Para Ilmuwan AS Terkejut dengan Kekuatan Tsunami Palu

Senin, 01 Oktober 2018 - 09:35 WIB
Para Ilmuwan AS Terkejut dengan Kekuatan Tsunami Palu
Para Ilmuwan AS Terkejut dengan Kekuatan Tsunami Palu
A A A
WASHINGTON - Para ilmuwan di Amerika Serikat merasa terkejut dengan kekuatan tsunami yang menghancurkan kota Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Indonesia pada hari Jumat lalu. Tsunami hingga tiga meter menerjang setelah terjadi gempa 7,5 skala richter (SR).

Selain Palu, musibah itu juga melanda Donggala, salah satu kabupaten di Sulteng. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan korban tewas di dua wilayah itu sudah mencapai 832 orang.

Versi laporan The New York Times, Senin (1/10/2018), tinggi gelombang tsunami di Palu mencapai 18 kaki atau 5,4 meter.

"Kami berekspektasi ini bisa menyebabkan tsunami, tidak hanya sebesar itu," kata Jason Patton, seorang ahli geofisika yang bekerja di perusahaan konsultan Temblor, dan mengajar di Humboldt State University di California.

"Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kami lebih mungkin menemukan hal-hal yang belum pernah kami amati sebelumnya," ujarnya yang terkejut dengan kekuatan gelombang tsunami di Palu.

Selain menewaskan ratusan orang, gempa dan tsunami di Sulteng telah menghancurkan banyak bangunan, kendaraan dan berbagai infrastruktur.

Tsunami dahsyat pernah melanda Indonesia dan sekitarnya tahun 2004. Saat itu gelombang tsunami mencapai sekitar 100 kaki dan menewaskan hampir seperempat juta orang dari Indonesia hingga Afrika Selatan. Tsunami dahsyat ini dihasilkan dari gempa berkekuatan 9,1 SR di Sumtera.

Namun, para ilmuwan terkejut dengan kejadian di Sulteng. Menurut mereka, kejadian di wilayah itu adalah strike-slip, di mana gerakan bumi sebagian besar horizontal. Gerakan semacam itu biasanya tidak akan menciptakan tsunami.

Kendati demikian, menurut Patton, dalam kondisi tertentu hal itu bisa menciptakan tsunami dan benar-benar terjadi di Palu dan Donggala.

Kemungkinan lain, menurut ilmuwan tersebut, adalah bahwa tsunami di Sulteng diciptakan secara tidak langsung. Guncangan keras selama gempa mungkin telah menyebabkan longsor bawah laut dan menciptakan gelombang. Kejadian seperti itu tidak biasa; dan beberapa di antaranya pernah terjadi pada gempa berkekuatan 9,64 SR di Alaska tahun 1964.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1186 seconds (10.101#12.26)