AS Dituding Ingin Dapatkan Data Rahasia Rudal Rusia
Selasa, 27 November 2018 - 16:18 WIB
AS Dituding Ingin Dapatkan Data Rahasia Rudal Rusia
A
A
A
MOSKOW - Amerika Serikat (AS) dituding ingin mendapatkan data rahasia mengenai proyek rudal yang dikembangkan Rusia. Karena itu, Washington membuat tuduhan bahwa Moskow telah melanggar Traktat Kekuatan Nuklir Jarak Menengah (INF).
Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Luar Neger Rusia Sergei Ryabkov. Dikatakan Ryabkov, akibat tuduhan itu, Moskow menerima beberapa daftar pertanyaan dari Washington.
"Subjek dari banyak pertanyaan oleh Amerika jauh melebihi kewajiban Rusia sebagai bagian dari perjanjian, dan dianggap dengan benar oleh kami sebagai upaya untuk 'memindai' perkembangan rudal terbaru kami," katanya dalam konferensi di Moskow.
AS bahkan menekan Rusia untuk mengungkapkan tanggal di mana tes-tes kelas tertentu dari rudal dilakukan, sehingga Washington dapat menentukan sendiri peluncuran yang dipertanyakan.
"Dengan kata lain, untuk waktu yang lama kami diminta untuk 'menyelesaikan teka-teki' dari berbagai elemen yang tersebar dan kemudian menamai rudal itu, yang diyakini AS tidak sesuai dengan Perjanjian INF," imbuhnya seperti dikutip dari RT, Selasa (27/11/2018).
Ryabkov mengatakan bahwa pendekatan semacam itu membuat Rusia mengakui pelanggaran, yang tidak dilakukannya. Moskow tidak punya pilihan lain selain menolak upaya yang dianggap begitu mengganggu.
"Pada saat yang sama, Amerika belum menyajikan bukti nyata yang mengkonfirmasikan pelanggaran kami terhadap Perjanjian INF,” cetus Ryabkov.
Ia pun menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki amunisi yang melanggar Perjanjian INF. Rudal 9М729, yang menjadi perhatian dari Washington, tidak dikembangkan atau diuji untuk mencapai jarak yang dilarang oleh perjanjian itu.
Diplomat Rusia itu mengungkapkan meskipun AS jelas keluar dari garis, Moskow masih menunjukkan beberapa transparansi dalam semangat niat baik, tetapi ini tidak mengubah sikap Amerika dengan cara apapun.
"Mereka telah memutuskan segalanya untuk diri mereka sendiri sejak lama, satu-satunya hal yang mereka inginkan dari Rusia adalah pengakuan dari kesalahannya," tambahnya.
Pada akhir Oktober, Donald Trump memperingatkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan penarikan sepihak dari Perjanjian INF karena Rusia belum menaati perjanjian, baik dalam bentuk maupun semangat. Namun, pengumuman tersebut belum diikuti oleh langkah konkrit apa pun.
Baca: Trump Konfirmasi AS Keluar dari Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia
Pemimpin AS juga berjanji bahwa negaranya akan terus meningkatkan persenjataan nuklirnya sampai Rusia dan China "sadar."
"Kita tidak dapat mengecualikan keruntuhan seluruh sistem pengendalian senjata, yang butuh waktu puluhan tahun untuk membangun," Ryabkov memperingatkan tindakan yang dipilih oleh pemerintah AS.
Namun, ia menegaskan bahwa doktrin nuklir Rusia tetap tidak berubah dan murni bersifat defensif. Hanya ada dua "skenario hipotetis" di mana senjata nuklir dapat digunakan oleh Rusia, jelasnya.
“Yang pertama adalah penggunaan senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya terhadap Rusia. Yang kedua adalah tindakan agresi terhadap Rusia dengan menggunakan senjata konvensional dalam skala sedemikian besar sehingga keberadaan negara kita terancam,” tegas Ryabkov.
