Trump Pertimbangkan Tempatkan Migran Ilegal di Kota Suaka

Sabtu, 13 April 2019 - 01:11 WIB
Trump Pertimbangkan...
Trump Pertimbangkan Tempatkan Migran Ilegal di Kota Suaka
A A A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) membenarkan sedang mempertimbangkan untuk menempatkan migran yang tidak mempunyai dokumen di kota suaka. Sebuah langkah yang diyakini akan merepotkan politisi Partai Demokrat.

Minggu ini dilaporkan bahwa pejabat Gedung Putih telah mempertimbangkan rencana untuk melepaskan migran yang ditahan di perbatasan di kota-kota seperti San Francisco. Hal itu dilakukan untuk membalas kritikan terhadap Presiden.

The Washington Post, yang memperoleh email internal yang menunjukkan para pejabat di departemen keamanan dalam negeri membahas gagasan itu, mengungkapkan masalah itu dikemukakan setidaknya dua kali dalam enam bulan terakhir.

Kota-kota suaka adalah tempat-tempat di mana pejabat lokal menolak menyerahkan imigran ilegal untuk dideportasi, kata surat kabar itu, dan selalu dikendalikan oleh legislator Partai Demokrat.

Laporan itu mengatakan departemen hukum lembaga imigrasi dan bea cukai negara itu, sering disebut sebagai ICE, telah menolak proposal tersebut.

Namun pada hari Jumat, Trump mengklaim gagasan itu masih mendapat pertimbangan kuat.

"Karena fakta bahwa Partai Demokrat tidak mau mengubah undang-undang imigrasi kami yang sangat berbahaya, kami memang, seperti yang dilaporkan, memberikan pertimbangan kuat untuk menempatkan imigran ilegal di kota suaka saja," kata Tump di akun Twitternya.

"Kelompok radikal kiri tampaknya selalu memiliki perbatasan terbuka, kebijakan senjata terbuka - jadi ini seharusnya membuat mereka sangat bahagia!" imbuhnya seperti dikutip dari Independent, Sabtu (13/4/2019).

Gagasan kota suaka pertama kali dikembangkan pada 1980-an sebagai tantangan terhadap penolakan pemerintah AS untuk memberikan suaka kepada pengungsi Amerika Tengah tertentu.

Gagasan ini telah mengambil kepentingan dan energi baru sejak terpilihnya Trump, yang terus-menerus memposisikan dirinya sebagai garis keras imigrasi, sesuatu yang telah meningkat ketika jumlah migran yang mencari suaka di perbatasan AS-Meksiko telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Juru bicara Ketua DPR AS Nancy Pelosi, Ashley Etienne mengatakan, distrik pemimpinnya di San Francisco adalah salah satu yang menjadi target Gedung Putih. Ia pun mengecam pemerintah AS karena sinisme dan kekejaman atas rencana tersebut.

"Menggunakan manusia - termasuk anak-anak kecil - sebagai pion dalam permainan mereka untuk melanggengkan ketakutan dan menjelek-jelekkan imigran adalah hina, dan dalam beberapa kasus, kriminal," ujarnya.

"Warga Amerika dengan tegas menolak kebijakan anti-imigran beracun pemerintahan ini," imbuhnya.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Tak Jadi Ditahan, Usai...
Tak Jadi Ditahan, Usai Diperiksa Donal Trump Kembali ke Florida
Berita Terkini
Saling Serang dan Ancam,...
Saling Serang dan Ancam, Perang AS dan Iran Bisa Berlarut-larut selama Berbulan-bulan
30 menit yang lalu
Peta Politik Malaysia...
Peta Politik Malaysia Terus Berubah Warna, PM Anwar Ibrahim Kian Tersudut
1 jam yang lalu
Mengapa Para Pemimpin...
Mengapa Para Pemimpin Iran Masih Berbeda Pandangan terkait Selat Hormuz?
2 jam yang lalu
Siapa Hamad bin Khalifa...
Siapa Hamad bin Khalifa Al Thani? Pemimpin yang Meningkatkan PDB Qatar hingga 24 Kali Lipat
3 jam yang lalu
Hakim Perempuan Muslim...
Hakim Perempuan Muslim Ini Diancam Dibunuh setelah Menghukum Para Penjaga Sapi
6 jam yang lalu
Balas Dendam Itu Pasti...
Balas Dendam Itu Pasti Terjadi! Media Iran Rilis 13 Pejabat AS, Iran dan Eropa yang Jadi Target
7 jam yang lalu
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved