Dokumen Ungkap Trump Minta Jong-un Serahkan Nuklir Korut ke AS
Sabtu, 30 Maret 2019 - 07:05 WIB
Dokumen Ungkap Trump Minta Jong-un Serahkan Nuklir Korut ke AS
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan menuntut Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un untuk menyerahkan semua senjata nuklir dan bahan bakar bomnya ke AS. Itu terjadi saat KTT Hanoi bulan Februari lalu yang berujung pada tidak adanya kesepakatan.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (30/3/2019), permintaan itu dituliskan Trump dalam selembar kertas dalam versi bahasa Korea dan bahasa Inggris. Permintaan itu diberikan Trump di Hotel Metropole Hanoi pada 28 Februari. Ini pertama kalinya Trump sendiri secara eksplisit mendefinisikan apa yang ia maksudkan dengan denuklirisasi langsung kepada Jong-un, ungkap sumber yang mengetahui hal itu, meminta identitasnya dirahasiakan.
Selanjutnya yang terjadi adalah makan siang antara kedua pemimpin dibatalkan pada hari yang sama. Meskipun masing-masing pihak tidak memberikan penjelasan secara lengkap mengapa KTT itu berakhir dengan kebuntuan, dokumen itu tampaknya dapat membantu menjelaskannya.
Versi bahasa Inggris dari dokumen itu menyerukan pembongkaran sepenuhnya infrastruktur nuklir Korut, program perang kimia dan biologi serta terkait teknologi penggunaan ganda; dan rudal balistik, peluncur, dan fasilitas terkait.
Selain seruan untuk menyerahkan senjata nuklir dan bahan bakar bom Pyongyang, dokumen itu memiliki empat poin penting lainnya.
AS meminta Korut untuk memberikan deklarasi komprehensif tentang program nuklirnya dan akses penuh ke AS dan inspektur internasional; untuk menghentikan semua kegiatan terkait dan pembangunan fasilitas baru; untuk menghilangkan semua infrastruktur nuklir; dan untuk mengalihkan semua ilmuwan dan teknisi program nuklir ke kegiatan komersial.
Keberadaan dokumen ini sendiri pertama kali disebutkan oleh penasihat keamanan nasional Gedung Putih John Bolton, dalam sebuah wawancara televisi dua hari setelah pertemuan puncak di Hanoi.
Dalam sebuah wawancara dengan program "This Week" ABC setelah KTT Hanoi, Bolton mengatakan Korut telah berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi dalam berbagai bentuk setelah beberapa kali dilanggar.
"Kami mendefinisikan denuklirisasi sebagai pemusnahan program senjata nuklir, kemampuan pengayaan uranium, kemampuan pemrosesan ulang plutonium," kata Bolton.
Ditanya siapa yang menulis dokumen itu, Bolton mengatakan bahwa dokumen itu ditulis di tingkat staf dan dibersihkan seperti biasa.
Namun gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Bolton sendiri pada tahun 2004. Ia menghidupkannya kembali ketika Trump menunjuknya sebagai penasihat keamanan nasional.
Dokumen tersebut tampaknya mewakili denuklirisasi "model Libya" yang telah lama dipertahankan dan dengan keras ditolak oleh Korut berulang kali.
Denuklirisasi model Libya merujuk pada perjanjian denuklirisasi yang diteken mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi dengan AS. Menurut perjanjian itu, Libya mengirimkan komponen-komponen program nuklirnya ke AS pada 2004.
Tujuh tahun setelah perjanjian denuklirisasi itu, AS ambil bagian dalam operasi militer yang dipimpin NATO terhadap pemerintahnya dan ia digulingkan oleh pemberontak dan terbunuh.
Korut telah berulang kali menolak perlucutan senjata sepihak dan berpendapat bahwa program senjatanya diperlukan untuk pertahanan, sebuah keyakinan yang diperkuat oleh nasib Gaddafi dan lainnya.
Tahun lalu, pejabat Korut menyebut rencana Bolton tidak masuk akan dan mencatat nasib menyedihkan yang menimpa Gaddafi.
