Korsel: Situs Peluncur Roket Korut Hampir Selesai
Sabtu, 30 Maret 2019 - 06:11 WIB
Korsel: Situs Peluncur Roket Korut Hampir Selesai
A
A
A
SEOUL - Korea Utara (Korut) hampir menyelesaikan pembangunan kembali situs peluncur roket jarak jauh yang telah dijanjikannya untuk ditutup. Informasi itu muncul sebulan setelah pertemuan puncak kedua antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un yang berakhir tanpa kesepakatan di Hanoi, Vietnam.
Tak lama setelah berakhirnya KTT di Hanoi, serangkaian gambar satelit muncul yang menunjukkan peningkatan aktivitas di situs roket mmilik Korut Sohae, memicu alarm internasional bahwa negara bersenjata nuklir itu mungkin sedang mempersiapkan peluncuran jarak jauh atau ruang angkasa.
"Korea Utara mulai membangun kembali pusat itu, yang sebagian dibongkar Juli lalu, sebelum KTT AS-Korut pada Februari," kata anggota parlemen Korea Selatan (Korsel) Kim Min-ki kepada wartawan setelah pengarahan tertutup oleh badan intelijen negara itu.
"Pekerjaannya hampir selesai dengan beberapa kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung," imbuhnya seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (30/3/2019).
Badan intelijen Korsel, Badan Intelijen Nasional (NIS), membenarkan pernyataan tersebut. Sebelumnya muncul laporan awal bulan ini bahwa Pyongyang sedang memulihkan lokasi peluncuran roket.
"Korea Utara memulai pekerjaan pembangunan kembali sebelum KTT Hanoi. Kami tidak dapat memverifikasi apa artinya itu," kata NIS seperti dikutip dari Daily Sabah.
Badan think tank berbasis di Washington, Beyond Parallel, mengklaim bahwa citra satelit komersial yang diperolehnya pada 2 Maret 2019, menunjukkan bahwa Korut mengejar pembangunan kembali dengan cepat situs roket jarak jauh di Sohae.
Pyongyang menghancurkan sebagian fasilitas peluncuran roketnya pada Juli 2018 setelah pemimpin Korut Kim Jong-un dilaporkan setuju untuk melakukan hal itu selama pembicaraan puncak Singapura dengan Presiden AS Donald Trump.
Pemulihan situs peluncuran roket itu dilakukan di tengah kehancuran KTT Hanoi antara Trump dan Kim karena kegagalan mereka untuk menjembatani perbedaan dalam lingkup denuklirisasi Pyongyang dan bantuan sanksi Washington.
"Korea Utara tampaknya menjaga fasilitas pengayaan uraniumnya di kompleks nuklir andalannya di Yongbyon, utara Pyongyang, dalam operasi normal," kata NIS.
Badan itu juga mengatakan memiliki identitas sejumlah warga negara Korsel yang mengambil bagian dalam penyerangan kedutaan Korut di Spanyol bulan lalu.
Kelompok buronan Korut yang mengidentifikasi dirinya sebagai "Free Joseon" melarikan diri dari tempat itu dengan komputer dan dokumen.
Tak lama setelah berakhirnya KTT di Hanoi, serangkaian gambar satelit muncul yang menunjukkan peningkatan aktivitas di situs roket mmilik Korut Sohae, memicu alarm internasional bahwa negara bersenjata nuklir itu mungkin sedang mempersiapkan peluncuran jarak jauh atau ruang angkasa.
"Korea Utara mulai membangun kembali pusat itu, yang sebagian dibongkar Juli lalu, sebelum KTT AS-Korut pada Februari," kata anggota parlemen Korea Selatan (Korsel) Kim Min-ki kepada wartawan setelah pengarahan tertutup oleh badan intelijen negara itu.
"Pekerjaannya hampir selesai dengan beberapa kegiatan pemeliharaan sedang berlangsung," imbuhnya seperti dikutip dari CBS News, Sabtu (30/3/2019).
Badan intelijen Korsel, Badan Intelijen Nasional (NIS), membenarkan pernyataan tersebut. Sebelumnya muncul laporan awal bulan ini bahwa Pyongyang sedang memulihkan lokasi peluncuran roket.
"Korea Utara memulai pekerjaan pembangunan kembali sebelum KTT Hanoi. Kami tidak dapat memverifikasi apa artinya itu," kata NIS seperti dikutip dari Daily Sabah.
Badan think tank berbasis di Washington, Beyond Parallel, mengklaim bahwa citra satelit komersial yang diperolehnya pada 2 Maret 2019, menunjukkan bahwa Korut mengejar pembangunan kembali dengan cepat situs roket jarak jauh di Sohae.
Pyongyang menghancurkan sebagian fasilitas peluncuran roketnya pada Juli 2018 setelah pemimpin Korut Kim Jong-un dilaporkan setuju untuk melakukan hal itu selama pembicaraan puncak Singapura dengan Presiden AS Donald Trump.
Pemulihan situs peluncuran roket itu dilakukan di tengah kehancuran KTT Hanoi antara Trump dan Kim karena kegagalan mereka untuk menjembatani perbedaan dalam lingkup denuklirisasi Pyongyang dan bantuan sanksi Washington.
"Korea Utara tampaknya menjaga fasilitas pengayaan uraniumnya di kompleks nuklir andalannya di Yongbyon, utara Pyongyang, dalam operasi normal," kata NIS.
Badan itu juga mengatakan memiliki identitas sejumlah warga negara Korsel yang mengambil bagian dalam penyerangan kedutaan Korut di Spanyol bulan lalu.
Kelompok buronan Korut yang mengidentifikasi dirinya sebagai "Free Joseon" melarikan diri dari tempat itu dengan komputer dan dokumen.
(ian)