Ryabkov mengatakan situasi seputar Perjanjian INF akan dibahas oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump ketika mereka bertemu di sela-sela KTT G20 mendatang di Argentina.
Hal itu diungkapkan Wakil Menteri Luar Neger Rusia Sergei Ryabkov. Dikatakan Ryabkov, akibat tuduhan itu, Moskow menerima beberapa daftar pertanyaan dari Washington.
"Subjek dari banyak pertanyaan oleh Amerika jauh melebihi kewajiban Rusia sebagai bagian dari perjanjian, dan dianggap dengan benar oleh kami sebagai upaya untuk 'memindai' perkembangan rudal terbaru kami," katanya dalam konferensi di Moskow.
AS bahkan menekan Rusia untuk mengungkapkan tanggal di mana tes-tes kelas tertentu dari rudal dilakukan, sehingga Washington dapat menentukan sendiri peluncuran yang dipertanyakan.
"Dengan kata lain, untuk waktu yang lama kami diminta untuk 'menyelesaikan teka-teki' dari berbagai elemen yang tersebar dan kemudian menamai rudal itu, yang diyakini AS tidak sesuai dengan Perjanjian INF," imbuhnya seperti dikutip dari RT, Selasa (27/11/2018).
Ryabkov mengatakan bahwa pendekatan semacam itu membuat Rusia mengakui pelanggaran, yang tidak dilakukannya. Moskow tidak punya pilihan lain selain menolak upaya yang dianggap begitu mengganggu.
"Pada saat yang sama, Amerika belum menyajikan bukti nyata yang mengkonfirmasikan pelanggaran kami terhadap Perjanjian INF,” cetus Ryabkov.
Ia pun menegaskan bahwa Rusia tidak memiliki amunisi yang melanggar Perjanjian INF. Rudal 9М729, yang menjadi perhatian dari Washington, tidak dikembangkan atau diuji untuk mencapai jarak yang dilarang oleh perjanjian itu.
Diplomat Rusia itu mengungkapkan meskipun AS jelas keluar dari garis, Moskow masih menunjukkan beberapa transparansi dalam semangat niat baik, tetapi ini tidak mengubah sikap Amerika dengan cara apapun.
"Mereka telah memutuskan segalanya untuk diri mereka sendiri sejak lama, satu-satunya hal yang mereka inginkan dari Rusia adalah pengakuan dari kesalahannya," tambahnya.
Pada akhir Oktober, Donald Trump memperingatkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan penarikan sepihak dari Perjanjian INF karena Rusia belum menaati perjanjian, baik dalam bentuk maupun semangat. Namun, pengumuman tersebut belum diikuti oleh langkah konkrit apa pun.
Baca: Trump Konfirmasi AS Keluar dari Perjanjian Senjata Nuklir dengan Rusia
Pemimpin AS juga berjanji bahwa negaranya akan terus meningkatkan persenjataan nuklirnya sampai Rusia dan China "sadar."
"Kita tidak dapat mengecualikan keruntuhan seluruh sistem pengendalian senjata, yang butuh waktu puluhan tahun untuk membangun," Ryabkov memperingatkan tindakan yang dipilih oleh pemerintah AS.
Namun, ia menegaskan bahwa doktrin nuklir Rusia tetap tidak berubah dan murni bersifat defensif. Hanya ada dua "skenario hipotetis" di mana senjata nuklir dapat digunakan oleh Rusia, jelasnya.
“Yang pertama adalah penggunaan senjata nuklir atau jenis senjata pemusnah massal lainnya terhadap Rusia. Yang kedua adalah tindakan agresi terhadap Rusia dengan menggunakan senjata konvensional dalam skala sedemikian besar sehingga keberadaan negara kita terancam,” tegas Ryabkov.
Ryabkov mengatakan situasi seputar Perjanjian INF akan dibahas oleh Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump ketika mereka bertemu di sela-sela KTT G20 mendatang di Argentina.
(ian)