KTT di ibu kota Vietnam terhenti tak lama setelah Trump dan Jong-un gagal mencapai kesepakatan mengenai sejauh mana bantuan sanksi ekonomi bagi Korut sebagai imbalan atas langkah-langkahnya untuk menghentikan program nuklirnya.
Dikutip dari Reuters, Sabtu (30/3/2019), permintaan itu dituliskan Trump dalam selembar kertas dalam versi bahasa Korea dan bahasa Inggris. Permintaan itu diberikan Trump di Hotel Metropole Hanoi pada 28 Februari. Ini pertama kalinya Trump sendiri secara eksplisit mendefinisikan apa yang ia maksudkan dengan denuklirisasi langsung kepada Jong-un, ungkap sumber yang mengetahui hal itu, meminta identitasnya dirahasiakan.
Selanjutnya yang terjadi adalah makan siang antara kedua pemimpin dibatalkan pada hari yang sama. Meskipun masing-masing pihak tidak memberikan penjelasan secara lengkap mengapa KTT itu berakhir dengan kebuntuan, dokumen itu tampaknya dapat membantu menjelaskannya.
Versi bahasa Inggris dari dokumen itu menyerukan pembongkaran sepenuhnya infrastruktur nuklir Korut, program perang kimia dan biologi serta terkait teknologi penggunaan ganda; dan rudal balistik, peluncur, dan fasilitas terkait.
Selain seruan untuk menyerahkan senjata nuklir dan bahan bakar bom Pyongyang, dokumen itu memiliki empat poin penting lainnya.
AS meminta Korut untuk memberikan deklarasi komprehensif tentang program nuklirnya dan akses penuh ke AS dan inspektur internasional; untuk menghentikan semua kegiatan terkait dan pembangunan fasilitas baru; untuk menghilangkan semua infrastruktur nuklir; dan untuk mengalihkan semua ilmuwan dan teknisi program nuklir ke kegiatan komersial.
Keberadaan dokumen ini sendiri pertama kali disebutkan oleh penasihat keamanan nasional Gedung Putih John Bolton, dalam sebuah wawancara televisi dua hari setelah pertemuan puncak di Hanoi.
Dalam sebuah wawancara dengan program "This Week" ABC setelah KTT Hanoi, Bolton mengatakan Korut telah berkomitmen untuk melakukan denuklirisasi dalam berbagai bentuk setelah beberapa kali dilanggar.
"Kami mendefinisikan denuklirisasi sebagai pemusnahan program senjata nuklir, kemampuan pengayaan uranium, kemampuan pemrosesan ulang plutonium," kata Bolton.
Ditanya siapa yang menulis dokumen itu, Bolton mengatakan bahwa dokumen itu ditulis di tingkat staf dan dibersihkan seperti biasa.
Namun gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Bolton sendiri pada tahun 2004. Ia menghidupkannya kembali ketika Trump menunjuknya sebagai penasihat keamanan nasional.
Dokumen tersebut tampaknya mewakili denuklirisasi "model Libya" yang telah lama dipertahankan dan dengan keras ditolak oleh Korut berulang kali.
Denuklirisasi model Libya merujuk pada perjanjian denuklirisasi yang diteken mantan pemimpin Libya Muammar Gaddafi dengan AS. Menurut perjanjian itu, Libya mengirimkan komponen-komponen program nuklirnya ke AS pada 2004.
Tujuh tahun setelah perjanjian denuklirisasi itu, AS ambil bagian dalam operasi militer yang dipimpin NATO terhadap pemerintahnya dan ia digulingkan oleh pemberontak dan terbunuh.
Korut telah berulang kali menolak perlucutan senjata sepihak dan berpendapat bahwa program senjatanya diperlukan untuk pertahanan, sebuah keyakinan yang diperkuat oleh nasib Gaddafi dan lainnya.
Tahun lalu, pejabat Korut menyebut rencana Bolton tidak masuk akan dan mencatat nasib menyedihkan yang menimpa Gaddafi.
KTT di ibu kota Vietnam terhenti tak lama setelah Trump dan Jong-un gagal mencapai kesepakatan mengenai sejauh mana bantuan sanksi ekonomi bagi Korut sebagai imbalan atas langkah-langkahnya untuk menghentikan program nuklirnya.
(ian)