Bocah Migran Meninggal di Penjara, Trump Salahkan Demokrat

Minggu, 30 Desember 2018 - 09:48 WIB
Bocah Migran Meninggal...
Bocah Migran Meninggal di Penjara, Trump Salahkan Demokrat
A A A
WASHINGTON - Dua anak migran meninggal di tahanan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir. Terkait hal itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kematian anak-anak migran di perbatasan adalah sepenuhnya kesalahan Demokrat.

"Setiap kematian anak-anak atau orang lain di Perbatasan sepenuhnya merupakan kesalahan Demokrat dan kebijakan imigrasi mereka yang menyedihkan yang memungkinkan orang untuk melakukan perjalanan panjang dengan berpikir bahwa mereka dapat memasuki negara kita secara ilegal," tulis Trump di Twitter.

"Mereka tidak bisa. Jika kita memiliki tembok, mereka bahkan tidak akan mencoba!" imbuhnya seperti dikutip dari CNN, Minggu (30/12/2018).

Kicauan Trump datang ketika Demokrat dan Republik mencari solusi untuk mengakhiri penutupan sebagian pemerintah yang sekarang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun baru. Kedua belah pihak tampaknya berada di jalan buntu atas permintaan Trump untuk memasukkan dana guna pembangunan dinding perbatasan dalam undang-undang.

Awal bulan ini, seorang anak perempuan berusia 7 tahun dari Guatemala meninggal setelah dia mulai muntah-muntah dan berhenti bernapas saat berada dalam tahanan Patroli Perbatasan. Gadis itu, Jakelin Caal Maquin, kemudian mengalami serangan jantung dan menderita pembengkakan otak di rumah sakit Texas.

Baca: Tragis, Bocah Migran Meninggal di Tahanan Patroli Perbatasan AS

Menyusul kemudian seorang bocah lelaki berusia 8 tahun dari Guatemala meninggal pada malam Natal di Pusat Medis Regional Gerald Champion di Alamogordo, New Mexico, sekitar 90 kilometer di utara perbatasan yang melintasi perbatasan di El Paso, Texas.

Bocah yang diidentifikasi sebagai Felipe Gomez Alonzo dibawa ke rumah sakit pada hari Senin setelah agen perbatasan melihat tanda-tanda penyakit. Menurut rilis berita CBP, anak itu ditahan selama 90 menit tambahan untuk observasi dan kemudian dibebaskan dari rumah sakit pada sore hari 24 Desember dengan resep amoksisilin dan Ibuprofen.

Kemudian pada hari itu, bocah itu mulai muntah dan dibawa kembali ke rumah sakit untuk dievaluasi. Dia meninggal beberapa jam kemudian, kata CBP.

Baca: Lagi, Bocah Migran Asal Guatemala Meninggal di Tahanan AS

Trump mengatakan di Twitter bahwa kedua anak yang meninggal dalam kondisi sangat sakit sebelum mereka diberikan kepada Patroli Perbatasan.

"Ayah gadis muda itu mengatakan itu bukan kesalahan mereka, dia belum memberinya air dalam beberapa hari," lanjut Trump.

"Patroli Perbatasan membutuhkan tembok dan semuanya akan berakhir. Mereka bekerja sangat keras & mendapatkan kredit yang sangat sedikit!" imbuhnya.

Dalam tweetnya Trump mengatakan mereka telah mengambil jalan yang sulit untuk mendapatkan persetujuan untuk membangun tembok perbatasan.

"Bagi mereka yang dengan naif bertanya mengapa Partai Republik tidak mendapatkan persetujuan untuk membangun Tembok selama setahun terakhir, itu karena di Senat kita membutuhkan 10 suara Demokrat, dan mereka akan memberi kita 'nol' untuk keamanan perbatasan! Sekarang kita punya untuk melakukannya dengan cara yang sulit, dengan Shutdown. Sayang sekali! @FoxNews," tweetnya.

Namun, pengacara ayah gadis itu mengklarifikasi laporan yang dikaitkan dengan Homeland Security yang mengatakan bahwa Jakelin tidak makan atau memiliki air selama beberapa hari saat melintasi padang pasir sebelum patroli perbatasan membawanya ke tahanan.

"Ayah Jakelin merawat Jakelin - memastikan dia diberi makan dan memiliki cukup air," kata pernyataan itu.

"Dia tidak menderita kekurangan air atau makanan sebelum mendekati perbatasan," sambungnya.

Menyusul kematian bocah lelaki itu, CBP mengumumkan bahwa mereka akan menerapkan tindakan pencegahan tambahan, termasuk pemeriksaan medis sekunder pada semua anak dalam perawatan dan penahanan CBP dengan fokus khusus pada anak di bawah 10, di antara langkah-langkah lainnya.
(ian)
Berita Terkait
DPR Amerika Serikat...
DPR Amerika Serikat Kembali Makzulkan Presiden Donald Trump
Donald Trump Kampanye...
Donald Trump Kampanye Pilpres Tanpa Kenakan Masker
Amerika Serikat Darurat...
Amerika Serikat Darurat Ekonomi, Berdampak ke Indonesia?
Pendukung Donald Trump...
Pendukung Donald Trump Kembali Berunjuk Rasa di Arizona
Donald Trump Tinggalkan...
Donald Trump Tinggalkan Gedung Putih
Tak Jadi Ditahan, Usai...
Tak Jadi Ditahan, Usai Diperiksa Donal Trump Kembali ke Florida
Berita Terkini
AS Berambisi Caplok...
AS Berambisi Caplok 3 Pulau Terluar Iran, Bunuh Diri atau Raih Kemenangan Taktis?
59 menit yang lalu
Wakil PM Italia Sebut...
Wakil PM Italia Sebut Rusia Bukan Ancaman Utama bagi Eropa, tapi Siapa?
1 jam yang lalu
10 Negara Eropa Ini...
10 Negara Eropa Ini Bersatu Bangun Perisai Rudal Balistik, Apakah Efekif Hadapi Misil Rusia?
3 jam yang lalu
Deretan 25 Pemimpin...
Deretan 25 Pemimpin Dunia yang Sampaikan Belasungkawa atas Kematian Sheikh Hamad
5 jam yang lalu
Mantan PM Yordania Sebut...
Mantan PM Yordania Sebut Perang Iran dan AS Tak Ada Gunanya
5 jam yang lalu
Kirim Video ke Agen...
Kirim Video ke Agen Intelijen Iran, Tentara Israel Ini Dipenjara selama 5 Tahun
8 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved