaruhi hubungan AS dengan Rusia.
Sebagai bagian dari kesepakatan pembelaannya, Butina telah bekerja sama secara luas dengan pemerintah. Sebuah sumber mengatakan dia memberikan informasi tentang pacarnya, politisi Partai Republik Paul Erickson, yang diduga terlibat dalam rencananya.
Sejauh ini, Erickson belum menghadapi dakwaan. Erickson didakwa pada Februari lalu atas tuduhan penipuan kawat dan pencucian uang dalam kasus terpisah di South Dakota. Namun ia mengaku tidak bersalah atas tuduhan federal.
Butina menjadi warga negara Rusia pertama yang dihukum karena kejahatan yang berkaitan dengan Pemilu 2016. Namun, upayanya untuk menyusup ke lingkaran Partai Republik tampaknya terpisah dengan campur tangan Kremlin seperti yang tertuang dalam laporkan penasihat khusus Robert Mueller.
Aktivis hak-hak senjata berusia 30 tahun itu telah dipenjara sejak penangkapannya pada bulan Juli dan akan menerima pengurangan masa hukuman sembilan bulan. Ia akan dideportasi ke Rusia setelah menjalani hukumannya.
"Ini bukan kesalahpahaman sederhana oleh seorang mahasiswa asing yang terlalu bersemangat," kata Hakim Tanya Chutkan seperti dikutip dari CNN, Sabtu (27/4/2019).
Chutkan mengatakan bahwa Butina, yang belajar di Universitas Amerika di Washington, terlibat dalam pekerjaan atas nama pejabat Rusia yang "canggih" dan "berbahaya."
"Tindakan itu canggih dan menembus jauh ke dalam organisasi politik," jelas Chutkan, berpihak pada rekomendasi hukuman pemerintah dan mencatat bahwa tindakan Butina terjadi ketika Rusia secara aktif berusaha ikut campur dalam proses demokrasi AS.
Butina sendiri mengaku menyesal atas kejahatannya dan meminta pengampunan di persidangan.
"Saya sangat menyesali kejahatan ini," kata Butina. "Ironisnya itu telah merusak upaya saya untuk meningkatkan hubungan antara kedua negara," imbuhnya.
"Saya datang ke AS bukan di bawah perintah tetapi dengan harapan," kata Butina. "Saya berusaha membangun jembatan antara tanah air saya dan negara yang saya cintai," sambungnya.
"Saya tidak pernah ingin menyakiti siapa pun," ujarnya.
Dalam pernyataannya di pengadilan selama lima menit itu, Butina mengulangi keinginan untuk kembali ke AS.
"Saya masih menyimpan bisikan di hati saya untuk suatu hari kembali ke negara ini, tetapi saya tahu keinginan ini hanyalah mimpi."
Sementara jaksa penuntut telah mengakui bahwa Butina bukan mata-mata dalam pengertian umum. Meski begitu mereka berpendapat bahwa kejahatannya masih dapat membahayakan keamanan nasional.
Butina mengaku bersalah pada Desember lalu atas satu tuduhan konspirasi untuk bertindak sebagai agen pejabat asing. Ia mengaku menggunakan kontaknya di lingkaran politik Partai Republik, di National Rifle Association dan di National Prayer Breakfast untuk mempengaruhi hubungan AS dengan Rusia.
Sebagai bagian dari kesepakatan pembelaannya, Butina telah bekerja sama secara luas dengan pemerintah. Sebuah sumber mengatakan dia memberikan informasi tentang pacarnya, politisi Partai Republik Paul Erickson, yang diduga terlibat dalam rencananya.
Sejauh ini, Erickson belum menghadapi dakwaan. Erickson didakwa pada Februari lalu atas tuduhan penipuan kawat dan pencucian uang dalam kasus terpisah di South Dakota. Namun ia mengaku tidak bersalah atas tuduhan federal.
(ian)