62 Tewas dalam Ledakan Pabrik Kimia, Jinping Perintahkan Penyelidikan

Sabtu, 23 Maret 2019 - 15:56 WIB
62 Tewas dalam Ledakan...
62 Tewas dalam Ledakan Pabrik Kimia, Jinping Perintahkan Penyelidikan
A A A
YANCHENG - Media pemerintah China mengatakan sebuah ledakan di sebuah pabrik pestisida di wilayah timur negara itu telah menewaskan 64 orang. Selain itu, 34 orang dilaporkan mengalami luka kritis dan 28 lainnya hilang yang merupakan korban terakhir dalam serangkaian kecelakaan industri yang memicu kemarahan publik.

Televici pemerintah China melaporkan ledakan itu terjadi pada hari Kamis di Taman Industri Chenjiagang di kota Yancheng, di provinsi Jiangsu, dan api akhirnya dikendalikan pada pukul 3 sore waktu setempat pada Jumat.

Baca juga: Ledakan Dahsyat Hantam Zona Industri di China Timur, 44 Tewas

Media pemerintah sebelumnya melaporkan korban dibawa ke 16 rumah sakit dengan 640 orang dirawat karena cedera.

Api di pabrik milik Perusahaan Kimia Tianjiayi menyebar ke pabrik-pabrik terdekat. Anak-anak di taman kanak-kanak terdekat juga terluka akibat kebakaran tersebut.

Penyebab ledakan sedang diselidiki, tetapi perusahaan tersebut di masa lalu sempat didenda karena pelanggaran keselamatan kerja seperti dilaporkan oleh China Daily. Perusahaan tersebut memproduksi lebih dari 30 senyawa kimia organik, beberapa diantaranya sangat mudah terbakar.

Polisi, beberapa mengenakan masker wajah, menutup jalan menuju pabrik. Ledakan itu menghancurkan jendela-jendela di desa Wangshang yang jauhnya dua kilometer dan penduduk desa yang terkejut menyamakannya dengan gempa bumi.

"Ada satu ledakan keras diikuti oleh gemuruh panjang," ujar seorang warga dengan nama keluarga Wang.

“Semua jendela hancur. Saya pergi untuk melihatnya. Di dekat situs itu ada darah di mana-mana. Orang-orang hancur,” imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (23/3/2019).

Desa itu berada di samping sebuah kolam berlumpur dan dibangun pada 2013 untuk orang-orang yang terlantar akibat pembangunan taman industri tempat ledakan terjadi. Puluhan penduduk Wangshang bekerja di taman industri itu, dan banyak yang belum pulang.

Banyak bangunan jendelanya hancur dan mengalami kerusakan struktural, tetapi penduduk desa belum dievakuasi. Berbeda dengan polisi di lokasi, penduduk desa tidak ada yang mengenakan masker dan tidak disarankan.

Televisi pemerintah melaporkan bahwa Presiden Xi Jinping, yang berada di Italia dalam kunjungan kenegaraan, memerintahkan upaya dengan seluruh tenaga untuk merawat yang terluka dan dengan sungguh-sungguh menjaga stabilitas sosial.

Jinping juga meminta pihak berwenang harus meningkatkan tindakan untuk mencegah insiden seperti itu dan menentukan penyebab ledakan secepat mungkin.

"Baru-baru ini telah terjadi serangkaian kecelakaan besar, dan semua tempat dan departemen terkait harus sepenuhnya mempelajari pelajaran dari ini," bunyi laporan itu mengutip Xi Jinping.

Biro perlindungan lingkungan Jiangsu mengatakan pada Jumat malam tim dari 126 inspektur menemukan berbagai tingkat kontaminasi dalam sampel air lokal, dengan konsentrasi nitrobenzene yang melebihi standar di satu lokasi. Beberapa pengukuran kimia organik yang mudah menguap jauh melebihi standar permukaan air - 15 kali lipat dalam satu kasus.

Konsentrasi aseton dan kloroform di luar zona ledakan juga dalam batas normal, tambahnya.

Jiangsu akan melakukan inspeksi produsen dan gudang bahan kimia, sebuah pemberitahuan darurat mengatakan pada hari Jumat.

Pemberitahuan itu, yang dipublikasikan di situs web berita Partai Komunis provinsi itu, mengatakan pemerintah akan menutup perusahaan-perusahaan kimia yang ternyata tidak mematuhi peraturan tentang bahan kimia berbahaya.

Kemarahan publik atas standar keselamatan telah meningkat di China atas kecelakaan industri, mulai dari bencana pertambangan hingga kebakaran pabrik, yang telah menodai pertumbuhan ekonomi yang cepat selama tiga dekade.

Pada 2015, 165 orang tewas dalam ledakan di gudang bahan kimia di kota utara Tianjin, salah satu pelabuhan tersibuk di dunia, yang tidak jauh dari Ibu Kota, Beijing.

Ledakan itu cukup besar untuk dilihat oleh satelit dan tercatat pada sensor gempa.

Meskipun berkali-kali pemerintah China berjanji untuk memperketat aturan keselamatan kerja, bencana telah menghantam pabrik kimia khususnya, dengan 23 orang tewas pada November dalam serangkaian ledakan selama pengiriman gas yang mudah terbakar di pembuat bahan kimia.
(poe)
Berita Terkait
Heboh! China Simulasikan...
Heboh! China Simulasikan Penyerangan ke Taiwan Lewat Medsos
Petugas Nakes di China...
Petugas Nakes di China Dilempari Warga
88 WNA China Sindikat...
88 WNA China Sindikat Server Judi dan Pemerasan Online Ditangkap di Batam
Panggung Spektakuler...
Panggung Spektakuler Perayaan 100 Tahun Partai Komunis China
Tsai Tsung-lin Keliling...
Tsai Tsung-lin Keliling Taiwan Serukan Pesan Siap Perang !
Ribuan Penumpang Padati...
Ribuan Penumpang Padati Stasiun Kereta Hongqiao China pada Perayaan Chunyun
Berita Terkini
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
28 menit yang lalu
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
2 jam yang lalu
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
3 jam yang lalu
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
3 jam yang lalu
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
4 jam yang lalu
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
4 jam yang lalu
Infografis
11 Perang Terlama dalam...
11 Perang Terlama dalam Sejarah Manusia, Ada yang hingga 781 Tahun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved